Jumat, 15 Mei 2026

Berita Pangkalpinang

Mengenal Mantan Anggota DPD RI Bahar Buasan, Dulu Pejabat Kini Petani  

“Dulu saya pejabat, sekarang saya petani,” demikian disampaikan Bahar Buasan, mantan Anggota DPD RI 2014-2019 asal Provinsi Kepulauan Bangka Belitung

Tayang:
Penulis: M Ismunadi |
bangkapos.com
Mantan anggota DPD RI periode 2014-2019 asal Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Bahar Buasan (kemeja putih dan duduk di kursi), saat diwawancarai peserta Uji Kompetensi Wartawan (UKW) di Hotel Santika Bangka, Sabtu (20/3/2021). 

BANGKAPOS.COM , BANGKA – “Dulu saya pejabat, sekarang saya petani,” demikian disampaikan Bahar Buasan, mantan Anggota DPD RI 2014-2019 asal Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) saat hadir di hadapan peserta Uji Kompetensi Wartawan di Hotel Santika Bangka, Sabtu (20/3/2021).

Bahar yang juga Wakil Ketua Kamar Dagang Indonesia (KADIN) Babel Bidang Agribisnis, Pertanian, Perkebunan, dan Peternakan, kini mengelola lahan peninggalan orang tuanya di wilayah Kabupaten Bangka Tengah.

Dari hanya menanam kelapa, kini lahan itu ditumbuhi jeruk, durian, dan produk pertanian lain yang sebenarnya tidak kalah dengan produk serupa dari luar daerah atau luar negeri.

“Contohnya durian, kita dengar yang terkenal di dunia itu Musangking. Tapi siapa sangka jika kita juga punya durian yang tidak kalah keren, yaitu Namlung,” kata Bahar.

Tidak hanya itu, menurut Bahar, buah Nanas di Babel merupakan buah Nanas paling enak di dunia.

“Nanas itu ada dua, Nanas Buah dan Nanas Sayur. Dan bagi saya, Nanas Babel itu paling enak di dunia,” ujarnya.

“Begitu juga dengan alpukat. Alpukat kita luar biasa,” lanjut Bahar.

Melihat potensi yang luar biasa itu, Bahar menyebut pertanian harus dikembangkan menjadi kekuatan pangan Babel. 

Bahkan menurutnya sektor yang sudah menggeliat meski pandemi Covid-19 belum berlalu itu bisa menjadi ekonomi alternatif pascatambang.

“Kenapa kemudian tidak kita kembangkan? Ini kan sangat luar biasa,” ujar Bahar.

Konsep 3+2

Lebih lanjut Bahar mengaku baginya ada istilah sendiri untuk konsep ekonomi alternatif Babel pascatambang. 

Dia menyebutnya ekonomi 3+2.

“3+2 itu antara lain pertanian, perkebunan, perikanan, kelautan, dan pariwisata. Nah pertanian ini termasuk di dalamnya,” kata Bahar.

Pun Bahar tidak malu jika dia yang dulunya pejabat kini petani. Anak ke-8 dari 10 bersaudara itu mengungkapkan satu kunci suksesnya mengolah lahan pertanian. 

Sumber: bangkapos.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved