Horizzon
Mengeja Tahun Pagebluk 2020
Kisah awal covid-19 semakin lengkap dengan langkah progresif China membangun rumah sakit super besar hanya alam 10 hari.
SEBAGAIN kita sepakat bahwa tahun 2020 ini hanya terdiri dari dua bulan, yaitu Januari dan Februari. Selebihnya adalah bulan pandemi yang tahu-tahu sudah mengantar kita di penghujung 2020.
Joke tersebut tidaklah berlebihan, sebab sepanjang tahun ini yang ada di otak kita cuma pandemi, pandemi, dan pandemi. Covid, covid, dan covid. Kalaupun bukan pandemi dan covid, maka yang ada di otak kita masker dan cuci tangan serta jaga jarak.
Frasa lain yang juga unik di 2020 adalah new normal. Namun entah kenapa frasa yang juga secara masif dipropagandakan ini gagal menjadi top of mind di fase pandemi, fase yang boleh kita sebut sebagai fase paling primitif di sepanjang sejarah peradaban manusia.
Sedikit membongkar perpustakaan online kita melalui google, istilah new normal muncul di pertengahan Mei 2020. New Normal ini muncul sebagai evaluasi sekaligus koreksi dari kebijakan sebelumnya, yaitu Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).
https://bangka.tribunnews.com/2020/04/05/dari-jurus-nasi-kucing-hingga-keranda-mayat?page=all
Lagi-lagi, rentetan peristiwa sepanjang tahun pagebluk 2020 ini layak untuk kita (eja) kembali. Ini penting agar kita ingat betul apa yang telah kita lewati sehingga paham betul apa yang harus kita lakukan menyongsong tahun baru, harapan baru, peruntungan baru di 2021 beberapa hari ke depan.
Bukankah kita sudah betul-betul jenuh setelah nyaris setahun 'terpenjara' ketakutan akibat wabah? Bukankah perekonomian kita sudah benar-benar terpuruk yang konon akibat virus kecil tak kasatmata asal Wuhan China bernama Corona?
Terpenting, bukankah kehidupan sosial kita benar-benar sudah berantakan lantaran pagebluk di tahun berangka ganda 20-20 ini? Coba ingat kembali, bagaimana Lebaran tahun ini yang sepi tanpa takbir keliling, apalagi sungkeman dengan orang tercinta?
Kita juga masih ingat, bagaimana Imlek kemarin kita batal berburu angpau untuk anak-anak kita saat menghadiri open house? Atau Natal yang baru saja kita lewati juga seperti lewat begitu saja tanpa meninggalkan kesan.
Sebagai muslim, masihkan ingatkah kita bagaimana masjid sebagai tempat yang paling aman lantaran di situlah kita berdialog, mengadu dan berserah diri kepada Tuhan tiba-tiba harus ditutup?
Masihkah lekang di ingatan kita bagaimana karpet-karpet masjid digulung? Kita tak pernah punya jawaban, kenapa virus kecil bernama corona mampu membuat saf salat kita yang biasanya rapat menjadi berjarak.
Kita juga tahu bagaimana kapel, gereja, vihara, klenteng dan tempat-tempat umat mengadu kepada Sang Pencipta juga sepi dari umat. Meski bukan karena takut, namun regulasi yang konon demi kelangsungan peradaban umat manusia menjadikan situasi tak banyak opsi.
Tetapi syukurlah, di tengah kenyataan pahit ini, kita terkadang masih bisa membikin narasi menghibur diri. Lebaran tanpa mudik atau tak bersama keluarga tercinta bisa kita balut dengan kesederhanaan.
Sementara Natal yang berbeda dari biasanya masih bisa kita katakan sebagai Natal yang lebih romantis lantaran bisa menikmati indahnya sebuah keluarga. Atau narasi-narasi lain penghiburan diri yang jika kita mau jujur, di balik narasi tersebut adalah tangis kita semua.
Rindu sekolah
Jangan lupa. Kita juga masih punya pekerjaan rumah yang lupa kita tuntaskan. Ingat, anak-anak kita mulai lupa cara memakai seragam sekolah. Anak-anak kita juga mulai lupa bagaimana menyapa hormat guru setiap pagi dan siang.
Nyaris setahun kita tak melihat anak-anak pulang sekolah dengan mata berbinar lantaran tuntas kepenatan mereka menimba ilmu. Atau kita juga tak lagi ingat bagaimana kita tersenyum melihat anak-anak kita menangis atau mengadu sepulang sekolah lantaran berkelahi dengan kawannya.
Kita hanya paham, awalnya anak-anak senang diliburkan, kemudian mereka memasuki masa jenuh di rumah, lalu mereka merasa rindu kembali ke sekolah. Pada kurun waktu nyaris setahun ini, ada fase di mana anak-anak kita benar-benar sangat-sangat ingin kembali ke sekolah, Mereka rindu dengan tawa, peluh, keceriaan, dan semuanya di sekolah.
Namun lagi-lagi, kita masih bisa membangun narasi di balik sikap frustasi. Kita bisa menghibur diri dan mengatakan bahwa, saat inilah kita paham bahwa pendidikan adalah tanggung jawab orangtua. Sungguh, sebuah narasi yang jika kita boleh jujur adalah sebuah narasi yang garing.
Egois juga ketika kita tidak menulis bagaimana sebagian dari kita benar-benar terpuruk lantaran kehilangan sumber penghasilan akibat pagebluk ini. Jika kita mau peduli, mafri kita hitung beberapa kawan atau tetangga kita yang tiba-tiba berstatus sebagai pengangguran akibat pandemi ini.
Sadarkan kita, bahwa posisi kita tak lebih baik dari mereka yang saat ini kurang beruntung. Jika saat ini kita masih punya pekerjaan, bisa jadi besok pagi kita juga pengangguran lantaran perusahaan kita gagal melewati pendemi berkepanjangan ini.
Bagaimana dengan kawan-kawan kita yang kebetulan berstatus sebagai aparat negara, baik sipil atau militer. Setali tiga uang, jika pandemi ini tak kunjung usai, negara bisa juga kolaps. Ingat, pemasukan terbesar negara ini adalah pajak. Jika ekonomi lesu, rakyat tak mampu bayar pajak, negara bangkrut adalah konsekuensinya.
***
PENGHUJUNG tahun ini tepat satu tahun sebuah virus kecil tak kasatmata yang mengubah peradaban kita dikabarkan terdeteksi di Wuhan.
Virus ini bermula dari sebuah kasus yang ditemukan di China pada 8 Desember 2019. Namun secara resmi, virus ini dilaporkan ke WHO pada 31 Desember 2019 dan itulah kenapa virus ini kemudian memiliki nama Covid-19.
Sekali lagi, kita perlu merefleksi perjalanan kita selama tiga bulan sepanjang 2020 ini. Kita ingat betul, magnitude dari virus yang ditemukan di Wuhan, China ini langsung membuat kehebohan di seluruh planet bumi. Bahkan jika ada peradaban lain di luar bumi, mungkin peradaban itu juga ikut heboh dengan kehadiran Covid-19 ini.
Standing dari kabar munculnya virus di Wuhan ini sungguh sangat meyakinkan. Terdeteksi pertama pada Desember 2019, pada 20 Januari 2020 jumlah penderita di Wuhan sudah tercatat sebanyak 278 kasus. Jumlahnya terus meningkat menjadi 326 pada 21 Januari 2020.
Tanggal 22 Januari, tercatat 547, lalu 639 kasus di 23 Januari dan terus bertambah menjadi 916 pada 24 Januari 2020. Jumlah ini terus meningkat tak terkendali hingga pada akhirnya tercatat sebanyak 80,4 juta orang terkonfirmasi positif pada 27 Desember 2020.
Begitu juga angka kematian yang terus melonjak. Catatan kematian yang dikaitkan dengan covid-19 ini pertama kali dituliskan sebesar 80 kematian saat kasus berada di angka 2.737 kasus positif. Dan kita tahu, angka kematian ini pada 27 Desember 2020 telah berubah menjadi 1,76 juta kematian secara global serta 20.994 kematian d Indonesia.
Selain angka yang terus bertambah, magnitute covid-19 ini juga tak lepas dari sikap progresif yang diklakukan China dalam mengatasi covid-19 di babak awal kisah yang sedang kita mainkan bersama ini.
Langkah bombastis China melakukan isolasi terhadap Kota Wuhan yang disebut menjadi sumber virus ini pada 23 Januari 2020 melengkapi awal mula kisah covid-19. Kota tersebut dinyatakan tertutup, baik melalui darat maupun udara. Sehari berikutnya, Huanggang dan Ezhou, kota-kota yang berdekatan dengan Wuhan juga dikarantina, disusul dengan beberapa kota lain di China.
Saat China melakukan langkah progresif terkait Covid-19, Reuters juga melaporkan adanya virus serupa yang ditemukan di Jepang dan Korea Selatan. Berselang sehari, virus serupa terdeteksi di AS dan Taiwan yang bersumber dari wisatawan yang baru pulang dari Wuhan.
Tanggal 24 Januari, Reuters mencatat ada 13 negara yang mengonfirmasi adanya virus serupa dengan yang ditemukan di Wuhan, China.
Kisah awal covid di Cina semakin lengkap dengan langkah progresif pembangunan rumah sakit super besar dan super cepat yang dilakukan pada akhir Januari 2020. Rumah sakit yang kelar dibangun dalam 10 hari ini memiliki luas 25.000 meter persegi dan dilengkapi 1.000 tempat tidur.
Mau tidak mau, langkah China ini telah memaksa mata dunia melihat bahwa China sedang menghadapi masalah serius dengan covid-19. Dan ini adalah virus, sehingga apa yang dihadapi China bisa dihadapi negara manapun. Suka tidak suka, mau tidak mau, semua mata dunia melihat ke China, dan Wuhan serta Covid-19 di awal kisah ini dimulai.
Sementara itu saat China sedang sibuk jibaku melawan virus, Indonesia masih woles dan merasa virus ini masih jauh. Fase Januari hingga Februari, covid-19 masih menjadi bahan candaan di Indonesia, bahkan oleh pejabat publik kita.
Masih ingatkah kita dengan tokoh yang menyebut Indonesia kebal karena rutin makan nasi kucing? Atau kita juga masih mencatat Wapres Ma'ruf Amin mengatakan bahwa kekuatan doa kunut membuat Covid-19 tak akan masuk Indonesia.
Percaya diri Indonesaia bahwa covid-19 masih jauh juga terpotret pada 26 Februari 2020, dimana pemerintah kita menggelontorkan dana Rp 72 miliar untuk influencer dan diskon tiket pesawat mendongkrak sektor pariwisata.
Penggelontoran dana sebesar Rp 72 miliar ini tentu sangat aneh jika disandingkan dengan kebijakan saat ini, yaitu kebijakan rapid test antigen bagi siapa pun yang akan bepergian dengan tiket pesawat. Tetapi agar kita jernih dalam berpikir, puzzle ini perlu menjadi catatan yang diberi garis bawah untuk perjalanan 2020.
Mayat tak terurus
China tengah berperang, Indonesia promo pariwisata, sementara di fase yang sama, di belahan Amerika Latin, tepatnya Kota Guayaquil, Ekuador justru kelimpungan dengan pandemi Covid-19. Masih bisa kita buka di perpustakaan online, bagaimana berita sangat-sangat mengerikan muncul dari Ekuador.
Kala itu Ekuador melaporkan kewalahan menghadapi Covid-19. Ini ditunjukkan dengan puluhan dan bahkan ratusan mayat tak tertangani karena banyaknya orang meninggal dan dihubungkan dengan kasus Covid-19. Kengerian lantaran ribuan mayat tak tertangani di Ekuador ini terus terjadi hingga April 2020.
April 2020, giliran kengerian akibat Covid-19 ini tersiar dari Brooklyn, Amerika Serikat. Saat itu polisi menemukan puluhan mayat membusuk yang tersimpan di truk karena tidak dibekukan. Setidaknya 40 hingga 60 jenazah ditemukan bertumpuk di truk box U-Haul di pusat pelayanan jenazah.
Masuk Indonesia
Kasus pertama virus corona di Indonesia diumumkan oleh Presiden Joko Widodo pada awal Maret. Akan tetapi, para peneliti tidak sepakat. Menurut mereka, kasus Covid-19 di Indonesia sebenarnya sudah ada sejak Januari.
Rekam jejak Covid-19 menarik jika kita mulai pada 27 Januari 2020, di mana Presiden Jokowi memastikan Covid-19 tidak terdeteksi di Indonesia.
Ribka Tjiptaning pada 3 Februari 2020 juga sempat bercanda dalam sebuah rapat di DPR. Saat itu, Ribka Tjiptaning bercanda dengan menyebut bahwa korona adalah akronim dari komunitas rondo memesona.
Penegasan bahwa Covid-19 tidak terdeteksi di Indonesia kembali disampaikan pemerintah melalui Menteri Kesehatan Terawan pada 11 Februari. Menjawab keraguan dunia internasional, Terawan juga menantang Universitas Harvard untuk membuktikan bahwa Covid-19 sudah masuk ke Indonesia.
Sehari berikutnya, yaitu 12 Februari, Indonesia masih percaya diri bahwa Covid-19 belum masuk Indonesia. Bahkan Presiden Jokowi masih kontak telepon dengan Xi Jinping dan menyatakan Indonesia akan membantu China melawan korona.
Pada 17 Februari kita kembali ingat dengan jurus nasi kucing Budi Karya Sumadi yang bikin kebal terhadap korona. Bersamaan dengan itu, Menteri Kesehatan Terawan juga menyebutkan bahwa kekuatan doa menjadi kunci bagaimana RI bebas dari Covid-19.
Masih soal kelakar terhadap Covid-19, pada 24 Februari, Kepala BKPM Bahlil di depan Hary Tanoe mengatakan bahwa corona tak masuk Indonesia karena izinnya susah.
Situasi berubah pada 1 Maret 2020. Saat itu dengan ‘lancang’ Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menyebut ada 115 kasus Covid-19 di Jakarta. Namun lagi-lagi, pernyataan Anies ini dibantah oleh Menteri Terawan dengan menyebut bahwa pernyataan Anies salah alias keliru. Terawan memastikan semua pasien yang dimaksud Anies adalah negatif.
Fase ini menjadi fase menarik. Di tanggal yang sama, Fahira Idris, anggota DPR RI juga dilaporkan sejumlah pihak ke polisi karena mengunggah informasi terkait pasien Covid-19 di akun Twitter-nya. Fahira Idris juga di-bully akun-akun buzzer yang menyebut mencari panggung dan menciptakan kepanikan.
Namun, polemik ini langsung berakhir sehari berikutnya. Pada 2 Maret 2020, Presiden Jokowi merilis keberadaan dua pasien Covid-19 dan menyebut Indonesia sudah siap. Sehari berikutnya, 3 Maret 2020, Menkopolhukam Mahfud MD meminta agar kepala daerah tak menjadikan
Covid-19 sebagai panggung politik.
Usai mengakui keberadaan dua pasien Covid-19, pada 3 Maret 2020, Presiden Jokowi sebagai kepala negara meminta masyarakat tetap waspada, tetap tenang, dan beraktivitas seperti biasa. Jokowi juga menyampaikan bahwa gejala Covid-19 mirip seperti flu biasa.
Pada 5 Maret, publik kembali ditenangkan oleh Mahfud MD yang menyebutkan bahwa korban meninggal akibat flu biasa jauh lebih banyak dibanding Covid-19.
Fase serius
Situasi menjadi serius sejak pemerintah mengumumkan bahwa Covid-19 sebagai bencana nasional. Ini terjadi tercatat pada 14 Maret 2020 saat data menyebut angka terkonfirmasi positif di posisi 69 orang positif dan empat orang meninggal dunia dikaitkan dengan Covid-19.
Pertengahan April-Mei adalah fase paling menakutkan bagi bangsa ini. Angka terus bertambah,
sementara kita seperti tak berdaya menangani wabah. Gojekan-gojekan dari tokoh publik kita saat itu seperti momok menakutkan. Usai itu, kita ingat betul muncul edaran agar masjid-masjid untuk sementara ditutup.
Kebijakan itu muncul setelah wacana lockdown menjadi perdebatan publik. Akhirnya pada 6 April 2020, Jakarta menerapkan kebijakan PSBB setelah diteken oleh Menteri Kesehatan. Situasi mencekam kala itu bersamaan dengan razia masker oleh aparat keamanan. Saat itulah titik paling krusial Covid-19 di negeri ini.
Kampung-kampung di Jawa menutup diri dari orang luar, termasuk warganya sendiri yang menjadi perantau yang akan pulang juga dilarang. Kondisi makin mengenaskan saat penerbangan ditutup menjelang libur Idulfitri sekaligus pembatalan cuti bersama Idulfitri.
Penutupan penerbangan domestik inilah yang tampaknya paling nyata dampaknya terhadap lesunya perekonomian. Penutupan penerbangan domestik itu didasarkan pada Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 25 Tahun 2020, di mana pemerintah menutup sementara penerbangan domestik di Indonesia, efektif mulai Sabtu 25 April 2020 hingga 31 Mei 2020.
Panjang sekali fase menakutkan yang kita alami hingga pada suatu masa, lahirlah apa yang kit aingat sebagai era new normal, era yang diatas sudah disebutkan bahwa frasa tersebut rupanya gagal menjadi top of mind kita semua.
Kita hanya ingat, era new normal lahir berbarengan dengan lahirnya kebijakan rapid test sebagai dokumen perjalanan. Sejak era itulah, yang terjadi tanpa kita sadari adalah angka yang terus melonjak.
Namun saat itu namun publik yang lama 'terpenjara' selama era PSBB seakan sudah kelelahan. Publik menjadi makin abai dan muncul ketidakpercayaan terkait dengan pandemi ini.
Suasana publik saat ini seperti potret awal sikap pejabat kita yang membuat corona sebagai bahan mainan dengan celoteh-celoteh lucu. Publik seakan sedang mempraktikkan lelucon nasi kucing ala Budi Karya Sumadi lah, entah joke izin masuk ala Bahlil.
Kita melihat, di penghujung 2020 ini, pemerintah menaikkan eskalasi penanganan covid-19 dengan menerapkan protokol kesehatan yang lebih ketat. Memperketat dokumen perjalanan, melakukan razia protokol kesehatan dan langkah lainnya.
Yang pasti kita semua sudah lelah betul melewati tiga bulan (baca satu tahun) ini hanya bicara soal Covid-19. Kita ingin tema baru, harapan baru, peruntungan baru di tahun baru 2021 mendatang.
Apakah kita sudah menemukan jawabannya dari semuanya? Jika jawabannya adalah vaksin, maka biarlah mereka yang paham meneruskan alfabet dari tulisan ini.
Kita hanya tahu, saat tak ada lagi harapan, satu-satunya tempat untuk bersandar adalah kepada Sang Pemilik Semesta. Dan kita tahu betul bagaimana caranya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/ibnu-taufik-jr.jpg)