Breaking News:

Bincang Sehat Bangka Pos

Kebiasaan Makan Kurang Sehat Bisa Picu Peradangan Usus Buntu, Ini Kiat dari dr Yustinus Rurie

Kurang makan berserat hingga jarang buang air besar bisa menjadi pemicu terjadi apendisitis.

Penulis: Cici Nasya Nita | Editor: El Tjandring
Bangkapos.com
Dokter Spesialis Bedah, dr Yustinus Rurie Wirawan, SpB.FINACs saat Bincang Sehat di Kantor Bangka Pos, Jumat (26/3/2021). 

BANGKAPOS.COM, BANGKA - Kurang makan berserat hingga jarang buang air besar bisa menjadi pemicu terjadi apendisitis.

Peradangan usus buntu (Apendisitis) ini memiliki gejala terjadi nyeri di bagian perut bagian kanan bawah secara terus menerus.

"Nyeri agak bertahan, ada beberapa orang yang daya tahan tubuh bagus, jadi nyerinya tidak dirasakan, hanya nyeri di ulu hati misalnya," ujar Dokter Spesialis Bedah, dr Yustinus Rurie Wirawan, SpB.FINACs saat Bincang Sehat yang dipandu jurnalis Bangka Pos, Cici Nasya Nita, Jumat (26/3/2021).

“Sakit usus buntu ada yang dirasakan khas, usus yang meradang itu terasa nyeri di ulu hati dulu kemudian meradang ke perut atas dan ke bawah.”

Kalau dalam peradangan dalam keadaan akut, penderita akan mengalami nyeri yang luar biasa sekali, jalannya tidak bisa cepat, agak pincang, karena kalau kaki diluruskan akan terasa sakit dibagian perut.

Bahkan ada hal yang dikhawatirkan saat peradangan usus buntu yakni dapat pecah sehingga nanah menyebar ke bagian lain yang dapat menganggu kerusakan organ lain bahkan dapat menyebabkan kematian.

"Jadi jangan meremehkan, mungkin hanya delapan cm (ukuran usus buntu) awalnya tetapi pada saat tertentu bisa pecah dan menimbulkan masalah yang lebih besar," kata dr Yustinus.

Penanganan usus buntu bermacam-macam seperti pengobatan, diet diatur, terapi dan operasi terbuka serta operasi minimal invasive (Laparoskopi).

"Selama ini pasien yang datang dalam kondisi akut, jarang sekali yang bocor. Kalau sudah bocor, operasi jadi panjang. Kalau belum pecah, irisan kecil.”

“Namun berbeda dengan operasi laparoskopi, irisan di tengah berjumlah satu, kita punya alat sendiri yang berbeda dengan tempat lain, irisan sepanjang dua cm, usus buntu bisa kita potong tanpa harus membelah perut," jelas dr Yustinus.

Keunggulan dari operasi minimal invasive (Laparoskopi) ini irisan di perut kecil sehingga tidak menimbulkan bekas luka yang besar dan masa pemulihan sangat cepat.

""Operasi ini banyak diminati, karena pemulihan cepat dan rasa sakit terasa minimal, kalau hari ini operasi, mungkin besok sudah bisa jalan-jalan. Kalau operasi terbuka harus nunggu tiga hari agar tidak nyeri dan perawatan lebih lama, beda sekal," kata dr Yustinus.

Dari segi harga, operasi minimal invasive (Laparoskopi) lebih rendah dibandingkan dengan operasi terbuka yang masih memerlukan perawatan pasca operasi dilakukan.

Bagi masyarakat yang ingin terhindar dari peradangan usus buntu agar menjaga pola hidup dengan baik, makan berserat, dan rutin olahraga.

Bangkapos.com/Cici Nasya Nita

Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved