Asam Lambung
Mengenal 4 Jenis Obat Asam Lambung
Walaupun tidak mematikan seperti serangan jantung, penyakit asam lambung perlu ditangani agar tidak menimbulkan komplikasi.
BANGKAPOS.COM - Penyakit asam lambung atau gastroesophageal reflux disease (GERD) adalah munculnya rasa terbakar di dada akibat asam lambung naik ke kerongkongan.
Gejala penyakit asam lambung muncul minimal 2 kali dalam seminggu.
Dilansir dari alodokter.com, gejala utama dari asam lambung naik adalah rasa seperti terbakar di dada (heartburn), yang bertambah parah setelah makan atau saat berbaring.
Gejala ini dapat disertai dengan keluhan gangguan pencernaan lainnya, seperti sering bersendawa, mual dan muntah, serta mag dan sesak napas.
Penyakit asam lambung juga dapat menimbulkan keluhan mulut terasa asam.
Walaupun tidak mematikan seperti serangan jantung, penyakit asam lambung perlu ditangani agar tidak menimbulkan komplikasi.
Salah satu cara mengatasi asam lambung naik adalah dengan mengonsumsi obat-obatan.
Obat asam lambung yang dijual bebas di toko obat, apotek, minimarket, dan lain-lain bisa jadi pertolongan pertama untuk mengatasi asam lambung naik.
Baca juga: Lakukan 5 Hal Ini Jika Tak Mau Kena Gagal Ginjal
Apabila konsumsi obat yang dijual bebas sudah tak mempan, Anda perlu menggunakan obat dengan pengawasan dokter.
Terutama saat asam lambung naik terjadi lebih dari dua kali seminggu.
Kondisi tersebut mengindikasikan Anda mengalami gastroesophageal reflux disease (GERD).
Saat asam lambung naik sudah masuk kondisi GERD, biasanya minum jenis obat yang dijual bebas tidak banyak membantu mengatasi gejala penyakit tersebut.
Berikut beberapa jenis obat asam lambung yang dijual bebas atau perlu resep dokter berikut efek sampingnya.
Baca juga: Wajib Waspada Jika Mual dan Muntah Disertai Dengan Gejala Ini
1. Antasida
Melansir Healthline, sejumlah dokter merekomendasikan obat antasida untuk pertolongan pertama mengatasi gejala asam lambung naik.
Salah satu gejala asam lambung naik yakni heartburn atau rasa panas di sekitar perut atas sampai dada.
Minum antasida saat asam lambung naik dapat mengurangi gejala heartburn dengan cara menetralkan asam di lambung.
Obat antasida dapat bekerja cepat dalam hitungan menit setelah diminum.
Baca juga: Diabetes Bisa Memicu Komplikasi Kronis dan Akut, Ini Penjelasannya
Kandungan obat asam lambung antasida di antaranya aluminium, magnesium, kalsium, atau kombinasi zat tersebut.
Antasida tersedia dalam bentuk tablet yang bisa dikunyah atau sirop cair.
Antasida terkadang bisa membuat penderitanya mengalami diare dan sembelit.
Efek samping ini bisa muncul apabila penderita terlalu sering minum obat antasida.
Untuk itu, pastikan mengikuti petunjuk keamanan penggunaannya.
Baca juga: Pertolongan Pertama bagi Orang yang Terkena Serangan Stroke
2. Histamine-2 (H2) blocker
Salah satu cara mengobati asam lambung adalah dengan obat jenis H2 blocker.
Obat asam lambung ini dapat mengurangi produksi asam lambung.
Obat-obatan ini bisa mengatasi asam lambung naik, namun belum optimal untuk mengatasi peradangan karena iritasi asam lambung di kerongkongan.
Berbeda dengan antasida, H2 blocker menampakkan reaksi dalam hitungan jam setelah diminum.
Efek obat jenis ini lebih lama ketimbang antasida.
Obat H2 blocker bisa mengatasi gejala asam lambung naik antara 8-12 jam.
Melansir Web MD, jenis obat H2 blocker ada yang dijual bebas dan diresepkan oleh dokter.
Obat asam lambung versi resep dokter umumnya memiliki dosis lebih tinggi ketimbang versi yang dijual bebas.
Histamin dapat merangsang produksi asam, terutama setelah makan.
Jadi, H2 blocker paling baik dikonsumsi 30 menit sebelum makan.
Obat asam lambung ini juga diminum sesaat sebelum tidur untuk menekan produksi asam lambung di malam hari.
Efek samping konsumsi H2 blocker di antaranya sakit kepala, sakit perut, diare, mual, perut begah, sakit tenggorokan, pilek, dan pusing.
Perhatian, hindari obat asam lambung H2 blocker jenis ranitidine.
Obat ini ditarik peredarannya dari pasaran sejak 2020 karena mengandung zat yang bisa memicu kanker.
3. Inhibitor pompa proton (PPI)
Obat asam lambung PPI dapat menghambat produksi asam di perut.
PPI jamak diberikan untuk penderita GERD.
Obat ini disebut ampuh untuk mengendalikan produksi asam lambung berlebih dan lebih cocok untuk orang yang asam lambungnya kerap naik.
Jenis PPI yang dijual bebas tersedia dalam bentuk pil.
Ada juga jenis PPI yang hanya diresepkan dokter.
Dokter terkadang meresepkan obat PPI yang menghambat produksi asam lambung sekaligus punya efek lebih lama ketimbang H2 blocker.
Tak hanya mengendalikan asam lambung, PPI juga dapat melindungi kerongkongan dari asam sehingga bisa mencegah peradangan kerongkongan.
Pemberian obat PPI sebaiknya dilakukan satu jam sebelum makan.
Beberpa efek samping PPI yang dilaporkan antara lain diare, diare, mual, muntah, sakit perut, dan sakit kepala.
Efek samping yang kurang umum tetapi lebih serius terkait penggunaan PPI di antaranya meningkatkan risiko pneumonia, patah tulang, hipomagnesemia, dan demensia.
4. Promotility agent
Obat asam lambung jenis promotility agent dapat merangsang otot-otot saluran pencernaan.
Obat ini dapat membantu mencegah asam tinggal terlalu lama di dalam perut, memperkuat sfingter esofagus bagian bawah, serta mengurangi intensitas asam lambung naik dari perut ke kerongkongan.
Efek samping penggunaan obat jenis promotility agent di antaranya mengantuk, kelelahan, diare, sampai gelisah.
Pastikan Anda berkonsultasi ke dokter sebelum mengonsumsi obat asam lambung yang dijual bebas untuk menentukan perawatan paling tepat.
Selain itu, konsultasikan dengan dokter apabila ada obat asam lambung yang diresepkan menimbulkan efek samping tak nyaman. (Kompas.com/Mahardini Nur Afifah)
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul 4 Jenis Obat Asam Lambung
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/freepik_ilustrasi__minum__obat.jpg)