Sabtu, 18 April 2026

Kisah Sultan Hamengku Buwono IX Soal Ramalan Indonesia Akan Sejahtera Jika Terkumpulnya Pusaka Ini

Namun sekali lagi, setiap ramalan hendaknya dihadapi sewajarnya, sekadar diterima sebagai pengetahuan dan jangan

Editor: Iwan Satriawan
profilbos
Sri Sultan Hamengku Buwono IX 

BANGKAPOS.COM-Baru-baru ini seorang kolumnis sekaligus mantan wartawan harian Kompas , Joseph Osdar, berbagi kisahnya soal Pusaka Jawa dan ramalan dibaliknya dari Hamengku Buwono IX.

Kisah tersebut ia ungkapkan saat mengunjungi makam para raja-raja Mataram di Kota Gede, Yogyakarta, pada Jumat 22 Januari 2021 lalu.

Seperti dilansir Kompas.com, berikut yang dia tuliskan:

Selama tiga tahun terakhir ini, saya sudah dua kali datang ke makam para raja Mataram di Yogyakarta tersebut.

Namun pada 7 Februari 2019 lalu, saya juga datang ke Imogiri selain ke Kota Gede.

Waku itu, 7 Frebuari 2019, saya mengunjungi antara lain makam Sultan Agung, Sultan Hamengku Buwono I dan Hamengku Buwono IX. Dengan HB IX saya punya kenangan tersendiri.

Pada 1985, saya jumpa Sultan Hamengku Buwono (HB ) IX di sebuah ruang di sebuah rumahsakit di kawasan Rawamangun, Jakarta.

Ketika itu saya dan Wakil Presiden RI 1973 - 1978 itu sedang menjenguk pelukis S Sudjojono yang sedang sakit. HB IX dan Sudjono kini telah almarhum.

Sore itu Pak Jon (sapaan akrab Sudjojono) yang duduk bersila di tempat tidur dan HB IX, duduk di kursi, sedang berbincang-bincang.

Saya mendengarkan kedua tokoh ini kadang-kadang menggunakan bahasa Jawa halus, Bahasa Indonesia dan Belanda.

Sekali-sekali HB IX memandang saya sambil senyum. Beliau tahu saya wartawan.

Nampaknya beliau ingin menyampaikan sesuatu pada saya, tapi terpotong dengan pembicaraannya dengan Pak Jon.

Saat itu saya juga ingin menyampaikan sesuatu pada beliau (HB IX), tapi keinginan saya tidak kesampaian sampai saat ini.

Ketika itu sebenarnya saya ingin bertanya tentang sosok Nyai Rara Kidul yang pernah menampakan diri pada beliau (Buku Takhta Untuk Rakyat - Celah-celah Kehidupan Sultan Hamengku Buwono IX halaman 106-107 terbitan pertama April 1982 ).

“Saya menyebut Eyang Rara Kidul saja. Dan saya pernah mendapat kesempatan melihatnya setelah menjalani ketentuan yang berlaku, seperti berpuasa selama beberapa hari dan sebagianya,” demikian kata Ngarso Dalem (HB) IX di bawa artikel sub judul Yang Irasional, yang Berbau Mistik (Bab 13).

Sumber: Intisari
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved