Sabtu, 2 Mei 2026

China vs Amerika Memanas, China Siap Perang di Perbatasan Laut Indonesia, Ancaman Perang Dunia III?

China vs Amerika Memanas, China Siap Perang di Perbatasan Laut Indonesia, Ancaman Perang Dunia III?

Tayang:
Eksekutif Marinetime
Kapal-kapal berbendera China 

China vs Amerika Memanas, China Siap Perang di Perbatasan Laut Indonesia, Ancaman Perang Dunia III?

BANGKAPOS.COM -- China dikabarkan benar-benar telah bersiap sedia menghadapi perang besar di wilayah Laut China Selatan.

Adapun ambisi besar Tiongkok lewat Militer China dengan ‘proyek’ di wilayah Laut China Selatan dikhawatirkan membuat wilayah strategis kaya minyak tersebut dikhawatirkan bisa menjadi ajang pertempuran.

Tempat di mana banyak negara Asia Tenggara yang terhimpun dalam ASEAN juga mengklaim wilayah lautnya.

Informasi mengenai kesiapsiagaan China dalam menghadapi perang di wilayah Laut China Selatan tersebut diungkap oleh seorang anggota senat alias Senator di Amerika Serikat.

Dikutip dari laman Kontan.co.id, Kongres Amerika Serikat (AS) saat ini disebut telah menyetujui Rancangan Undang-Undang (RUU) Belanja Pertahanan senilai US$ 740 miliar.

Baca juga: Makin Kuat, Militer China Siap Unjuk Gigi, Ini Sederet Kekuatan Tempur baru di Tahun 2021

Baca juga: Sederet Foto Cantik Christine Angelica, Pramugari yang Tewas Dirudapaksa Ternyata Teman Pacquiao

Baca juga: 6 Tokoh ini Berani Kritik Pemerintah China, Lalu Dibungkam & Dipenjara, Apakah Jack Ma dalam Bahaya?

Sebuah anggaran yang terbilang luar biasa, lantaran jika dikonversikan ke dalam mata uang Rupiah, nilainya setara Rp10,3 kuadriliun.

Uang sebanyak itu, disebut untuk membiayai kebijakan pertahanan pada tahun-tahun mendatang.

RUU tersebut berhasil diloloskan Senat AS pada hari Jumat dengan 81 suara berbanding 14 suara untuk membatalkan veto Presiden AS Donald Trump.

Butuh dua pertiga suara mayoritas kongres untuk membatalkan UU yang telah diveto presiden AS.

Dan ini merupakan pertama kali dilakukan di era Donald Trump. 

Trump keberatan dengan undang-undang tersebut karena membatasi kemampuannya untuk menarik pasukan Amerika dari Afghanistan dan Eropa.

Juga tidak menghapus perlindungan tanggungjawab dari perusahaan media sosial.

Baca juga: Petani vs Serigala, Duel Tangan Kosong Petani Habisi Hewan Buas Tanpa Ampun Usai 2 Anjingnya Dibunuh

Baca juga: Kisah Mantan Anak Punk dengan Wajah Penuh Tato Berhijrah, Tato Pertama Lulus SD, Kini Jadi Muazin

Tercapainya aliansi lintas partai dari anggota Parlemen Partai Demokrat dan Republik menandakan keprihatinan tersendiri dari AS.

Dalam RUU itu, mendorong peningkatan kehadiran militer AS di Samudra Pasifik.

Hal ini tak terlepas dari ketegangan hubungan AS dengan China yang kian meruncing di masa kepresidenan Trump.

Di mana Washington menolak dengan tegas klaim sepihak Beijing atas Laut China Selatan.

UU baru yang mencapai 4.500 halaman ini dirancang oleh Komite Angkatan Bersenjata Senat AS.

Pimpinannya adalah senator Republik, James Inhofe.

Ia mengklaim bahwa Beijing sedang mempersiapkan perang dunia ke III di Laut China Selatan.

"Kami berada dalam situasi paling berbahaya yang pernah kami alami sebelumnya," ujarnya seperti dilansir Express.co.uk, Senin 4 Januari 2021 lalu sebagaimana dikutip dari laman Kontan.co.id.

Baca juga: Update Covid-19 Bangka Belitung Kamis (01/01/2021): 47 Kasus Baru, Meninggal 48 dan 2.134 Sembuh

Baca juga: Gambar Peta Dunia yang Selama Ini Kita Lihat Ternyata Bohong

Jack Reed, senator Demokrat yang berada di Komite Angkatan Bersenjata Senat juga mengatakan hal senada.

“Ini adalah pertama kalinya kami benar-benar mundur dan Kami memiliki ancaman baru yang meningkat di Pasifik,’

“Kita harus mengambil pandangan holistik," sambungnya.

China Vs Amerika Serikat yang Kian Panas

Ketegangan antara AS dan China telah melonjak selama masa jabatan Trump.

Kedua negara adidaya itu telah bentrok karena perdagangan, virus corona, hak asasi manusia, dan sejumlah sengketa wilayah.

Klaim kedaulatan Beijing atas Laut Cina Selatan tumpang tindih dengan klaim saingan dari enam tetangganya.

Terutama dari negara di kawasan Asia Tenggara mulai dari Filipina, Vietnam dan juga negara jiran Malaysia.

Baca juga: Perempuan Yogyakarta ini Temukan Klinik Dokter Anak Mirip Kastil, Anak-anak Bisa Main sebelum Vaksin

Baca juga: Bacaan Sholawat Allahul Kafi Lengkap Arti dan Terjemahannya, Sempat Viral dan Trending di Youtube

Amerika Serikat, dan kekuatan barat lainnya, menolak untuk menerima klaim China.

Dan menunjukkan ini dengan mengirimkan kapal perang pada patroli 'kebebasan navigasi' melalui wilayah tersebut.

Pada Desember 2020 silam, Wall Street Journal menerbitkan sebuah artikel oleh John Ratcliffe, direktur intelijen nasional AS.

Dalam jurnal tersebut, ia memperingatkan orang Amerika untuk mempersiapkan "periode konfrontasi terbuka".

Dia berpendapat Beijing harus tunduk kekuatan dominan dunia.

China membalas dengan menggambarkan tuduhan itu sebagai "ramuan kebohongan".

Materi di artikel ini juga telah tayang di Kontan.co.id dengan judul Senator AS : China bersiap untuk perang dunia III di Laut China Selatan

China Siap Perang di Perbatasan Laut Indonesia, China vs Amerika Memanas, Ancaman Perang Dunia III.

Baca juga: Wanita ini Tak Marah saat Tahu Suaminya Selingkuh sama Guru Cantik, Tapi Lakukan Hal Tak Terduga ini

Baca juga: Setelah Dibujuk 7 Tahun, Ahli Waris Jual Rumah Kelahiran Bung Karno Rp 1,2 Miliar

Baca juga: Najwa Shihab Emosi, Protes Namanya Dicatut di Berita Hoaks soal Covid-19: Saya Gak Pernah Buat

Baca juga: Terkenal Kejam, Diktator Paling Gila Sepanjang Masa, dari yang Punya Perisai Manusia Hingga Hal ini

Hukuman China ke Australia, Xi Jinping peringatkan dunia

China bisa dibilang negara yang tak segan memberikan ancama ke negara lain.

Hal ini lantaran mereka percaya dengan kekuatan mereka di segala lini.

Bahkan, China dengan berani memberikan peringatan negara-negara dunia untuk tidak berani macam-macam sama mereka.

Seperti Australia, yang katanya China telah mereka beri pelajaran.

Sanksi China untuk Australia rupanya memiliki makna lebih dalam daripada sekedar melarang masuknya beberapa produk Australia.

Sanksi itu juga digunakan agar Canberra belajar 'lebih menghargai China'.

Meski begitu, para analis justru berkata keinginan China mungkin tidak akan tercapai.

Sengketa perdagangan itu memang sepertinya akan semakin parah.

Perang dagang ini merupakan upaya China untuk menghukum Australia serta memperingatkan negara lain.

Harapan China adalah tidak ada negara lain yang meniru tindakan Australia.

Media pemerintah China baru-baru ini laporkan jika China berniat untuk memperpanjang sanksi impor untuk batubara Australia.

Rekan senior di Institut Hudson di Washington, John Lee, mengatakan apapun niat Beijing, sanksi mereka bisa menjadi senjata makan tuan.

"China mencari cara menghukum Australia untuk mengambil keputusan tertentu dan memperingatkan negara lain dari mengambil kebijakan serupa," ujar mantan penasihat keamanan nasional Australia tersebut.

"Tapi aksi China telah timbulkan diskusi mendalam di antara para pemimpin pemerintahan dan pebisnis dunia mengenai perlunya keberagaman dan kurangi kebergantungan dengan China.

"Masalah untuk China adalah mereka perlu bekerjasama dengan perekonomian canggih ini untuk mencapai tujuan ekonomi mereka.

"Itu sebabnya, mereka layaknya menembaki diri mereka sendiri dalam jangka panjang nanti."

Hubungan kedua negara terus-terusan tegang sejak isu 2017, termasuk dalam urusan pengaruh Beijing di dunia, teknologi China dan perdagangan

Namun hal ini memburuk ketika Australia meminta investigasi mengenai asal usul virus Corona, membuat Beijing tidak dapat mempercayai rekannya itu.

Dubes China untuk Australia Cheng Jingye bali ancam Australia agar tidak menekan China. (https://www.theaustralian.com.au/)
Segera setelah itulah Beijing menerapkan kebijakan anti-dumping untuk jelai dan anggur Australia.

Hukuman lain juga diterapkan China untuk daging sapi, kayu, lobster, gula, kapas dan timah dari Australia.

Pemerintah China juga memperingatkan warganya untuk tidak bepergian atau belajar di Australia.

Sementara itu Agustus lalu, China menangkap jurnalis berkewarganegaraan China-Australia, Cheng Lei.

Lembaga penelitian Sydney, Lowy Institute, melakukan pemungutan suara dan temukan kepercayaan Australia kepada China adalah selalu rendah.

94% responden mengatakan mereka ingin Canberra kurangi ketergantungan pada ekonomi terbesar kedua di dunia.

Hanya 23% saja yang percaya pada China, mengatakan China bisa "bertindak penuh tanggungjawab di dunia."

Spesialis hubungan internasional dan China di Universitas New South Wales, Pichamon Yeophantong, mengatkaan Beijing menggunakan ketegangannya dengan Australia untuk menegaskan sentimen nasionalistik dan menjadikannya peringatan atas perilaku seperti itu.

Menurutnya, China tidak peduli dengan apa yang kebanyakan warga Australia pikirkan.

"Meningkatnya ketegangan dengan Australia melalui tarif dan hal lainnya dilihat sebagai cara bagi China untuk panduan jika perlu melakukannya lagi di masa depan," ujarnya.

"Beijing sedang mencoba menjadikan Australia contoh."

Sementara itu, jika klaim Beijing tentang larangan produk Australia memang benar untuk memperbaiki kualitas barang yang masuk ke negara mereka, kedua negara perlu untuk berbenah diri.

"Tidak ada perang dagang antara China dan Australia," ujar Yu Lei, rekan peneliti di Liaocheng University di provinsi Shandong, China.

"Larangan China dalam impor batubara China maksudnya untuk mengurangi emisi dan bagian dari panggilan kolektif dari negara Pasifik," ujarnya.

Pichamon mengatakan inti ketegangan itu sebenarnya adalah keengganan kedua belah pihak untuk mengesampingkan perbedaan mereka.

"Canberra perlu sadar jika mereka tidak bisa mengubah China dari luar dan taktik konfrontasi hanya membut Beijing sebal," ujarnya.

"Beijing juga perlu berlatih berhati-hati menggunakan kekuatan globalnya, jangan sampai membuat berang tetangganya sendiri."

(*)

Artikel ini telah tayang di tribun-medan.com dengan judul China Siap Perang di Perbatasan Laut Indonesia, China vs Amerika Memanas, Ancaman Perang Dunia III

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved