Horizzon

Ketika Gayung Air Meredam Virus

Tidak perlu munafik, nyaris kebanyakan dari kita mengenakan masker bukan didasari atas kebutuhan untuk melindungi diri dari virus

Editor: suhendri
Bangka Pos
IBNU TAUFIK Jr / Pemred BANGKA POS GROUP 

SEBUAH ember plastik warna merah berisi air terletak di depan pintu sebuah kantor swasta di Kota Pangkalpinang. Persis di belakang ember tersebut diletakkan, poster berisi imbauan penerapan protokol kesehatan juga terpasang di dinding kantor yang terbuat dari kaca.

Kewajiban bagi klien yang masuk untuk mengenakan masker juga terpampang dengan tulisan besar berwarna merah dengan latar belakang putih.

Komposisi tulisan merah dengan dasar putih dan pilihan huruf berjenis kotak membuat tulisan tersebut mudah terbaca oleh siapa pun yang akan masuk ke kantor yang ukurannya tak begitu besar ini.

Saat masuk, dua perempuan yang duduk di meja customer service tampak menyapa setiap customer yang masuk dengan suara sedikit keras.

Bukan berarti tidak sopan, lantaran mengenakan masker, maka sedikit mengeraskan produksi suara menjadi pilihan wajib agar komunikasi dengan customer tetap berjalan.

Tidak cukup sampai di situ, selain mengeraskan suara, sesekali baik petugas perempuan dan customer harus mendekatkan diri saat berbicara. Sesekali, mereka juga berbicara diikuti dengan gerakan tangan untuk menguatkan maksud yang dibicarakan dengan isyarat tangan.

Di dalam kantor layanan pelanggan sebuah perusahaan swasta tak ada yang menarik untuk diulas. Situasinya mungkin sebelas-dua belas dengan kantor-kantor lainnya di era pandemi ini.

Sejumlah kursi yang disediakan juga beberapa di antaranya diberi tanda silang, sebagai bentuk penerapan protokol kesehatan, regulasi dari pemerintah.

Yang menarik justru ketika kita kembali ke luar kantor dan melihat kembali ember merah tempat cuci tangan bagi pengunjungnya.

Tidak seperti tempat cuci tangan di tempat lain yang di situ selalu identik dengan keran. Bahkan kita tahu, banyak tempat cuci tangan yang disediakan sudah beradaptasi dengan masa pandemi yang tidak harus menyentuh keran air.

Ada yang menggunakan sistem otomatis elektrik, atau yang sempat ngetren adalah tempat cuci tangan yang keran airnya bisa keluar dengan cara menginjak pedal di bagian bawah keran.

Mau tahu bagaimana ember berwarna merah tempat cuci tangan di tempat ini? Bukannya keran, untuk bisa cuci tangan, customer harus menggunakan gayung air warna biru pudar yang dimasukkan di dalam ember tersebut.

Bahkan meski cukup sulit untuk dideskripsikan, tampak sekali jika air di ember tersebut juga jarang diganti. Terakhir, isi air di dalam ember tersebut juga tak lebih dari separuhnya.

Meski beberapa customer yang datang ke kantor ini relatif banyak, namun hampir semua permukaan ember juga kering.

Intinya, saat kita berniat cuci tangan sebelum masuk ke kantor ini, maka kondisi ember merah berisi separuh air dan gayung air biru lusuh ini bisa dipastikan akan memudarkan niat kita untuk cuci tangan.

Sumber: bangkapos
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved