Berita Sungailiat
Mata Merah dan Tak Nafsu Makan, Babi pun Mati, Penyakit Ini Meresahkan Peternak
Sejumlah peternak babi mandiri di Wilayah Kabupaten Bangka mengeluh. Pasalnya, sejak beberapa pekan terakhir sejumlah hewan ternak peliharaan mereka
Penulis: edwardi |
BANGKAPOS.COM , BANGKA -- Sejumlah peternak babi mandiri di Wilayah Kabupaten Bangka mengeluh. Pasalnya, sejak beberapa pekan terakhir sejumlah hewan ternak peliharaan mereka banyak yang mati.
Kematian babi tersebut diawali gejala mata merah, tidak nafsu makan dan setelah itu mati.
Keluhan ini ramai disampaikan para peternak melalui media sosial (Medsos) karena sebelumnya belum pernah mengalami kejadian ini.
"Hewan ternak babi peliharaan saya sudah mati 15 ekor dengan gejala awal mati menjadi merah lalu tidak mau makan dan akhirnya mati," kata seorang peternak babi di Kelurahan Lubuk Kelik Kecamatan Sungailiat Kabupaten Bangka, Jumat (12/03/2021).
Menurutnya hewan ternak miliknya yang mati selanjutnya dikuburkan ke dalam tanah, karena penyakit ini kelihatan mudah menular kepada hewan ternak lainnya yang masih sehat.
Kejadian ini selain dialami peternak babi di Kecamatan Sungailiat, juga terjadi di Kecamatan Merawang dan Kecamatan Riausilip Kabupaten Bangka.
Menanggapi hal ini Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Bangka, Elius Gani, Jumat (123/2021) mengakui adanya laporan para peternak babi yang menyebut soal kematian ternaknya.
"Kejadian ini sudah dilaporkan ke Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dan kemarin juga ada tim dari Dinpanpertan Bangka dan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung serta surveilans dari Balai Pentiliner Lampung turun ke lapangan mengambil sampel darah dan organ tubuh babi yang mati di Desa Rebo, Merawang dan Deniang," kata Elius Gani.
Ditambahkan dari hasil identifikasi sementara ini diduga babi tersebut mati karena terserang penyakit demam babi Afrika.
"Penyakit demam babi Afrika ini hanya penyakit biasa hanya saja perlu upaya pencegahannya agar tidak meluas, caranya babi-babi yang sakit tidak dicampurkan dengan babi-babi yang masih sehat karena penyebabnya virus sehingga dikhawatirkan menulari babi yang sehat," ujar Elius Gani.
Ditambahkannya, selain itu untuk pencegahannya pakan ternak babi harus dimasak dulu dan bahan pakan jangan sampai mengandung atau terkontaminasi virus itu.
Sementara Krisna Ningsih, Kabid Peternakan dan Kesehatan Hewan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Bangka menambahkan penyakit demam babi Afrika atau ASF ini merupakan penyakit flu babi yang menyerang sistem pernafasan babi dan mudah menjalar sesama ternak babi.
"Namun penularannya juga bisa melalui manusia, maksudnya bila kita melihat babi yang sakit lalu kita juga ke tempat babi yang sehat maka kita bisa menjadi saluran penularannya, penularan penyakit ini cukup cepat dan juga cepat menyebabkan kematian pada babi," jelas Krisna.
Diungkapkannya, surveilans dari Balai Pentiliner Lampung sudah turun ke lapangan bersama petugas Dinpanpertan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sudah mengambil sampel darah dan organ tubuh untuk diperiksa di laboratorium hina memastikan kalau babi tersebut mati karena terserang penyakit demam babi Afrika ini.
"Untuk konfirmasi di lapangan kita sudah ke daerah zona hijau, zona kuning dan zona merah penukaran penyakit demam babi Afrika atau flu babi Afrika ini, zona merah saat ini Desa Deniang Kecamatan Riausilip karena serangan penyakit ini sudah cukup lama terjadi disini. Namun ini semua baru dugaan sementara karena hasil laboratorium belum keluar dari Balai Pentiliner Lampung untuk mrmastikannya," jelas Krisna.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/kepala-dinpanpertan-kabupaten-bangka-elius-gani-sedang-panen-sayuran.jpg)