Kamis, 14 Mei 2026

Pengakuan Hendri Penjaga Kamar Mayat dari Mandi Sampai 6 Kali Sehari Hingga Temukan Hal Mistis

Menjadi petugas pemulasaran Jenazah atau juga kerap disebut kamar mayat di sebuah rumah sakit tentunya bukan pekerjaan yang gampang

Tayang:
Editor: M Zulkodri
Tribunsumsel.com/Eko Hepronis
Hendri Kusuma penjaga ruang pemulasaran jenazah di Rumah Sakit Siti Aisyah (RSSA) 

BANGKAPOS.COM ---Menjadi petugas pemulasaran Jenazah atau juga kerap disebut kamar mayat di sebuah rumah sakit tentunya bukan pekerjaan yang gampang.

Sebab pekerjaan ini terbilang tak lajim bahkan tidak sedikit yang mengalami hal-hal yang terkadang di luar nalar.

Seperti pengakuan Hendri Kusuma penjaga ruang pemulasaran jenazah di rumah Sakit siti Aisyah (RSSA) Lubuklinggau.

Hendri panggilan akrabnya, telah bekerja sebagai penjaga kamar pemulasaran jenazah RS milik Pemkot Lubuklinggau Sumsel sejak enam tahun silam hingga saat ini.

Pria lulusan SMA ini berhadapan dengan jenazah telah biasa, mulai dari jenazah yang tubuhnya masih normal, hingga tidak normal, bahkan kadang tidak lengkap anggota tubuhnya.

Hendri mengaku awal bertugas pertama kali di ruang pemulasaran jenazah sempat takut-takut, sebab pekerjaannya tersebut merupakan pekerjaan yang tak lazim untuk orang biasa.

"Takut-takut itu sekitar dua bulan lah, kalau bahasa Jawanya sawan, tapi lama-lama tidak lagi jadi biasa, seiring sering mandikan jenazah," ujarnya pada wartawan, Selasa (9/2/2021).

Sebagai petugas di ruang pemulasaran jenazah Hendri mengaku selalu on call 1 x 24 jam, ketika ada mayat di RS
tidak mengenal lebaran atau pun tahun baru ia langsung datang.

Bahkan Hendri mengaku ketika awal-awal pandemi Covid-19, sebagai antisipasi adanya pasien Covid-19 meninggal dunia ia pernah tidur di kamar jenazah selama empat bulan dan tidak pulang ke rumah sama sekali.

"Kalau pribadi tidak ada rasa takut karena sejak masuk, selalu doa baca alfatihah dengan ayat kursi, namanya kita kerja menghadapi berbagai macam mayat dari berbagai latar belakang," ungkapnya.

Menurutnya kunci utama ia bisa betah hingga sampai saat ini adalah bekerja ikhlas, dari dalam hati harus diniatkan untuk membantu sesama, apalagi waktu awal pandemi kemarin semua orang ketakutan.

"Tapi saya tetap bekerja, saat itu saya kerja sendiri tidak ada teman, saya pakai APD saya kapani saya shalatkan, semua orang bilang nanti tertular, tapi yakin alhamdulillah belum pernah, swab selalu negatif," ungkapnya.

Hendri pun mengaku dalam sehari pernah mengurus jenazah paisen Covid-19  hingga dua orang.

Akibatnya saat itu Hendra jatuh sakit dan harus istirahat beberapa hari.

"Kalau dipikir wajar demam karena mandi berkali-kali, sampai dua kali sampai tiga kali sehabis ngurus jenazah, saat itu kadang dua jenazah, mandi bisa sampai enam kali sehari, wajar sakit," ujarnya.

Sumber: Sriwijaya Post
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved