Sejarah Baru Bagi 'Negeri Paman Sam', Lloyd Austin Pria Kulit Hitam Pertama yang Jadi Menhan AS
Lloyd J Austin III kini jadi Sejarah Baru Bagi 'Negeri Paman Sam', Pria Kulit Hitam Pertama yang Jadi Menhan AS. Jumat (22/1/2021).
Sejarah Baru Bagi 'Negeri Paman Sam', Lloyd Austin Pria Kulit Hitam Pertama yang Jadi Menhan AS
BANGKAPOS.COM -- Setelah resmi sebagai Presiden Amerika Serikat ( AS ), Joe Biden telah membentuk kabinet di pemerintahannya.
Tak hanya itu, baru sehari jadi Presiden Amerika Serikat, Joe Biden sudah juga telah menandatangani 17 perintah eksekutif, pada Rabu (20/1/2021).
Di kabinet pemerintahannya, Joe Biden memiliki Menteri Pertahanan (Menhan) baru.
Senat Amerika Serikat ( AS) mengukuhkan Lloyd J Austin III sebagai Menteri Pertahanan (Menhan) AS pada Jumat (22/1/2021).
Lloyd Austin menjadi pria kulit hitam pertama yang menduduki jabatan sebagai Menhan AS dan berkantor di Gedung Pentagon.
Dia mengisi jabatan posisi yang krusial di bawah kabinet Presiden AS Joe Biden, sebagaimana dilansir New York Times.
Baca juga: Video Viral Detik-detik Suku Togutil Memanah Warga yang Menyeberangi Sungai, Ini Penjelasan Polisi
Baca juga: Raffi Ahmad Tiba-tiba Menangis Minta Maaf sama Nagita Slavina, Akui Kesalahan Terbesarnya
Baca juga: Si Ibu Terbangun Mendengar Jeritan Tengah Malam Sang Anak, Ada Hewan Ini Sedang Gigit Tangan Anaknya
Austin mendapat suara yang telak dari Senat AS, di mana 93 anggota Senat AS memilihnya untuk duduk di kursi Menhan AS, sedangkan dua suara menolaknya.
Dua senator AS yang menolak konfirmasi Austin adalah Senator Josh Hawley dari Missouri dan Mike Lee dari Utah.
Keduanya merupakan politikus dari Partai Republik.
Sebelumnya, Senat dan DPR AS menyetujui salah satu syarat pengangkatan Austin sebagai Menhan AS.
Austin pensiun dari dinas militernya di Angkatan Darat pada 2016, sehingga dia belum genap tujuh tahun setelah pensiun untuk menjabat di pos Menhan AS.
Pensiunan jenderal bintang empat Angkatan Darat AS itu harus diberikan pelolosan dan pengabaian dari undang-undang (UU) yang mewajibkan Menhan AS menunggu tujuh tahun setelah pensiun sebelum menerima jabatan itu.
DPR AS lantas meloloskan Austin dari UU tersebut pada Kamis (21/1/2021) dan diikuti oleh persetujuan dari Senat AS, sebagaimana dilansir CNN.
Baca juga: Tips Sederhana Usir Tikus di Rumah, Hindari Penggunaan Racun Tikus hingga Cukup Gunakan Daun Sirsak
Baca juga: Ditembak KKB di Papua, Dua Prajurit TNI Gugur Deberondong Saat Melaksanakan Shalat Subuh
“Ini momen yang luar biasa dan bersejarah,” kata Senator Jack Reed, seorang politikus dari Partai Demokrat sekaligus Ketua Komite Angkatan Bersenjata.
"Sebagian besar angkatan bersenjata kita saat ini adalah orang Afrika-Amerika atau Latin, dan sekarang mereka dapat melihat diri mereka sendiri di bagian paling atas di Kementerian Pertahanan, yang mewujudkan gagasan tentang peluang," imbuh Reed.
Ternyata Austin bukan orang sembarangan di militer Amerika Serikat.
Austin juga menjadi orang Afrika-Amerika yang pernah memimpin Komando Pusat AS dengan tanggung jawab atas Irak, Afghanistan, Yaman, dan Suriah.
Dia pensiun pada 2016 setelah 41 tahun mengabdi di militer AS dan dihormati secara luas di seluruh Angkatan Darat AS.
Meskipun 43 persen dari 1,3 juta anggota angkatan bersenjata AS adalah orang kulit berwarna, para pemimpin di puncak rantai komando adalah orang kulit putih.
Ketika mantan Presiden Barack Obama memilih Austin untuk memimpin Komando Pusat AS, dia menjadi salah satu orang kulit hitam dengan jabatan tertinggi di militer.
Baca juga: Fenomena Langka, Gurun Sahara dan Arab Saudi Hujan Salju, Terjadi Secara Drastis
Baca juga: Masa Lalu Amanda Manopo Terungkap, Ini 5 Mantan Pacarnya, Mulai Cinta Monyet hingga Gagal Nikah
Sebelumnya, pria kulit hitam Colin L Powell juga pernah menjadi Ketua Kepala Staf Gabungan.
Anggota DPR AS dari dapil Maryland, Anthony Brown, mengatakan, pengesahan Austin sebagai Menhan AS menjadi sejarah baru bagi “Negeri Paman Sam”.
“Dia (Austin) seorang komandan militer berpengalaman, pemimpin yang dihormati, dan sebagai orang kulit hitam yang tumbuh di tengah pemisahan untuk mendorong kemajuan sebagai Menhan kita berikutnya," ujar Brown.
Joe Biden Keluarkan 17 Perintah Termasuk kepada Muslim di Amerika Serikat
Baru sehari jadi Presiden Amerika Serikat, Joe Biden sudah menandatangani 17 perintah eksekutif.
Presiden Amerika Serikat ( AS) Joe Biden menandatangani 17 perintah eksekutif hanya beberapa jam setelah dilantik pada Rabu (20/1/2021).
Langkah Biden tersebut dinilai sangat cepat dan agresif untuk membalikkan keputusan pendahulunya, mantan Presiden AS Donald Trump.
Dilansir dari CNN, Kamis (21/1/2021), Biden membatalkan beberapa kebijakan dari Trump.
"Tidak ada waktu lain untuk memulai selain hari ini," kata Biden kepada wartawan di Oval Office, Gedung Putih, saat dia mulai menandatangani setumpuk dokumen.
"Saya akan mulai dengan menepati janji yang saya buat kepada rakyat Amerika,” imbuh Biden.
1. Meluncurkan kampanye "100 Days Masking Challenge" yang meminta rakyat AS untuk memakai masker selama 100 hari.
Biden juga mewajibkan pemakaian masker dan penerapan physical distancing di gedung federal dan di tanah federal.
Selain itu, dia juga mendesak pemerintah negara bagian dan pemerintah daerah untuk melakukan hal yang sama.
2. Membatalkan penarikan AS dari keanggotaan Organisasi Kesehatan Dunia ( WHO). Biden juga menunjuk pakar penyakit menular AS, Anthony Fauci, menjadi kepala delegasi AS ke WHO.
3. Membuat tim khusus Koordinator Tanggap Covid-19. Tim ini melapor langsung ke Biden dan mengelola upaya produksi dan pendistribusian vaksin sekaligus peralatan medis.
4. Memperpanjang moratorium penggusuran dan penyitaan nasional yang ada hingga setidaknya 31 Maret.
5. Memperpanjang jeda untuk pembayaran pinjaman pelajar dan bunga untuk rakyat AS dengan pinjaman pelajar federal hingga setidaknya 30 September.
6. Bergabung kembali dengan Paris Agreement. Proses ini setidaknya akan memakan waktu sekitar 30 hari.
7. Mencabut izin pembangunan pipa minyak Keystone XL. Biden juga mengarahkan pihak berwenang untuk meninjau dan membatalkan lebih dari 100 keputusan Trump yang berefek buruk terhadap lingkungan.
8. Membatalkan Komisi 1776 warisan pemerintahan Trump, mengarahkan pemerintahannya untuk memastikan kesetaraan rasial.
9. Mencegah diskriminasi di tempat kerja atas dasar orientasi seksual atau identitas gender.
10. Warga non-Amerika ikut disensus.
11. Memperkuat Defered Action for Childhood Arrivals (DACA). Program ini bertujuan melindungi imigran yang masuk ke AS saat masih anak-anak.
12. Mencabut Muslim Travel Ban yang diterapkan pada pemerintahan Trump. Biden membatalkan larangan perjalanan ke 13 negara yang sebagian besar populasinya mayoritas Muslim.
13. Membatalkan perluasan penegakan imigrasi yang telah diterapkan oleh pemerintahan Trump di AS.
14. Menyetop pembangunan tembok perbatasan dengan menghentikan deklarasi darurat nasional yang digunakan untuk mendanai pembangunan itu.
15. Memperpanjang penangguhan deportasi dan izin kerja bagi warga negara Liberia dengan tempat berlindung yang aman di AS hingga 30 Juni 2022.
16. Mewajibkan pejabat eksekutif untuk menandatangani janji etika yang melarang mereka bertindak untuk kepentingan pribadi dan mengharuskan mereka untuk menjunjung independensi Kementerian Kehakiman.
17. Mengarahkan Direktur Office Management Budget (OMB) untuk mengembangkan rekomendasi untuk memodernisasi tinjauan peraturan dan membatalkan proses persetujuan peraturan Trump. (kompas.com)
(*)
Sebagian artikel ini telah tayang di bangkapos.com dengan judul Baru Sehari Jadi Presiden, Joe Biden Keluarkan 17 Perintah Termasuk kepada Muslim di Amerika Serikat dan di Kompas.com dengan judul "Sah, Lloyd Austin Pria Kulit Hitam Pertama yang Jadi Menhan AS" dan juga telah tayang di serambinews.com dengan judul Ini Menteri Pertahanan AS, Pria Kulit Hitam Pertama Pimpin Pentagon, Austin Bukan Orang Sembarangan
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/lloyd-j-austin-iii-saat-masih-aktif-di-militer-amerika-serikat-okee.jpg)