PROFIL
drg Eva Fidia Lestari, Selalu Ingat Pesan Ayah Permudah Urusan Orang lain, Jangan Dipersulit
Banyak kisah dibalik perjalan karir seorang dokter gigi yang saat sudah menjadi Kepala Puskesmas Koba Kabupaten Bangka Tengah.
Penulis: Widodo | Editor: khamelia
BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Banyak kisah dibalik perjalan karir seorang dokter gigi yang saat sudah menjadi Kepala Puskesmas Koba Kabupaten Bangka Tengah.
Dialah Eva Fidia Lestari (40) sosok yang ramah, murah senyum dan lemah lembut kini mengabdikan dirinya untuk menolong banyak orang di bidang kesehatan.
Banyak kisah dari pengalamannya dan terutama saat mengikuti seleksi CPNS atas keinginan ayahnya yakni Fachmi Hasan (Alm).
"Setelah sebelumnya saya bekerja selama 2,5 tahun kemudian saya ditetapkan di puskesmas koba setelah lulus CPNS daerah Bangka Tengah," katanya kepada Bangkapos.com, Selasa (5/1/2021).
Dirinya menceritakan keputusan mengikuti seleksi CPNS adalah keinginan ayahnya yang ingin dirinya bekerja sebagai PNS karena sebelumnya melewatkan dua kali seleksi.
"Mengikuti seleksi CPNS adalah keinginan ayah saya, kemudian pada saat pengumuman kelulusan tes CPNS tanggal 22 September 2012 bertepatan dengan ulang tahun saya dan mengetahui bahwa saya lulus, ayah saya sangat bahagia. Namun Allah SWT punya rencana lain, satu bulan setelahnya pada tanggal 28 Oktober 2012 ayah saya meninggal dunia," terangnya.
"Ada duka yang mendalam bagi saya dan keluarga. Kepergian beliau menjadi titik balik bagi saya dan memotivasi saya untuk bekerja dengan sungguh-sungguh sebagai abdi negara agar ilmu pengetahuan yang saya miliki dapat bermanfaat bagi orang lain.
Pesan almarhum ayahnya yang selalu diingat Drg Eva adalah agar selalu memudahkan urusan orang lain, jangan mempersulit orang lain. Karena jika memudahkan urusan orang lain maka Allah SWT pun akan memudahkan urusan kita.
Drg Eva menyebutkan profesi dokter gigi merupakan profesi yang unik karena menggabungkan beberapa profesi yang bisa berganti peran kadang sebagai dokter. Sebagai guru dan juga sebagai tukang.
"Sebagai dokter saya melayani pasien sesuai dengan tugas pokok dan fungsi dalam memberikan pelayanan kesehatan gigi yang meliputi promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif," katanya.
"Peran sebagai guru saya jalankan dalam memberikan kontribusiedukasi dan infomasi mengenai kesehatan gigi dan mulut untuk meningkatkan derajat kesehatan gigi masyarakat. Seringkali saya bahkan seperti guru taman kanak-kanak yang harus sabar dalam menghadapi pasien anak yang takut diperiksa giginya dan peran yang sangat penting adalah sebagai tukang karena dokter gigi berkaitan dengan keahlian yang memerlukan tenaga dan tentu saja ada teknik khusus yang dipelajari agar dapat menangani kasus-kasus gigi yang memerlukan pencabutan dengan penyulit," ungkapnya.
Dirinya mengatakan, Slogan bekerja dengan tangan, pikiran, dan hati bukan kalimat tanpa makna. Kami bekerja dengan tangan karena dokter gigi mengandalkan keterampilan tangan dalam menangani dan keluhan pasien. Dan kemampuan tersebut akan terus meningkat bila sering digunakan dan sering mengikuti pelatihan-pelatihan.
Sementara bekerja dengan pikiran bahwa dokter gigi harus bekerja dengan dasar keilmuan yang kokoh sehingga dapat menjalankan tugasnya sesuai kompetensi dan dapat bersikap profesional.
Selain itu bekerja dengan hati adalah bahwa dokter gigi harus memiliki rasa empati terhadap keluhan yang diderita oleh pasien sehingga adanya rasa tanggungjawab dalam menangani dan adanya niat baik untuk membantu menyelesaikan masalah kesehatan pasien.
Lanjut Eva, dokter gigi harus memiliki kompetensi yang mencakup tingkat pengetahuan, keterampilan dan sikap dalam menjalani tugas sebagai tenaga kesehatan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/khjkjh.jpg)