Senin, 18 Mei 2026

DB Cooper dan Misteri Pembajakan Pesawat di Amerika Serikat yang Tak Terpecahkan Hingga Hari Ini

Sebuah kisah pembajakan pesawat di Amerika Serikat masih jadi misteri hingga hari ini. Siapa sebenarnya sang pelaku tak pernah terungkap.

Tayang:
Editor: Dedy Qurniawan
intisari
DB Cooper dan Misteri Pembajakan Pesawat di Amerika Serikat yang Tak Terpecahkan Hingga Hari Ini- Sketsa DB Cooper 

BANGKAPOS.COM - Sebuah kisah pembajakan pesawat di Amerika Serikat masih jadi misteri hingga hari ini.

Siapa sebenarnya sang pelaku tak pernah terungkap.

Pun tak diketahui apakah pelakunya tewas atau selamat setelah pembajakan pesawat yang bikin geger sepanjang sejarah Amerika Serikat.

Pembajakan pesawat ini terjadi 49 tahun lalu.

Kisah ini disebut sebagai satu misteri paling abadi dalam sejarah penerbangan dimulai.

Dilangsir bangkapos.com dari grid.id pada artikel berjudul 9 Tahun Lalu Terjun dari Pesawat yang Dibajaknya Bersama Uang Tebusan, Sosok DB Cooper Hilang Menjadi Misteri Abadi yang Hingga Kini Belum Terpecahkan, seorang pembajak yang telah menjadi legenda sebagai "DB Cooper" terjun dari Northwest Orient Boeing 727 dengan tas berisi uang tebusan USD 200.000 dan tidak pernah terlihat lagi.

24 November 1971, adalah hari sebelum Thanksgiving di Amerika.

Orang-orang di seluruh negeri terburu-buru untuk melihat keluarga mereka.

Satu dari banyak penumpang yang membeli tiket menit-menit terakhir adalah seorang pria yang bernama Dan Cooper.

Dia menggunakan penerbangan di Bandara Internasional Portland menuju Seattle, menurut dailystar.

Penerbangan 129 mil memakan waktu sekira 30 menit dengan Boeing 727, dijadwalkan memakan waktu lebih dari setengah jam.

Namun tak lama setelah lepas landas, "Cooper" menyerahkan catatan kepada pramugari Florence Schaffner.

Berpikir bahwa dia hanyalah seorang pebisnis yang sedang bepergian dan mencoba untuk memberikan nomor teleponnya, Florence mengabaikan catatan itu tetapi pria itu bersikeras agar dia melihatnya lagi.

Tercetak rapi pada catatan itu adalah kata-kata "Saya punya bom".

Cooper memerintahkan Florence untuk duduk di sampingnya dan membuka tasnya sedikit, memberinya sekilas delapan tabung merah gemuk, dikemas dalam dua baris empat, dan baterai besar.

Dia mengatakan kepada Florence untuk menyampaikan tuntutannya: dia ingin pesawat diisi ulang di Seattle, empat parasut dan USD 200.000 "mata uang Amerika yang bisa dinegosiasikan" .

35 penumpang lain pada penerbangan 305 Northwest Orient Airlines diberi tahu bahwa kedatangan mereka di Seattle akan ditunda karena "masalah mekanis ringan".

Faktanya, pesawat berputar di atas Pasifik selama hampir dua jam sementara manajer maskapai mengatur tebusan dan meminjam parasut dari sekolah skydiving terdekat.

Pramugari Tina Mucklow kemudian mengatakan kepada penyelidik: "Dia tidak gugup, dia tampak agak baik. Dia tidak terlihat kejam atau jahat. Dia bijaksana dan tenang sepanjang waktu.”

Cooper memesan minuman, dan bahkan membayarnya saat pesawat sedang berputar-putar.

Akhirnya pesawat itu mendarat dan uang tebusan dikirimkan.

Cooper memerintahkan penumpang untuk turun.

Kemudian dia menyuruh pilot untuk menerbangkannya ke Meksiko.

Ketika mereka memberitahunya bahwa tidak mungkin untuk melakukan penerbangan tanpa berhenti mengisi bahan bakar kedua, dia berkompromi dan mengatakan kepada mereka untuk menuju Reno, Nevada.

Namun kira-kira setengah jam setelah pesawat lepas landas, Cooper melompat keluar dari pesawat dan menjadi legenda.

Bahkan namanya adalah sebuah misteri.

Dia menyebut namanya sebagai Dan Cooper dan "DB" tampaknya telah ditambahkan secara tidak sengaja dalam sebuah siaran berita.

Tidak pasti apakah pembajak itu selamat - tetapi sejumlah kecil uang tebusan ditemukan oleh Brian Ingram yang berusia delapan tahun ketika dia sedang dalam perjalanan berkemah dengan keluarganya.

Sebuah film dokumenter baru menyebutkan 4 orang dicurigai sebagai sosok DB Cooper.

Di antara mereka adalah: Duane Weber, penjahat yang mengaku melakukan pembajakan menjelang kematiannya, Barbara Dayton, seorang pilot ahli yang merupakan penerima operasi penggantian kelamin pertama dalam sejarah negara bagian Washington, dan Lynn Doyle Cooper - seorang veteran Angkatan Darat yang muncul di rumah keluarganya saat Thanksgiving 1971 dengan tubuh babak belur dan memar dengan kekayaan yang tidak dapat dijelaskan.

Namun tersangka yang paling banyak dipercaya adalah Richard McCoy Jr., seorang veteran Vietnam dan ahli bahan peledak yang pada 1972 membajak sebuah pesawat dengan cara yang hampir identik dengan pembajakan Penerbangan 305 dan lolos dengan USD 500.000.

McCoy ditangkap dan dipenjara karena pembajakan kedua itu, tetapi melarikan diri setelah membuat replika pistol dari sabun.

Dia kemudian ditembak mati oleh agen FBI yang mencoba menangkapnya kembali.

Istrinya kemudian berhasil menggugat dua agen FBI yang menulis buku yang menamainya sebagai “DB Cooper” yang sebenarnya, dan mengklaim bahwa dia adalah komplotannya.

Apakah McCoy Cooper adalah DB Cooper?

Atau apakah tubuh penjahat misterius itu masih di luar sana, menunggu untuk ditemukan di padang gurun tandus di Negara Bagian Washington?

Baca juga: Ada yang Awalnya Pelacur, Ini Dia 3 Bajak Laut Wanita Paling Terkenal di Dunia

Baca juga: Bajak Laut Somalia yang Dikenal Sadis & Ganas Malah Keok Saat Curi Ikan di Laut Taiwan, ini Nasibnya

Baca juga: INGAT Kuis Who Wants To Be a Millionaire? Guru Sejarah Ini Jadi Pemenang Usai Jawab Soal Bajak Laut

Pembajakan Pesawat di Indonesia

Aksi pembajakan pesawat juga pernah terjadi di Indonesia.

Pada 28 Maret 1981, pesawat DC 9 milik Garuda Indonesia yang dikenal dengan sebutan "Woyla" dibajak oleh kelompok yang menamakan dirinya Komando Jihad.

Dilangsir bangkapos.com dari kompas.com pada berita berjudul Tiga Menit yang Menegangkan dalam Operasi Pembebasan Pesawat Woyla... , rute pesawat saat itu adalah Jakarta-Medan.

Peristiwa pembajakan Ini tercatat sebagai peristiwa terorisme pertama. Hingga saat ini, pembajakan Woyla menjadi satu-satunya aksi terorisme dalam sejarah maskapai penerbangan Indonesia.

Berdasarkan arsip Harian Kompas tanggal 29 Maret 1981, pesawat itu dibajak di udara antara Palembang -Medan sekitar pukul 10.10 WIB. Pesawat yang sempat transit di bandara Talangbetutu, Palembang baru lepas landas menuju Bandara Polonia, Medan.

Namun, pesawat dibelokkan ke arah bandara internasional Penang, Malaysia.

Saat itu, belum terungkap siapa yang membajak pesawat dengan nomor penerbangan 206 itu.

Departemen Pertahanan dan Keamanan (Dephankam) hanya mengungkap, pembajak itu bisa berbahasa Indonesia.

"Pesawat dibajak oleh enam orang yang dapat berbahasa Indonesia. Mereka bersenjatakan pistol dan beberapa buah granat," tulis Harian Kompas, berdasarkan keterangan Menteri Pertahanan dan Keamanan Muhammad Jusuf.

Dephankam kemudian menginstruksikan Wakil Panglima ABRI Laksamana Sudomo untuk menangani pembajakan pesawat itu.

Belok ke Bangkok Seiring perkembangan waktu, pembajak diketahui berjumlah lima orang.

Mereka menuntut agar 80 orang tahanan yang terlibat dalam penyerangan Kosekta 8606 Pasir Kaliki di Bandung pada 11 Maret 1981 dibebaskan.

Tak hanya itu, mereka meminta tebusan uang sebesar 1,5 juta dollar AS. Ada 48 penumpang dan 5 awak di dalam pesawat.

Pesawat Garuda PK-BNJ Woyla yang dibajak.
Pesawat Garuda PK-BNJ Woyla yang dibajak. (Dok. Kompas)

Sebanyak 33 orang terbang dari Jakarta, dan sisanya berasal dari Palembang.

Pada pukul 11.20 WIB, pesawat itu tiba di Penang.

Saat itu ada permintaan pengisian bahan bakar, tanpa memberi tahu tujuan berikutnya

Pembajak hanya menurunkan seorang penumpang berusia 76 tahun bernama Hulda Panjaitan.

Pesawat yang tidak dilengkapi peta rute penerbangan internasional ini kemudian diterbangkan ke Bangkok, Thailand, setelah permintaan pembajak terpenuhi.

Puncaknya, Selasa 31 Maret 1981 dini hari, pembajakan pesawat ini menjadi semakin menegangkan.

Pesawat itu telah dibajak sekitar empat hari oleh Komando Jihad.

Operasi pembebasan pun dilaksanakan di Bandara Don Mueang, Bangkok, Thailand.

Operasi itu hanya berlangsung dalam waktu tiga menit saja.

Berdasarkan arsip Harian Kompas pada 1 April 1981, operasi itu sudah disiapkan dengan matang di Jakarta sejak peristiwa pembajakan itu terjadi.

Operasi berjalan saat Pemerintah Thailand mengizinkan pasukan komando Indonesia bergerak.

Melalui pengamatan wartawan Kompas di lokasi pada saat itu, tanda operasi pembebasan belum terlihat pada Senin (30/3/1981) malam.

Suasana di sekitar pesawat masih cenderung sepi.

Senin malam, pukul 21.00 waktu setempat, sebuah mobil katering mendekat seusai mendapat kode lampu dari pesawat.

Kode itu merupakan sinyal dari pembajak agar permintaan mereka menyangkut makanan, minuman, bahan bakar dan kebutuhan lainnya bisa dipenuhi.

Saat mobil katering mengantar makanan, suasana di sekitar pesawat menjadi sunyi lagi.

Pada Selasa, sekitar pukul 02.30 waktu setempat, ada gerakan di semak-semak sekitar 400 meter dari pesawat.

Ternyata, mereka adalah Para Komando dari Komando Pasukan Sandi Yudha (Koppasandha, sekarang bernama Komandi Pasukan Khusus), pimpinan Letkol Infanteri Sintong Panjaitan.

Pasukan itu bergerak mengendap dan teratur dalam formasi dua baris mendekati pesawat.

Mereka tampak membawa tiga tangga.

Dua tangga dilekatkan di masing-masing sayap, satu tangga di bagian belakang pesawat.

Dengan sekejap, mereka bergerak masuk ke pesawat dari pintu darurat dekat sayap dan bagian belakang di bawah badan pesawat.

"Tiba-tiba terdengarlah tembakan-tembakan, mungkin dalam waktu dua detik," kata Henk Siesen, warga negara Belanda di dalam pesawat, dikutip dari Harian Kompas.

"Komando itu berteriak: 'Semua penumpang tiarap'. Dan berjatuhanlah sosok-sosok tubuh campur baru berusaha untuk tiarap ke lantai," tutur Henk.

Penumpang yang tiarap berusaha dikeluarkan satu per satu lewat pintu depan.

Akan tetapi, upaya penyelamatan itu tak mudah.

Ada seorang pembajak yang ikut tiarap bersama para penumpang.

Ia membawa granat dan kemudian ia lempar setelah pinnya ditarik.

Beruntung, gramat itu tidak meledak dan diamankan pasukan komando.

Pembajak yang melempar granat itu pun ditembak mati saat berusaha melarikan diri lewat pintu depan. Ada pula seorang pembajak yang disebut bernama Fahrizal, yang melepas tembakan ke arah pasukan komando.

Namun, ia berhasil didesak oleh pasukan komando.

Pada akhirnya, pembajak tersebut bunuh diri dengan menembak keningnya.

Dua pembajak lainnya juga berupaya kabur, namun mereka ditembak mati.

Keterangan resmi pemerintah mengungkap semua nama pembajak yang tewas.

Namun, diketahui bahwa pimpinan pembajak adalah Imran bin Mubammad Zein.

Ia berhasil ditangkap dan kemudian dihukum mati pada 28 Maret 1983.

Pemerintah juga menyebutkan pilot dan seorang pasukan komando mengalami luka-luka.

Selang beberapa hari, pilot bernama Kapten Herman Rante dan anggota Koppasandha bernama Achmad Kirang menjadi korban tewas dalam operasi tersebut.

Keduanya menderita luka tembak, dan gagal diselamatkan meski sudah dibawa ke rumah sakit.

Operasi pembebasan itu membuat pesawat Woyla dilubangi sejumlah peluru.

Pesawat itu diperbaiki di Thailand dan kemudian dibawa ke Indonesia.

Lewat operasi itu, 36 orang yang berada 4 hari di pesawat, setelah beberapa penumpang lain dilepaskan pembajak, berhasil diselamatkan.

Keberhasilan operasi ini tak hanya melambungkan perjalanan karier Sintong Pandjaitan selaku pimpinan lapangan, melainkan juga Letjen LB Moerdani yang saat itu merupakan Kepala Pusat Intelijen Strategis.

Reputasi Koppasandha diakui.

Kini pasukan yang dikenal dengan nama Kopassus itu tercatat sebagai salah satu satuan elite terbaik di dunia. (*)

Sumber: Grid.ID
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved