KKB Papua

Tak Hanya Soal Penumpasan KKB Papua, Ada Juga yang Berbahaya Dilakukan Makelar Malaysia di Papua

Di balik konflik bersenjata yang terjadi di Papua, ada persoalan lain tak kalah seriusnya.

Editor: Alza Munzi
Facebook/TPNPB
Ilustrasi. Surat terbuka KKB Papua untuk Presiden Republik Indonesia 

BANGKAPOS.COM - Di balik konflik bersenjata yang terjadi di Papua, ada persoalan lain tak kalah seriusnya.

Rencana makelar Malaysia untuk melakukan penebangan hutan hujan sebagai bagian proyek kebun kelapa sawit patut disoroti.

Jika diteruskan, lahan hutan hujan seluas 280 ribu hektare terancam habis.

Seperti diketahui, Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) Papua kini ditetapkan sebagai gerakan teroris oleh pemerintah Indonesia.

Baca juga: Warga Curiga Lihat Wanita Tampak Ketakutan, Ternyata sedang Disandera Anggota TNI AU Gadungan

Hal itu disampaikan oleh Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan

Keamanan (Menkopolhukam) Mahfud MD dalam konferensi pers yang digelar Kamis (29/4/2021).

"Pemerintah menganggap bahwa organisasi dan orang-orang di Papua yang melakukan

kekerasan masif dikategorikan sebagai teroris," ujar Mahfud MD seperti dikutip dari Live Breaking News KOMPAS TV.

"Jadi yang dinyatakan oleh Ketua MPR, BIN, TNI, Polri, dan tokoh-tokoh Papua yang

datang ke sini menyatakan mereka yang melakukan pembunuhan dan kekerasan secara brutal itu secara masif," terangnya.

Sementara itu, dilansir dari Surya.co.id, TNI akan segera mengirimkan 400 prajurt dari

Yonif 315/Garuda yang berjuluk 'Pasukan Setan'.

Diketahui baru-baru ini, para prajurit Yonif 315/Garuda telah dilatih menembak runduk

atau Sniper guna mempersiapkan Satuan Tugas Pengamanan Daerah Rawan ( Satgas Pamrahwan) di Papua.

Melansir dari Instagram resmi Kodam III Siliwangi, Pangdam III Siliwangi Mayjen TNI

Nugroho Budi Wiryanto memeriksa kesiapan Satgas Yonif 315/Garuda pada Selasa (27/4/2021).

Mayjen TNI Nugroho didampingi sejumlah pejabat Kodam Siliwangi.

Di markas Gunung Batu, ia disambut oleh Danrem 061/Surya Kancana Brigjen TNI AchmadFauzi dan Komandan Yonif 315/Garuda Letkol Inf Aryo Priyo Utomo Sudojo.

Dalam kunjungannya itu, Pangdam Siliwangi sempat mendengarkan pemaparan kesiapan

personel dan material dari Danyonif 315/Garuda yang juga menjabat sebagai Dansatgas Pamrahwan.

Pangdam III Siliwangi juga mengingatkan kepada seluruh Dankipur dan Danpos agar selalu memperhatikan anggotanya di daerah operasi.

Terlepas dari konflik TNI verus KKB, Mongabay mewartakan bahwa pengadilan di kota Jayapura, Indonesia, pada

Selasa (27/4/2021) telah memutuskan untuk melawan penebangan hutan hujan yang diincar makelar Malaysia untuk dijadikan kebun kelapa sawit.

Area tersebut merupakan bagian dari proyek Tanah Merah, sebuah wilayah yang luas di

pulau New Guinea yang telah ditetapkan satu dekade lalu untuk menjadi perkebunan kelapa sawit terbesar di dunia.

Pengembangan proyek baru saja dimulai, tetapi jika dilakukan hingga selesai, akan

mengakibatkan pembukaan 280.000 hektare hutan hujan.

Jika itu dilakukan, tentu dapat menyumbang sejumlah besar gas rumah kaca ke atmosfer.

Proyek ini pertama kali mendapat lampu hijau oleh Yusak Yaluwo, seorang politikus

lokal yang kemudian dihukum karena korupsi dalam masalah terpisah.

Proyek ini segera jatuh ke tangan perusahaan misterius yang dikenal sebagai Menara Group, yang mengendalikan proyek

tersebut melalui tujuh anak perusahaan yang masing-masing memegang izin untuk mengembangkan sekitar 40.000 hektar.

Alih-alih mengembangkan tujuh konsesi lahan, Menara dengan cepat menjual saham mayoritasnya kepada investor lain.

Maxim membeli 90% saham di dua di antaranya, masing-masing seharga $ 40 juta.

Namun, pada pertengahan 2010-an, pejabat setempat mencabut izin Maxim, dan

mengeluarkan izin baru, yang mencakup wilayah yang persis sama, kepada Digoel Agri.

Digoel Agri telah membuka setidaknya 228 hektare hutan, meskipun ada keberatan dari

anggota kelompok adat setempat yang mengatakan bahwa mereka tidak pernah menyetujui keberadaannya di tanah mereka.

(Intisari.grid.id)

Sumber: Intisari
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved