Breaking News:

Virus Corona di Bangka Belitung

Demi Keamanan Nakes dan Pasien Rawat Inap, Rumah Sakit Wajibkan Rapid Antigen

Beberapa rumah sakit di Provinsi Kepulauan  Bangka Belitung mewajibkan pasien yang hendak dirawat inap untuk melakukan rapid test antigen.

Penulis: Cici Nasya Nita | Editor: nurhayati
bangkapos.com/Sela Agustika
Cagar Budaya Rumah Sakit Bakti Timah Pangkalpinang 

BANGKAPOS.COM , BANGKA -- Beberapa rumah sakit di Provinsi Kepulauan  Bangka Belitung mewajibkan pasien yang hendak dirawat inap untuk melakukan rapid test antigen.

Hal ini dilakukan sebagai upaya skrining awal di tengah pandemi Covid-19 dalam menjaga keamanan bersama bagi tenaga medis yang menangani dan pasien yang sedang dirawat.

Wakil Direktur Pelayanan Medik dan Keperawatan RSBT Pangkalpinang, dr Benyamin Rakhmatsyah Titaley, Sp.OG mengatakan prosedur ini mulai berlaku pada bulan Desember 2020 di RSBT Pangkalpinang.

"Prosedur rawat inap ini kita berlakukan karena peningkatan kasus Covid-19. Kita berlakukan skrining dari pertanyaan ke pasien seperti riwayat perjalanan, gejala yang dialami, ada sesak atau tidak dan ada kuisionernya, itu rutin dikerjakan," jelas dr Benyamin, Senin (4/1/2021).

Diakuinya, beberapa waktu lalu skrining awal dilakukan dengan pemeriksaan rapid test antibodi, tetapi untuk sekarang berubah, hal ini agar hasil lebih akurat maka digunakan rapid test antigen.

Pasien umum tanpa asuransi kesehatan dikenakan biaya senilai Rp 250.000,  harga serupa berlaku untuk pemeriksaan diri dengan kepentingan rawat jalan dan syarat berpergian ke luar daerah.

Sementara itu, untuk pasien yang terdaftar sebagai peserta BPJS Kesehatan tak dikenakan biaya atau gratis.

"Sekarang ini ada beberapa asuransi kesehatan yang tidak menanggung, tetapi untuk pasien rawat inap BPJS di RSBT dimasukkan di klaim INACBG jadi pasien tidak bayar sama sekali," jelas dr Benyamin.

Bila dari hasil rapid test antigen dinyatakan reaktif, maka akan dilakukan pemeriksaan lanjutan tes swab PCR.

"Bila ada yang positif rapid test antigen, pasien kita rawat, dimasukan ke ruang isolasi, bukan rawat biasa. Hasil kita koordinasikan ke Satgas untuk penyelidikan epideomologi atau tracking, itu harus dilaporkan," ungkap dr Benyamin.

Halaman
1234
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved