Minggu, 26 April 2026

Tribunners

Harapan Petani Lada

Satu-satunya harapan petani adalah campur tangan pemerintah melalui kebijakan stabilisasi harga lada.

Editor: suhendri
ISTIMEWA
Ridho Ilahi, SST, M.Stat - Fungsional Statistisi Badan Pusat Statistik Kabupaten Bangka 

LADA yang dijuluki king of spicy merupakan salah satu bumbu yang paling banyak digunakan untuk masakan, khususnya di Indonesia. Lada memiliki rasa pedas yang nikmat jika dicampur pada menu makanan berkuah serta taburan daging panggang. Tak hanya itu, tanaman lada telah lama menjadi buruan bangsa Eropa datang ke Nusantara. Pada masa kolonial, lada menjadi komoditas penting diperdagangkan hingga ke Eropa.

Kiprah lada di Indonesia tak hanya berlangsung pada masa lampau. Hingga kini Indonesia masih menjadi produsen lada dunia. Tetapi, tahukah Anda di mana daerah di Indonesia yang menghasilkan lada putih terbaik? Jawabannya ada di Bangka Belitung.

Bukan berlebihan jika menyebut lada Bangka Belitung sebagai yang terbaik. Aromanya harum dan nilai piperinnya berada di angka 7, yang diklaim lebih tinggi dari daerah mana pun di Indonesia. Piperin merupakan senyawa khas yang ada pada lada, yang baik untuk melawan penyakit yang berkaitan dengan obesitas.
Selain sebagai daerah dengan penghasil lada putih terbaik, Bangka Belitung juga tercatat sebagai daerah penghasil lada terbesar nasional dengan produksi 2020 mencapai 33.810 ton. Semenjak 1987 hingga 2002, merupakan masa kejayaan lada putih Indonesia dengan produksi mencapai 62 ribu ton per tahun.

Namun, pada 2005 kejayaan lada putih Indonesia mulai luntur dan tidak lagi menjadi produsen dan eksportir terbesar di dunia seiring dengan hasil perkebunan lada terus mengalami penurunan. Pada tahun tersebut, Vietnam gencar mengembangkan lada secara intensif sehingga posisi ekspor lada Indonesia di pasar dunia menjadi turun. Penurunan ini tentu karena melemahnya daya saing akibat rendahnya produktivitas dan mutu lada lokal.

Di sisi lain, hasil uji coba Agricultural Integrated Survey (AGRIS) tahun 2020 di tiga provinsi memperlihatkan sekitar 90 persen area pertanian di tiga lokasi uji coba tidak memenuhi kriteria pertanian produktif dan berkelanjutan karena produktivitas lahan yang relatif rendah.

Tantangan Perkebunan Lada

Salah satu tantangan perkebunan lada di Indonesia, yakni tingginya proporsi perkebunan lada skala kecil (small scale pepper producers) dengan produktivitas yang rendah. Yang lebih mengkhawatirkan adalah praktik penggunaan pupuk kimia secara berlebihan. Kondisi ini mengancam keberlangsungan budi daya tanaman lada di masa datang karena hilangnya kesuburan tanah akibat menipisnya unsur hara dan mineral penting lainnya.

Hasil uji coba AGRIS menemukan bahwa sekitar 60 persen lahan pertanian di tiga lokasi uji coba survei menggunakan pupuk secara berlebihan tanpa memperhatikan mitigasi risiko yang bakal terjadi. Dengan demikian, perlunya modernisasi teknik budi daya perkebunan lada yang ramah lingkungan harus dilakukan untuk memacu produktivitas dengan mendorong penggunaan pupuk organik atau kombinasi pupuk kimia dan organik secara berimbang.

Jika potensi perkebunan lada dikelola secara baik, masif, dan inovatif, maka dipastikan dapat menjadi salah satu sumber modal utama pembangunan, dan dapat memberikan manfaat yang maksimal bagi negara dan masyarakat. Hal ini sejalan dengan arah kebijakan pembangunan pertanian yaitu Pertanian Maju, Mandiri, Modern, sehingga arah kebijakan dan program pembangunan perkebunan juga harus mengacu pada kebijakan tersebut.

Berdasarkan data BPS, ekspor pertanian bulan Januari hingga Desember 2020 sebesar 4.117,5 juta US$ atau naik 13,98 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2019 sebesar 3.612,4 juta US$. Dari nilai ekspor tersebut kontribusi perkebunan mencapai 90 persen dan sekaligus menjadi kontributor penting dalam mencapai target gerakan tiga kali lipat ekspor (Gratieks). Ekspor komoditas perkebunan yang melonjak pada 2020 salah satunya disumbang oleh komoditas lada dengan nilai ekspor periode Januari-April 2020 mencapai 40,88 juta US$ atau sekitar 18,7 persen dari total ekspor rempah.

Harga Lada

Kementerian Perdagangan mencatat harga lada putih pada 2016 sempat mencapai Rp157 ribu per kilogram, namun harganya anjlok pada September 2019 menjadi Rp37 ribu per kg. Pada Juni 2020 harga lada bertengger di angka Rp55.154 per kilogram. Selanjutnya pada Juli Rp57.109 per kilogram dan kembali naik menjadi Rp60.064 per kilogram pada awal Agustus 2020. Indikasi Geografis (IG) lada putih atau Muntok White Pepper memicu harga lada terus meningkat sehingga mencapai Rp70.000 per kg.

Saat ini, harga lada putih di Bangka Belitung (Babel) tembus Rp96 ribu per kilogram. Lada yang dikenal dengan brand Muntok White Pepper itu, melejit hingga dari sebelumnya senilai Rp90 ribu per kilogram. Dari data yang dikeluarkan oleh Kantor Pemasaran Bersama (KPB) Provinsi Kepulauan Babel, per tanggal 1 April 2021, merinci lada dengan kualitas MQ atau kualitas lada yang merupakan hasil panen dari petani yang belum disortir dan uji lab, berada di harga beli Rp90.000 per kilogram.

Kenaikan harga lada dipengaruhi oleh lepasnya Babel dari International Pepper Community (IPC) yang diketuai oleh Vietnam sehingga Babel bisa mengatur harga lada sendiri. Ironinya, selama 2012-2019 negara utama tujuan ekspor lada putih Indonesia terbesar adalah Vietnam dengan volume ekspor ke negara tersebut mencapai 14.822 ton pada 2019 dengan nilai ekspor sebesar 32,54 juta US$.

Harapan Petani

Satu-satunya harapan petani adalah campur tangan pemerintah melalui kebijakan stabilisasi harga lada. Akibat kebanyakan para petani lada tidak paham dengan mekanisme pasar, mata rantai penjualan, dan sistem perdagangan komoditas unggulan itu, menjadi celah bagi oknum eksportir untuk menekan harga beli di tingkat petani dan dijual ke pasar ekspor dengan harga yang sangat tinggi. Terlebih saat ini produktivitas lada di Indonesia juga ikut turun. Bahkan, jauh di bawah lima negara yang tergabung dalam organisasi negara produsen lada atau IPC.

Sumber: bangkapos
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved