Horizzon
Jika Pandemi Itu Nyata, Maka Cuti Bersama Akhir Tahun Harus Batal
Vaksin belum ditemukan, situasi covid masih sama-sama belum terkendali, jumlah kasus dan jumlah kematian akibat pandemi meningkat 14 persen.
MASJID Haji Bakrie, di Kota Pangkalpinang ikut menjadi saksi bagaimana Idulfitri 1441 H yang jatuh pada 24 Mei 2020 lalu adalah Idulfitri yang paling mengaduk-aduk emosi umat Islam. Setidaknya itulah yang dirasakan salah satu jemaah salat Id di masjid tersebut.
Usai salat, Ia tiba-tiba tak kuasa menahan bulir bening dari matanya lantaran rasa sakit teramat dalam, jauh di dalam dadanya. Batal melangkah meninggalkan masjid, ia pun memilih duduk bersila di serambi masjid.
Dalam posisi duduk, tangannya menengadah ke atas namun kepalanya tertunduk ke bawah. Ia seperti sengaja membiarkan energi besar dari dalam dadanya terpompa keluar melalui isak demi isak yang ia lepaskan.
Sebelumnya, ia tak ubahnya jamaah lain yang terbuai suasana merayakan kemenangan lantaran puasanya bulat sebulan melalui pekik takbir.
Usai salat Id, ia juga tampak masih khusyuk menyimak bait demi bait kata bijak Sang Khatib sebagai penutup rangkaian salat Idulfitri kala itu.
Tangisnya justru pecah ketika ia mulai melangkah meninggalkan masjid bersama dengan jamaah lainnya. Ia baru tersentak sadar bahwa ia berbeda dengan jamaah lainnya. Ketika orang bergegas meninggakan masjid untuk berkumpul dengan keluarga, tidak demikian dengan dirinya.
Ia berada jauh di negeri orang, sementara keluarga tercintanya berada nun jauh di seberang. Ia sadar, sendirian merayakan hari kemenangan kala itu.
Tangan lembut ibunya yang mulai renta yang selalu ia raih pertama untuk ia ciumi bertubi-tubi usai salat Id tak mungkin ia jangkau. Kehangatan air mata wanita yang melahirkan dirinya, yang selalu meleleh kala ia bermanja sejenak usai bersimpuh dalam pengakuan dosa di pangkuan ibunya tak bakal ia rasakan di Lebaran paling suram itu.
Ia juga merasakan tangannya bergetar, sebab ia sadar tak ada anak-anak lucu sekaligus istri tercinta yang bakal berebut mencium tangan tersebut.
Konon lantaran alasan pandemi, ia terpisah jarak dan waktu dengan semua keluarganya. Ia tahu betul, suasana serupa dirasakan tak jauh berbeda dengan anak dan istrinya.
Pandemi telah memaksa kita semua berada pada peradaban yang sama sekali tak pernah ada di benak kita.
Konon, lantaran alasan mencegah penularan penyakit super berbahaya, regulasi membatasi orang untuk pulang kampung, sebuah tradisi yang bagi sebagian kalangan, substansinya tidak sesederhana narasi yang disampaikan pemerintah.
Demi alasan itulah, pemerintah juga menutup seluruh penerbangan domestik, meski kita tahu orang-orang tertentu masih bisa merasakan bagaimana berlebaran bersama keluarga di rumah.
Tidak hanya itu, konon lantaran jenis penyakit ini masjid-masjid ditutup. Edaran resmi dari pemerintah untuk penutupan masjid ini bahkan sampai sekarang belum dicabut.
Jika saat ini masjid sudah kembali makmur seperti semula, itu tak lebih lantaran panggilan umat untuk `berdialog' dengan Sang Khalik jauh lebih menenangkan di antara ketakutan-ketakutan yang terus dihembuskan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/ibnu-taufik-jr.jpg)