Horizzon

'Menular' Lewat Thermo Gun

Publik memahami dan tidak keberatan saat mereka sesekali harus ditodong dengan thermo gun setiap akan beraktivitas di suatu tempat.

Editor: suhendri
Bangka Pos
IBNU TAUFIK Jr / Pemred BANGKA POS GROUP 

PENERBANGAN IN-078 dari Jakarta ke Pangkalpinang Minggu (29/11/2020) mengalami keterlambatan. Pesawat milik Maskapai NAM AIR yang seharusnya take off pukul 15.40 dan dijadwalkan landing di Depati Amir Pangkalpinang sekitar pukul 16.30 tersebut baru lepas landas dari Soekarno Hatta pukul 18.23.

Namun bukan keterlambatan itu yang menarik dari penerbangan ini, prosedur pencegahan Covid-19 yang dilakukan kru kabin justru lebih menarik untuk disimak. Setidaknya, prosedur ini tak banyak dijumpai di maskapai lainnya.

https://bangka.tribunnews.com/2020/11/01/jika-pandemi-itu-nyata-maka-cuti-bersama-akhir-tahun-harus-batal

Mengudara sekitar 20 menit, kru kabin menyapa satu persatu penumpang dengan ramah. Sejurus kemudian, pramugari tersebut langsung mengarahkan thermo gun ke setiap penumpang yang dihampirinya.

Dengan ramah, pramugari juga menyampaikan hasil pindai suhu tubuh kepada penumpang yang bersangkutan. Dan hasilnya, tidak ada satu pun penumpang yang suhu tubuhnya terdeteksi di atas 37,3 derajat Celsius. Artinya, penerbangan tersebut aman dari kemungkinan ada penumpang yang mengalami demam.

Pemindaian suhu tubuh terhadap penumpang di kabin pesawat ini melengkapi serangkaian pemindaian suhu tubuh yang dilakukan sejak mulai masuk ke bandara. Dan selain di pesawat maupun bandara, pindai memindai suhu tubuh ini menjadi peristiwa yang lazim di era pandemi Covid-19 kali ini. Bagi kita yang sudah aktif bekerja, setidaknya sekali dalam sehari suhu tubuh kita dipindai saat akan masuk ke tempat kerja.

Sementara bagi orang yang pekerjaannya bersifat mobile, barangkali mereka harus berulang kali dipindai suhu tubuhnya. Pernahkah kita berhitung, berapa kali suhu tubuh kita dipindai dengan menggunakan thermo gun?

Tak hanya saat bekerja, saat kita datang ke pusat perbelanjaan, kita juga akan berulang kali dicek berapa suhu tubuh kita. Mulai dari masuk ke pusat perbelanjaan, kita sudah ditodong dengan thermo gun, selanjutnya setiap kali mau masuk ke gerai tertentu, suhu tubuh kita kembali dipindai dengan alat yang belakangan menjadi sangat ngetren ini.

Positifnya, tanpa kita sadari kita akan tahu betul kondisi tubuh kita. Setiap saat, jika tubuh kita menunjukkan gejala demam dengan indikator suhu di atas ambang normal yaitu 37,3, maka kita akan tahu lebih awal.

Dan inilah habit baru yang sadar atau tidak menjadi pola baru dari peradaban kita. Ini semua semata-mata dilakukan untuk pencegahan terhadap apa yang dinamakan dengan pandemi Covid-19 yang menjadi momok di seluruh dunia.

Lantaran menjadi barang yang wajib, di awal pandemi harga thermo gun ini sempat melangit karena semua orang ingin membeli. Alat yang saat normal bisa diperoleh di kisaran Rp200 ribu ini pernah meroket harganya hingga di atas Rp 1 juta. Syukurlah, sekarang harganya sudah kembali normal.

Publik memahami dan tidak keberatan saat mereka sesekali harus ditodong dengan thermo gun setiap akan beraktivitas di suatu tempat. Kita semua berpikir, upaya tersebut dilakukan untuk kebaikan bersama guna pencegahan penularan Covid-19.

Namun di balik upaya tersebut, sesungguhnya secara tidak langsung ada potensi penularan virus Covid-19 akibat kita semua mengandalkan penggunaan thermo gun ini. Penggunaan thermo gun ini berpotensi membuat setiap orang abai dengan protokol kesehatan yang lain karena menganggap orang yang ada di sekitarnya, termasuk dirinya aman dari paparan Covid-19.

Contoh sederhana ketika kita berada dalam satu pesawat, atau kereta, atau rumah makan atau tempat apa pun yang di pintu masuk dilakukan pemindaian suhu tubuh, maka kita akan merasa tenang bahwa di sekitar kita, termasuk kita adalah orang yang terbebas dari paparan virus.

Rasa aman inilah yang justru bisa menjadi bumerang, sebab data empiris menunjukkan bahwa 90 persen orang yang terpapar virus tidak memiliki gejala apa pun. Mereka yang terpapar virus asal Wuhan ini sama sekali tidak menunjukkan gejala batuk dan suhu tubuhnya juga biasa-biasa saja alias tidak demam.

Kementerian Kesehatan RI bahkan menyebutkan bahwa berdasarkan hasil pemeriksaan menggunakan polymerase chain reaction (PCR), 80 persen positif Covid-19 tidak memiliki gejala apa pun alias orang tanpa gejala (OTG). Sementara, 20 persen lainnya hanya memiliki gejala ringan atau sedang.

Kemenkes mengakui, tingginya persentase OTG terpapar Covid-19 membuka peluang sumber penularan makin besar. Sebab, ada kemungkinan masyarakat tidak menyadari dirinya terpapar Covid-19 tetapi masih melakukan aktivitas di ruang publik.

Di sinilah, penggunaan thermo gun yang ternyata secara substansi tidak mendeteksi apa pun berpeluang membuat orang abai dan lengah. Dan jika boleh lebih kritis mengoreksi sejumlah regulasi yang diberlakukan, penerapan rapid test untuk dokumen penerbangan juga berpeluang menimbulkan potensi serupa.

Sejak awal, kalangan epidemiolog juga sudah meminta pemerintah mengevaluasi penggunaan rapid test yang efektivitasnya di bawah 30 persen untuk mendeteksi paparan virus. Ini lantaran rapid test yang digunakan adalah rapid test antibodi dan bukan rapid test antigen.

Satu catatan lagi yang perlu kita cermati adalah penerapan PCR (polymerase chain reaction) yang diyakini lebih akurat dibanding rapid test terlebih sekadar deteksi suhu badan. PCR merupakan metode pemeriksaan virus SARS Co-2 dengan mendeteksi DNA virus dan lagi-lagi, akurasi dari metode yang direkomendasikan oleh WHO ini juga diragukan terkait kerumitan prosesnya.

Kesimpulannya, sejauh ini baik rapid test maupun pemindaian suhu tubuh sama sekali tidak bisa menjadi tolok ukur seseorang terpapar covid-19 atau tidak. Bahkan metode PCR juga masih menjadi diskursus lantaran kerumitan alat ini.

Namun yang perlu dicatat, 80 persen orang yang terpapar tidak mengalami sakit (OTG) dan sisanya atau sekitar 20 persen hanya menunjukkan gejala ringan hingga sedang. (*) Lalu, ...

Sumber: bangkapos
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved