Human Interest Story
Rini Arianti, Kejar Impian Jadi Doktor Sampai Eropa, Rela LDR dengan Suami Demi S3
"Tidak gampang berpuas diri karena sekali kita merasa berpuas diri, kita akan berhenti belajar dan mendengarkan lebih banyak,"
Penulis: Cici Nasya Nita | Editor: nurhayati
BANGKAPOS.COM , BANGKA -- "Tidak gampang berpuas diri karena sekali kita merasa berpuas diri, kita akan berhenti belajar dan mendengarkan lebih banyak,"
Ungkapan itu terlontar dari bibir Rini Arianti saat menceritakan pengalaman hidupnya saat ini.
Putri ketiga dari pasangan Markoriansyah dan Hoziah ini, selalu ceria, energik dan optimis dalam mengapai impiannya.
Wanita asal Pangkalpinang ini sekarang sedang menyelesaikan program studi doktor atau strata-3 (S3) di benua Eropa sana, tepatnya di kota Hongaria.
Terhitung sudah memasuki tahun keempat, ia menempuh pendidikan Doctoral School of Molecular Cell and Immune Biology, Faculty of Medicine, University of Debrecen, Hongaria.
Direncanakan tahun 2021, wanita yang berusia 29 tahun ini, akan segera menyelesaikan studi dan menyandang gelar doktor.
Keseharian Rini, dari hari Senin sampai dengan hari Minggu dihabiskanya berada di laboratorium untuk menyelesaikan penelitian yang sedang digelutinya.
"Menghibur diri dengan cara melihat sel-sel manusia yang tumbuh di laboratorium. Tapi kadang kalau bosen, saya jalan-jalan ke City Centre atau di taman yang ada danau kecilnya. Selain itu, bermain tenis juga menjadi hal untuk pelepas jenuh," ungkap Rini, Kamis (21/1/2021) kepada Bangkapos.com.
Olahraga tenis ini sendiri terselip cerita unik, karena Rini saat kecil pernah ingin bercita-cita jadi pemain tenis yang bisa tour keliling dunia.
Waktu junior, ia pernah mewakili Babel di Pekan Olahraga Pelajar Nasional di Medan tahun 2005 dan Pekan Olahrga Pelajar Wilayah di Padang tahun 2006.
"Terakhir ikut tanding, kejurnas tenis senior di Papua tahun 2014 dan jadi semifinalis ganda putri. Tapi kemudian saya lebih memilih fokus di dunia akademik dan riset," sebut Rini.
Disela-sela ceritanya di luar negeri, jauh dari keluarga menjadi kesulitan tersendiri bagi Rini yang sedang berada di negeri orang itu.
Apalagi bila sedang jenuh saat eksperimen penelitian, harus menghadapi kegelisahan sendirian.
"Tidak ada teman berbagi kejenuhan. Ketika sedang down, misalnya eksperimen gagal, tak ada teman mengeluh. Tapi bisa diatasi dengan curhat ke Allah SWT tiap salat," katanya.
Wanita yang sudah menikah di usia 26 tahun ini juga harus rela menjalin hubungan jarak jauh (LDR) dengan sang suami, hanya bisa bertemu setahun sekali.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/rini1.jpg)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/rini-5.jpg)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/rini6.jpg)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/rini-7.jpg)