Jumat, 17 April 2026

12 Jam Bersama Penyintas Covid19

Budiman Hutasoit 40 Kali Disuntik Selama Isolasi, Sempat Panik Dua Orang Sebelah Kamarnya Meninggal

Kabag Kerma Ops Polda Babel Budiman Hutasoit merupakan penyintas covid-19 bergejala berat. Dia pun menceritakan pengalamannya melawan Covid-19.

Penulis: Andini Dwi Hasanah | Editor: M Ismunadi
Budiman Hutasoit 40 Kali Disuntik Selama Isolasi, Sempat Panik Dua Orang Sebelah Kamarnya Meninggal - live-12-jam-bersama-penyintas-covid-19-kabag-kerma-ops-polda-babel-budiman-hutasoit.jpg
Bangkapos.com/Andini Dwi Hasanah
Live 12 jam bersama penyintas covid-19 Kabag Kerma Ops Polda Babel Budiman Hutasoit.
Budiman Hutasoit 40 Kali Disuntik Selama Isolasi, Sempat Panik Dua Orang Sebelah Kamarnya Meninggal - live-12-jam-bersama-penyintas-covid-19-kabag-kerma-ops-polda-babel-budiman-hutasoit01.jpg
Bangkapos.com/Andini Dwi Hasanah
Live 12 jam bersama penyintas covid-19 Kabag Kerma Ops Polda Babel Budiman Hutasoit.

Budiman Hutasoit 40 Kali Disuntik Selama Isolasi, Sempat Panik Dua Orang Sebelah Kamarnya Meninggal

BANGKAPOS.COM, BANGKA-- "Covid-19 ini tak sopan, lancang dia menyerang siapa saja, anggota kepolisian bahkan satgas covid-19 saja dia serang," demikian kata Kabag Kerma Ops Polda Babel Budiman Hutasoit yang merupakan penyitas covid-19 bergejala berat.

Hutasoit selain anggota kepolisian yang bertugas di Polda Babel juga merupakan satgas covid-19 yang bekerjasama dengan BPBD Provinsi menangani kasus covid di Babel.

Dia terpapar covid-19, saat berangkat ke Belitung Timur mengawali perencanaan dan pengendalian pemilu serentak di empat Kabupaten di Bangka Belitung tabun 2020 lalu.

Ketika pulang ke Pangkalpinang hasil rapidnya dinyatakan positif di Rumah Sakit Bakti Wara Kota Pangkalpinang, dan ia langsung diminta untuk tes PCR di Public Safety Center (PSC) Dinas Kesehatan Kota Pangkalpinang. Dan hasilnya positif.

Sembari menunggu hasil tes PCR keluar, Hutasoit sudah merasakan gejala covid-19, nafasnya terasa sesak, namun saat itu ia masih tak percaya dirinya positif covid-19 sebab belum dinyatakan positif oleh tes PCR.

Setelah hasil keluar, dan gejala sesak nafasnya tidak lagi bisa tertahan dirinya terpaksa harus isolasi di RSUP Provinsi Bangka Belitung.

Dengan bantuan semua alat pernafasan termasuk ventilator, sebab dirinya mengalami susah nafas yang berat, dannhasil rontgen paru-parunya sudah berwarna hitama.

"Makanya benar-benar jaga diri kita semua, jangan sampat terkena, benar-benar tidak enak betul, saya sudah merasakan sendiri bagaimana sesaknya wakti itu," ujar Hutasoit dengan logat Medannya.

Selama 15 hari dirinya malukan isolasi di RSUP dengan status kasus konfirmasi dengan gejala berat, dan 10 hari isolasi mandiri setelah kepulangannya dari rumah sakit.

Bahkan, dihari kedua isolasi seorang anggota kepolisian itu sempat khawatir, sebab pasien terkonfirmasi sebelah kamar isolasinya meninggal dunia.

"Mulai panik itu saya, hari pertama saya masih biasa saja cuma demam gitu, hari kedua saya terkejut dengar keluarga jerit-jerit disebelah kamar saya, ternyata orang itu meninggak sedangkan saya sendiri dinruangan itu, langsung lemas saya, masih takut mati saya ini," bebernya.

Namun saat itu, pesan perawat yang merawatnya lah yang selalu ia ingat sampai sekarang, membuatnya semangat untuk sembuh dan melanjutkan hidup.

"Saya sangat mengucapkan terimakasih kepada perawat disana yang sudah bejuang, dan pesannya yang selalu saya ingat untuk saya semangat hidup dan sembuh, waktu itu dia bilang 'pak Hutasoit hanya dua yang saya minta pada bapak jangan setres dan jangan sisakan makanan yang diberikan rumah sakit, semua harus habis', itu yang selalu saya ingat dan saya lakukan betul," sebutnya.

Meskipun saat itu, kata Hutasoit dirinya benar-benar terpaksa menghasibkan semua makanan yang diberikan rumah sakit itu. Sebab dari segi rasa benar-benar tak enak dilidahnya.

Sumber: bangkapos.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved