CORONA (Bukan) Kiamat
Selalu sehat itu pasti, kan ada protokol kesehatan. Kita patuhi itu, mencuci tangan, menjaga jarak hingga memakai masker
Penulis: Edy Yusmanto |
Berbagai usaha pemasaran dicoba.
Mulai dari berselancar di dunia maya hingga mendatangi langsung pelanggan sebagai bentuk pelayanan.
Ternyata cara ini cukup efektif paling tidak menjaga stabilitas pendapatan minimal tidak turun jauh pendapatan.
"Kami sebar nomor telepon warung, main di media sosial. Kami juga melayani permintaan antar pesanan, tentunya dengan jarak yang masih terjangkau. Syukurlah, masih bisa bertahan sampai saat ini," papar Doni.
Corona memang memberikan dampak luar biasa pada banyak sektor kehidupan.
Meski demikian Doni tidak mau larut dalam ketakutan akan virus yang telah menelan satu juta jiwa lebih ini.
Kampanye protokol kesehatan yang digaungkan pemerintah diterapkan dalam keseharian Doni.
"Corona bukan kiamat. Selalu sehat itu pasti, kan ada protokol kesehatan. Kita patuhi itu, mencuci tangan, menjaga jarak hingga memakai masker. Itu kami terapkan di warung. Sampai-sampai, kalau ada karyawan yang tidak pakai masker langsung saya tegur," jelas Doni.
Protokol kesehatan itu dianggap Doni jadi awal yang mestinya diikuti semua orang.
Menjalankan itu berarti menjadi orang-orang yang tidak hanya menyelamatkan diri sendiri melainkan orang lain termasuk orang-orang tercinta di sekitar.
"Di depan warung saya taruh handsanitizer. Di rumah juga saya pakai terus, itu penting. Semoga dunia corona ini segera berlalu dan semua kembali seperti semula," harap Doni.
Hal serupa juga dirasakan Sundari MIrzani.
Pemilik usaha empek-empek udang Ak Sun ini mengaku sempat vakum di awal corona menyebar.
Usahanya sempat terseok-seok bahkan nyaris tutup total.
Untungnya, masih ada pelanggan-pelanggan tetap yang turut membantu mempromosikan produk ini.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/masker-dan-dunia123.jpg)