Sabtu, 2 Mei 2026

BUKAN Kakek Koswara yang Digugat Anak, Ini Koswara Lain yang Lebih Dulu Terkenal di Indonesia

Bahkan ketika kita mengetik kata kunci 'koswara' di mesin pencari google maka ada sekitar 2.480.000 hasil (0,68 detik) yang mencarinya

Tayang:
Penulis: Edy Yusmanto | Editor: Ardhina Trisila Sakti
(Tribun Jabar/Mega Nugraha)
RE Koswara (85) 

BANGKAPOS.COM -- Nama Koswara menjadi tenar baru-baru ini. 

Bahkan ketika kita mengetik kata kunci 'koswara' di mesin pencari google maka ada sekitar 2.480.000 hasil (0,68 detik) yang mencarinya.

Tampilan yang muncul pun adalah wajah kakek Koswara yang viral karena digugat anak hingga miliaran rupiah. 

Namun jika teman-teman scroll ke bawah, selain berita kakek Koswara ada tampilan lain.

Ada Koswara lain yang juga muncul di halaman google. 

Bangkapos.com mencoba membagikan cerita lain tentang nama atau kata Koswara

Ternyata ada nama Koswara lain yang sebenarnya sudah lebih dulu viral.

Beliau adalah Tatang Koswara.

Siapa beliau bangkapos..com sudah merangkumnya di bawah ini. 

Berikut dua nama Koswara yang viral atau tenar tapi beda cerita.

1.  Tatang Koswara

Bangkapos.com melansir sejumlah sumber menyebutkan Tatang Koswara ialah tentara Indonesia yang masuk ke daftar penembak jitu atau sniper terbaik di dunia, seperti tercantum dalam buku Sniper Training, Techniques and Weapons.

Dalam buku yang ditulis Peter Brookesmith itu, nama Tatang masuk ke daftar 14 besar Sniper’s Roll of Honour di dunia.

Tatang mencetak rekor 41 di bawah Philip G Morgan (5 TH SFG (A) MACV-SOG) dengan rekor 53, dan Tom Ferran (USMC) dengan rekor 41. Tatang memperoleh rekor tersebut dalam perang di Timor Timur pada 1977-1978.

Kendati menyandang predikat sniper terbaik dunia, Tatang tetap hidup dalam kesederhanaan. Kesederhanaan tersebut menjadi prinsip hidupnya.

Sniper terbaik dunia yang pernah dimiliki Indonesia ini sendiri meninggal karena serangan jantung, Selasa (3/3/2015) sekitar pukul 20.00 WIB.

Berikut ceceran kisah hidup sang Sniperterbaik kelas dunia dari Indonesia yang dirangkum dari Kompas.com:

Mata Tati Hayati terfokus pada angka jarum jam yang menunjukkan pukul 05.00 WIB. Melihat angka tersebut, Tati mempercepat gerakannya.

Dibantu sang suami, Tatang Koswara (68), ia menyiapkan segala perlengkapan untuk pergi ke Kodiklat TNI AD di Jalan Aceh, Bandung, tempat warung makannya berada.

Langkah Tati saat itu tampak tergesa karena seharusnya ia meninggalkan rumahnya di Cibaduyut pukul 05.00 WIB sehingga bisa sampai di warung pukul 05.30 WIB dan memulai jualan pukul 06.30 WIB pada saat anggota TNI AD sarapan.

Ada beberapa menu yang ditawarkan dari warung miliknya, yakni soto, gulai, dan ayam goreng. Satu paket makanan dijual seharga Rp 12.000-Rp 15.000.

"Hasil jualan tidak terlalu besar, apalagi sekarang saingannya makin banyak, tetapi lumayan untuk tambah-tambah," ucap Tati di kediamannya, di lingkungan Komplek TNI AU, Cibaduyut, Bandung, Senin (2/3/2015).

Tati menjalankan usaha warung tersebut sejak suaminya pensiun tahun 1996. Pangkat terakhir sang suami adalah pembantu letnan satu (peltu) sehingga uang pensiun yang diperoleh tidak begitu besar. Untuk mendapat uang tambahan, Tatang dan Tati bahu-membahu menjalankan warung makan tersebut dan sesekali melatih yuniornya di TNI AD.

"Saya yang memasak, suami yang mengiris daging. Kalau saat masak tiba-tiba kurang bumbu seperti cabai, suami saya yang pergi ke Pasar Cihapit untuk membelinya," tutur Tati.

Namun, sejak suaminya divonis serangan jantung dan menjalankan operasi pemasangan ring, kegiatannya di warung berkurang. Kini, yang menjaga warung adalah anaknya yang paling besar, Pipih Djuaningsih.

Di tengah kesederhanaannya, Tatang selalu bersyukur karena mereka sekeluarga memiliki rumah, meski sederhana. Paling tidak, kondisinya masih lebih jika dibandingkan sejumlah teman seangkatannya yang menghabiskan masa pensiun di rumah kontrakan atau saudara karena tidak memiliki rumah.

Tatang mencetak rekor 41 di bawah Philip G Morgan (5 TH SFG (A) MACV-SOG) dengan rekor 53, dan Tom Ferran (USMC) dengan rekor 41. Tatang memperoleh rekor tersebut dalam perang di Timor Timur pada 1977-1978.

Di bawah komando Letnan Kolonel Edi Sudrajat, Tatang menjadi sniper yang masuk ke jantung pertahanan musuh di daerah pertahanan lawan di Remexio, Lautem, Viqueque, Aileu, Becilau, dan Bobonaro.

"Dulu Pak Edi Sudrajat bilang ini misi rahasia, tidak boleh diungkapkan sebelum diperintahkan. Saya menyimpan ini rapat-rapat, termasuk pada istri. Namun kini, orang luar (asing) yang mengungkapkannya terlebih dahulu," ungkapnya sambil tersenyum.

Saat ini, Tatang masih tampak gagah dan bugar meski divonis mengidap gejala penyakit jantung. Sorot mata ataupun ingatannya masih sangat tajam. Itu terlihat saat Tatang menceritakan perjalanan hidupnya terutama saat masa perang di Timor Timur.

"Ayah saya memang seorang tentara. Tapi, saya (awalnya) tidak berniat untuk menjadi tentara," ucap Tatang di kediamannya di lingkungan kompleks TNI AU, Cibaduyut, Bandung, Senin (2/3/2015).

Namun, nasib berkata lain. Saat itu, tepatnya pada tahun 1967, Tatang disuruh ibunya mengantar sang adik untuk mendaftar menjadi anggota TNI. Saat melakukan tes, dia bertemu dengan sejumlah perwira Dandim di Banten yang mengenalnya. Tatang pun ditanya kenapa tidak ikut daftar.

"Saya kenal dengan perwira Dandim karena sebelumnya juara sepak bola. Karena juara sepak bola itu juga dan beberapa prestasi lainnya, saya diminta para perwira Dandim untuk daftar jadi anggota TNI," ujar Tatang.

Setelah pulang ke rumah, Tatang remaja sempat bingung. Hingga keesokan harinya, dia menyiapkan semua persyaratan dan mendaftarkan diri lewat jalur tamtama.

Sesuai dugaan, Tatang lulus, sedangkan adiknya harus mencoba tahun depan untuk bergabung ke TNI AD.

Jago Menembak

Selama di dunia militer, Tatang mendapat sorotan dari atasannya. Pengalamannya hidup di kampung membuat pelajaran militer menjadi hal yang tak sulit baginya, baik dalam hal fisik, berenang, maupun menembak.

Hingga tahun 1974-1975, Tatang bersama tujuh rekannya terpilih masuk program mobile training teams (MTT) yang dipimpin pelatih dari Green Berets Amerika Serikat, Kapten Conway.

"Tahun itu, Indonesia belum memiliki antiteror dan sniper. Muncullah ide dari perwira TNI untuk melatih jagoan tembak dari empat kesatuan, yakni Kopassus (AD), Marinir (AL), Paskhas (AU), dan Brimob (Polri). Namun, sebagai langkah awal, akhirnya hanya diikuti TNI AD," imbuhnya.

Dalam praktiknya, Kopassus pun kesulitan memenuhi kuota yang ada. Setelah seleksi fisik dan kemampuan, dari kebutuhan 60 orang, Kopassus hanya mampu memenuhi 50 kursi.

Untuk memenuhi kekosongan 10 kursi, Tatang dan tujuh temannya dilibatkan menjadi peserta. Tatang dan 59 anggota TNI AD dilatih Kapten Conway sekitar dua tahun. Mereka dilatih menembak jitu pada jarak 300, 600, dan 900 meter. Tak hanya itu, mereka juga dilatih bertempur melawan penyusup, sniper, kamuflase, melacak jejak, dan menghilangkannya.

Dari dua tahun masa pelatihan, hanya 17 dari 60 orang yang lulus dan mendapat senjata Winchester model 70.

Seperti dikutip majalah Angkasa dan Shooting Times, Winchester 70 yang disebut "Bolt-action Rifle of the Century" ini juga digunakan sniper legendaris Marinir AS, Carlos Hathcock, saat perang Vietnam. Senjata ini memiliki keakuratan sasaran hingga 900 meter.

Rupanya senjata dan ilmu yang diperoleh dari pasukan elite Amerika Serikat ini membantu Tatang dalam pertempuran. Sebab, setelah itu, Tatang ditarik Kolonel Edi Sudrajat, Komandan Pusat Pendidikan Infanteri (Pusdiktif) Cimahi, menjadi pengawal pribadi sekaligus sniper saat terjun ke medan perang di Timor Timur (1977-1978).

Ada dua tugas rahasia yang disematkan pada dua sniper saat itu (Tatang dan Ginting). Pertama, melumpuhkan empat kekuatan musuh, yaitu sniper, komandan, pemegang radio, dan anggota pembawa senjata otomatis.

Kedua, menjadi intelijen. Intinya masuk ke jantung pertahanan, melihat kondisi medan, dan melaporkannya ke atasan yang menyusun strategi perang.

Bahkan, ada kalanya sniper ditugaskan untuk mengacaukan pertahanan lawan. Hal ini bertujuan untuk mengurangi jatuhnya korban.

"Lawan kita itu Pasukan Fretilin yang tahu persis medan di Timtim. Mereka pun punya kemampuan gerilya yang hebat, makanya Indonesia menurunkan sniper untuk mengurangi jumlah korban," ujarnya.

Merah Putih

Pada suatu hari, Tatang ditugaskan masuk ke jantung pertahanan lawan. Tanpa disadari, Tatang berada di tengah kepungan lawan. Ada 30 orang bersenjata lengkap di sekelilingnya.

Tatang terperangkap dan tak bisa bergerak sama sekali. Dalam pikirannya hanya ada satu bayangan, kematian. Namun, sebelum mati, ia harus membunuh komandannya terlebih dahulu.

"Posisi komandannya sudah saya kunci dari pukul 10.00 WIB. Tapi, saya juga ingin selamat, makanya saya menunggu saat yang tepat. Hingga pukul 17.00 WIB, komandan itu pergi ke bawah dan saya tembak kepalanya," tuturnya.

Namun, ternyata, di bawah jumlah pasukan tak kalah banyak. Tatang dihujani peluru dan terkena dua pantulan peluru yang sebelumnya mengenai pohon.

"Darah mengalir deras hingga sudah sangat lengket. Tapi, saya tidak bergerak karena itu akan memicu lawan menembakkan senjatanya," ucapnya.

Tatang baru bisa bergerak malam hari. Ia mencoba mengikatkan tali bambu di kakinya. Dengan bantuan gunting kuku, dia mencongkel dua peluru yang bersarang di betisnya. Namun, darah tak juga berhenti mengalir. Ia pun melepas syal merah putih tempat menyimpan foto keluarga. Sambil berdoa, dia mengikatkan syal tersebut di kakinya.

"Saya memiliki prinsip, hidup mati bersama keluarga, minimal foto keluarga. Saya pun berdoa diberi keselamatan agar bisa melihat anak keempat saya yang masih dalam kandungan, lalu mengikatkan syal merah putih. Ternyata, darah berhenti mengalir. Merah putih menjadi penolong saya," ungkapnya.

Selama empat kali masuk ke medan perang, Tatang mengatakan, pelurunya telah membunuh 80 orang. Bahkan, dalam aksi pertamanya, dari 50 peluru, 49 peluru berhasil menghujam musuh.

Satu peluru sengaja disisakannya. Ini untuk memenuhi prinsip seorang sniper yang pantang menyerah. Sebagai seorang sniper, dalam keadaan terdesak, dia akan membunuh dirinya sendiri dengan satu peluru tersebut.

Lewat kelihaiannya itulah, Tatang didaulat menjadi salah satu sniper terbaik dunia, seperti dituliskan dalam buku yang ditulis Brookesmith itu. Tatang mencetak rekor 41 di bawah Philip G Morgan (5 TH SFG (A) MACV-SOG) dengan rekor 53 dan Tom Ferran (USMC) dengan rekor 41. Tatang memperoleh rekor tersebut dalam perang di Timor Timur pada 1977-1978.

Jadi Tentara

Suara mesin jahit terdengar sayup dari ruang keluarga. Tidak lebih dari 15 menit, suara tersebut hilang, beriringan dengan kemunculan seorang perempuan setengah baya dari balik pintu ruangan tersebut.

"Silakan diminum. Maaf seadanya," ujar Tati Hayati, istri Tatang Koswara (68), salah satu sniper (penembak jitu) terbaik dunia, di kediamannya di kawasan Cibaduyut, Bandung, Senin (2/3/2014).

Tati mengatakan, sejak menikah dengan Tatang pada 1968, ia sudah terbiasa hidup sederhana. Misalnya dalam hal pakaian. Untuk pakaian keluarganya, ia jarang membeli baju. Biasanya ia membeli kain kiloan di Cigondewah atau Pasar Baru, Bandung, untuk kemudian dijahit.

"Pakaian untuk dipakai sendiri saja, tidak untuk dijual," ucapnya sambil tersenyum.

Tatang menuturkan, kepandaian Tati dalam menjahit telah membantu perekonomian keluarga. Dengan menjahit, ada nilai ekonomi yang bisa dihemat. Tati mencontohkan, ia beberapa waktu lalu melihat pakaian berharga Rp 300.000 di toko. Meski memiliki uang dengan jumlah tersebut, Tatang tidak membelinya. Ia mengantar sang istri mencari kain kiloan dan menjahitnya.

Hidup sederhana memang sudah diterapkan Tatang dan Tati sejak membina rumah tangga. Bahkan, bagi Tatang, ketika dirinya menyatakan bergabung ke TNI, bayangan hidup sebagai orang kaya tak pernah terlintas sedikit pun karena menjadi TNI seperti burung yang diberi makan (gaji) tepat pada waktunya.

"Menjadi TNI tidak akan kelaparan, tetapi tidak akan kaya. Saya sudah siap dengan itu. Makanya, saat akan menikah, saya bertanya kepada istri apa siap hidup sederhana dan mungkin pas-pasan. Ternyata istri saya mau," imbuhnya.

Begitupun saat kali pertama ia menyerahkan gaji ke istrinya. Saat itu, Tatang berpesan agar Tati pintar dalam mengelola keuangan yang seadanya. Namun, tanpa diberi tahu, sang istri pintar dalam mengelola keuangan. Pengalamannya di Persatuan Istri Prajurit (Persit) memberi banyak keahlian.

"Istri saya ini pintar memasak apa pun. Mau makanan Padang, Madura, Sunda, atau apa pun. Ini semua belajar dari Persit," tuturnya.

Karena kelihaiannya tersebut, ia dan sang istri pernah berbisnis katering untuk pabrik. Pegawai pabrik menyukai masakan sang istri. Selain karena enak, menu yang ditawarkan beragam. Misalnya, hari Senin makanan Sunda, lalu Selasa makanan Padang, Rabu makanan Madura, dan seterusnya.

Namun, kini ia dan istrinya hanya menjalankan bisnis rumah makan di Kodiklat TNI AD Bandung. Di rumah makan berukuran 4 x 3 meter yang berada di dalam Pujasera Serdadu tersebut, Tatang dan istrinya bahu-membahu menjalankan bisnisnya. Kini, setelah divonis penyakit jantung, usaha rumah makan tersebut dilanjutkan oleh anaknya.

Tatang mengatakan, suka duka menjadi tentara yang mengabdikan hidup hanya bagi negara menjadi bagian hidupnya sehari-hari. Namun, ia tidak pernah menyesal menjadi tentara. Bahkan, ia merasa bangga, apalagi ketika ia berhasil membesarkan keempat anaknya dengan baik. Bahkan, anak laki-lakinya kini menjadi pengacara.

"Anak saya enggak ada yang jadi tentara. Ada sih menantu saya yang jadi tentara. Satu mantu lagi seorang arsitek," tutupnya menceritakan buah dari kehidupan sederhananya.

2.  RE Koswara

Polemik ayah dan anak satu ini benar-benar menyita perhatian publik.

Tuntutan soal ganti rugi miliaran rupiah membuat banyak orang tak habis pikir.

Kemarahan Koswara (85) kepada anak-anaknya sangat beralasan.

Banting tulang, peras keringat, siang malam.

Tak pedulikan panas dan hujan ia bekerja untuk menafkahi keluarga dan anak-anaknya.

Ia juga harus membiayai kuliah semua kuliah anak-anaknya.

Tapi apa balasannya ketika sudah jadi sarjana. 

Anak-anaknya dinilai durhaka. Bapaknya yang sudah tua renta digugat hingga Rp 3 miliar.

Uang sebesar itu diakui Koswara harus didapatnya dari mana.

Ia pun marah hingga mencoret 4 anak-anaknya yang telah menggugatnya dari kartu keluarganya

Termasuk Deden dan almarhumah Masitoh dari kartu keluarga.

Hal itu dilakukan Koswara karena Deden tetap kukuh tak menyesal sudah gugat ayahnya, Koswara senilai Rp 3 M.

Kasus ini diketahui berawal saat Deden, pria asal Kabupaten Bandung yang menggugat ayahnya, RE Koswara ke pengadilan gara-gara tak lagi mengontrakan toko kepadanya lagi.

Selain gugat Rp 3 M, Masitoh dan Deden juga meminta bayar ganti rugi material Rp 20 juta dan immateriil senilai Rp 200 juta.

Mengetahui dirinya didugat sendiri oleh 3 anaknya, Koswara menangis histeris.

Kakek usia 85 tahun ini mengaku sudah banting tulang demi menyekolahkan semua anak-anaknya hingga sarjana.

"Semua anak saya sarjana. Satu orang sudah ( Masitoh) SH., MH," ucap Koswara sambil menangis.

"Dia (Masitoh) juga anak saya yang ketiga. Pengacara, Masitoh SH MH," kata Koswara.

Namun ketika kini ia digugat anaknya Rp 3 M, Koswara mengaku tak tahu kemana harus mencari uang sebanyak itu.

"Saya uang dari mana. Menyekolahkan mereka juga sudah lebih dari itu (Rp 3 M). Nyarinya juga hujan panas berangkat untuk cari uang demi keperluan mereka, sekarang mah saya mau istirahat," ucap Koswara.

Pada wawancara pekan lalu, Hamidah mengungkap bahwa bapaknya sempat membuat surat pernyataan tertulis sebagai bentuk kekecewaannya pada anak-anaknya yang menggugat.

Bapaknya membuat surat tertulis bermaterai dengan cap notaris yang menyatakan dia tidak lagi mengakui Masitoh, Deden, Ajid dan Muchtar sebagai anaknya lagi.

"‎Iya, bapak saya menulis pernyataan tertulis tidak mengakui empat orang, Deden, Masitoh, Ajid dan Muchtar sebagai anaknya."

"Itu ditandatangani tertulis oleh bapak saya, di hadapan notaris dan tujuh saksi. Itu karena bapak saya sangat kecewa, padahal semuanya anak seibu sebapak," ucap Hamidah.

Melihat sang ayah tiba-tiba mencoretnya dari KK, Deden pun langsung bertindak.

Ia nyatanya kini ingin meminta maaf dan berdamai dengan Koswara.

Ditemui di Pengadilan Negeri Bandung pada Selasa (26/1/2021), Deden mencurahkan isi hatinya.

Dengan mata berkaca-kaca, Deden mengaku punya banyak dosa kepada orangtuanya karena sudah gugat sang ayah, Koswara Rp 3 M.

Meski menggugat ayah, Deden mengaku sangat menyayangi orangtuanya.

"Saya punya dosa, orang tua lebih sayang sama saya, saya juga sayang sama orang tua. Saya minta maaf," ucap Deden, dilansir TribunnewsBogor.com dari TribunJabar.

Selain mohon ampun, Deden juga mengaku siap jika diminta bersujud di depan kaki sang ayah, Koswara.

"Saya juga sempat minta ke adik-adik saya untuk minta maaf ke bapak. Harus sujud ke orangtua, saya ngomong itu ke kakak dan adik saya," ucap Deden.

"Saya minta maaf. Saya sayang benar sama orangtua. Orangtua nyekolahin saya," pungkas Deden dilansir dari video TribunJabar.com, Rabu (27/1/2021).

Tak cukup sekali, Deden pun berkali-kali menyampaikan permohonan maaf atas perbuatannya kepada orang tuanya.

"Saya juga minta maaf kalau apabila saya benar-benar salah. Soalnya saya sayang sama orangtua. Benar-benar sayang dari lubuk hati.

Karena nanti mati juga, yang ditanya mana ibumu mana bapakmu," tambah Deden.

Lebih lanjut, Deden pun siap untuk berdamai dengan sang ayah, Koswara.

"Saya siap bersujud di kaki Bapak. Saya minta maaf, saya benar-benar salah, saya sayang sama orangtua.

Orangtua sekolahkan saya hingga seperti ini, saya siap untuk perdamaian," ucap Deden.

Deden pun curhat bahwa dirinya sempat ingin menemui Koswara dan meminta maaf.

Namun niatan Deden itu dihalang-halangi oleh adiknya sendiri, Hamidah yang juga ikut digugatnya.

Momen itu terjadi saat sang adik, Masitoh meninggal dunia.

Masitoh adalah anak Koswara yang sempat menjadi pengacara Deden.

Beberapa hari membela sang kakak, Deden, Masitoh pun meninggal dunia.

"Saya sangat sayang sama orangtua. Sebetulnya tidak ada apa-apa. Karena Hamidah menghalang-halangi saya mau ke Bapak. Saya mau ke Bapak, waktu meninggalnya ibu Masitoh, saya langsung ke rumah. Kata Hamidah disuruh ke pengadilan. Itu nantang," ungkap Deden.

Namun, meski minta maaf dan siap sujud, Deden mengaku tidak menyesal sudah menggugat ayahnya Rp 3 M.

"Saya tidak menyesal karena saya lebih sayang kepada orangtua," akui Deden.

Ditegaskan sang pengacara, gugatan yang dilayangkan Deden kepada sang ayah, Koswara ini adalah karena pembelaan diri.

"Bagi kami, ini tidak sesederhana opini orang, ada anak gugat orangtua. Apa yang dilakukan Deden adalah bagian dari membela diri, membela haknya," ucap Musa Darwin Pane, via ponsel dilansir dari TribunJabar.com. (Bangkapos.com/Edy Yusmanto/intisari/grid/tribun jabar/tribunnews.com)

Sumber: bangkapos
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved