Breaking News:

Mengenal Asal Usul Ketupat, Hidangan Utama yang Selalu Ada saat Hari Lebaran

Lebaran seolah tak lengkap tanpa makan ketupat. Saat lebaran tiba, ketupat seolah menjadi menu wajib yang mesti tersedia di meja makan.

Sajian Sedap
Ilustrasi ketupat 

BANGKAPOS.COM - Setelah satu bulan berpuasa, umat Islam di seluruh dunia akan menyambut hari raya idul fitri. Perayaan ini digemakan dengan suara takbir serta pelaksanaan shalat ied. 

Tak ubahnya sebuah perayaan, hari Lebaran rasanya tak lengkap tanpa berbagai kuliner yang menemani. Makanan yang selalu hadir dalam perayaan hari idul fitri yaitu ketupat.

Seolah tak lengkap rasanya lebaran tanpa ketupat. Berikut dirangkum dari berbagai sumber asal-usul makanan yang menjadi menu utama saat lebaran ini.

Mengutip berita kompas Sabtu (24/6/2017) Fadly Rahman penulis buku Jejak Rasa Nusantara mengatakan "Sunan Kalijaga menjadikan ketupat sebagai budaya sekaligus filosofi Jawa yang berbaur dengan nilai keislaman," 

Tips membuat ketupat jadi tidak mudah basi
Tips membuat ketupat jadi tidak mudah basi (sajiansedap.id)

Dalam sebuah artikel berjudul Ketupat as traditional food of Indonesian culture tahun 2018 tertulis bahwa ketupat pertama kali memang diperkenalkan oleh Sunan Kalijaga, salah satu dari sembilan orang-orang suci Islam Jawa, pada abad ke-15, terutama di Kabupaten Demak terletak di Jawa Tengah.

Beliau juga mengenalkan budaya dua kali Bakda, yaitu Bakda Lebaran dan Bakda Kupat. Bakda Lebaran dirayakan pada hari pertama Idul Fitri dengan berdoa dan silaturahmi, sedangkan Bakda Kupat dirayakan seminggu setelah Idul Fitri.

Selain menggambarkan simbol kebersamaan, ketupat juga dikenal melambangkan permintaan maaf dan berkah. Bahan utama dari ketupat juga memiliki masing-masing arti. Nasi melambangkan nafsu sedangkan daun kelapa yang memiliki arti cahaya sejata (jatining nur dalam bahasa jawa) memiliki arti hati nurani. 

Dalam hal ini secara keseluruhan, ketupat memiliki makna sebagai nafsu dunia yang dibungkus dengan hati nurani. Ketupat dapat dimaknai dengan sosok manusia harus bisa menahan nafsu dunia dengan hati nurani mereka.

Ketupat memiliki beberapa filosofi, mulai dari bentuk anyaman hingga sampingnya hidangan ketupat. Anyaman rumit pembungkusnya menunjukkan kesalahan manusia. Isian ketupat, yaitu warna putih beras, mencerminkan kebersihan dan kemurnian beras hati manusia setelah memaafkan orang lain.

Bungkus hijau kekuningan pada ketupat dianggap sebagai salah satu penolakan bala atau penolakan nasib buruk. Proses gantung ketupat setelah dimasak di depan rumah dilambangkan sebagai salah satu bentuk atau tradisi mengusir roh jahat. Karena itu, ketupat sering digantung di pintu untuk mencegah roh jahat memasuki rumah

Bentuk segi empat ketupat yang begitu khas menggambarkan prinsip "kiblat papat, limo pancer (empat arah, satu pusat)", yang memiliki makna "ke mana pun manusia melangkah, pasti akan kembali pada Allah".

Bentuknya juga melambangkan empat macam nafsu dasar manusia, yaitu amarah (emosi), lawamah (lapar dan haus), sufiah (nafsu untuk memiliki sesuatu yang bagus atau indah), dan muthmainah (memaksa diri). Keempat nafsu dasar ini dikendalikan saat puasa.

Dengan memakan ketupat saat lebaran, seseorang sudah dianggap mampu menahan nafsunya. Bentuk seperti berlian yang sempurna ketupat juga melambangkan kemenangan umat Islam setelah sebulan berpuasa sebelum Idul Fitri.

Sejak disebarkan oleh Sunan Kalijaga, tradisi membuat ketupat saat lebaran pun terus dilakukan hingga saat ini. Bahkan tidak hanya masyarakat Jawa saja yang membuat ketupat, tetapi juga masyarakat di seluruh Indonesia dan negara lain, seperti Singapura, Malaysia, dan Brunei.

(Bangkapos.com/Nur Ramadhaningtyas)

Sumber: bangkapos
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved