JEMBATAN Choluteca Tak Goyah Meski Dihantam Badai dan Banjir Besar
Amerika Tengah, pemerintah membangun jembatan baru di atas sungai Choluteca untuk menghubungkannya dengan jalan pintas baru
Pada akhirnya solusi tersebut tidak hanya menjadi mubazir, tetapi juga menjadi masalah tambahan berupa investasi yang sangat besar dalam infrastruktur yang gagal mencapai tujuannya.
Perubahan tiba-tiba di jalur sungai memperkuat ketidakpastian kronis kehidupan.
Perubahan adalah satu-satunya hal yang konstan dalam hidup.
Seperti sungai, kita mungkin harus mengubah arah hidup kita.
Adaptasi atau penyesuaian adalah kunci kelangsungan hidup dan ketahanan.
Kita harus memikirkan kembali keyakinan buta kita pada teknologi untuk memperbaiki semua masalah kita.
Tentu saja, teknologi telah memecahkan masalah yang tak terhitung banyaknya.
Tetapi teknologi harus memiliki fokus yang sempit untuk mencapai tujuannya.
Tidak dapat memiliki pandangan yang luas untuk mempertimbangkan gangguan tak terduga dan urgensi yang tampaknya mustahil dan luar biasa.
Lalu, apa yang terjadi dengan 'Jembatan tanpa tujuan' itu?
Pada tahun 2003, mereka menghubungkan kembali jembatan tersebut ke jalan raya.
Jembatan Choluteca adalah metafora untuk perubahan dalam menghadapi kejadian yang tidak terduga.
Badai adalah pengganggu. Sungai yang mengukir jalur alternatif untuk dirinya sendiri mewakili norma-norma dunia alternatif.
Dan jembatan yang berdiri untuk masyarakat harus beradaptasi dengan zaman yang baru.
Berita ini sudah tayang di Intisari Online dengan judul Kisah Jembatan Choluteca, Kokoh Berdiri Meski Dihantam Badai dan Banjir karena Dibangun Ahli Terbaik, Tapi Malah Jadi Tak Berguna Usai Sungainya 'Pindah'
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/jembatan-choluteca123.jpg)