Tribunners
Merdeka Belajar dan Momentum Perubahan
Merdeka belajar mewajibkan guru untuk memanfaatkan berbagai sumber belajar yang akan diakses oleh peserta didik sehingga bisa mendampinginya belajar
SEBAGAI seorang guru, penulis dapat mengambil beberapa kesimpulan setelah mengikuti tiga kali webinar yang diselenggarakan atas kerja sama Pascasarjana Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung (Direktur Bapak DR. H.Iskandar, M.Hum) dengan tiga kepala daerah sekaligus sebagai native speaker) yakni Wali Kota Pangkalpinang H. Maulan Aklil, S.Ip, M.Si), Bupati Belitung Timur (Drs. Burhanuddin) dan Bupati Bangka Tengah (Algafry Rahman, ST).
Webinar ini menghadirkan beberapa narasumber yang mumpuni seperti pelaksanaan untuk Pangkalpinang adalah Prof. Dr. Imam Fu'adi, M.Ag (Guru Besar UIN Tulung Agung), Dr. H. Iskandar, M.Hum ( Direktur Pascasarjana IAIN SAS Babel), Eko Heri P, S.Pd (Ketua PGRI Pangkalpinang) untuk pelaksanaan Belitung Timur adalah Prof. Dr. Zulkifli, MA (Wakil Rektor Bidang Akademik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta), Dr. Soleha, MA (Wakil Direktur Pascasarjana IAIN SAS Babel), Nurhidayah, S.Pd (Ketua PGRI Belitung Timur) dan pelaksanaan untuk Bangka Tengah dengan narasumber Dr. H. Muhammad Zuhairi, MA (Dosen Pascasarjana UAD Yogyakarta), Dr. H. Janawi, M.Ag (Wakil Rektor III IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung), Gunanda, S.Pd. SD (Ketua PGRI Bangka Tengah) dengan tingkat partisipan (peserta) yang membeludak dari kalangan guru di tiga wilayah itu.
Webinar tersebut merupakan upaya Kampus Pascasarjana IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung dengan tiga kepala daerah dalam mengapresiasi kebijakan bapak Menteri Pendidikan mengenai merdeka belajar yang dapat dipastikan memberikan solusi dan memberikan peluang bagi sekolah untuk melakukan perubahan-perubahan inovatif guna memberikan layanan kualitas pendidikan. Harapannya, mampu meningkatkan kemampuan nalar kritis peserta didik dan mampu menyikapi persoalan yang dihadapi.
Dari webinar itu dapat penulis pahami bahwa merdeka belajar bukan menghilangkan hubungan antara guru dan murid, tetapi justru akan makin mengakrabkan hubungan antara guru dengan murid ketika pembelajaran berfokus kepada peserta didik. Peran guru mendampingi peserta didik belajar dan mengarahkan fokus pada tujuan pembelajaran yang akan dicapai.
Merdeka belajar mewajibkan guru untuk memanfaatkan berbagai sumber belajar yang akan diakses oleh peserta didik sehingga bisa mendampinginya belajar. Peserta didik menjadi pusat perhatian belajar dengan mengakses informasi, melakukan konfirmasi, menelaah dan melakukan interpretasi terhadap informasi yang diakses untuk menjawab permasalahan yang tengah dihadapi.
Berdasarkan kebijakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengenai strategi implementasi merdeka belajar antara lain:
1. Mengubah cara kita berpikir (visi, belief, & perilaku) - seluruh stakeholders pendidikan dalam pelaksanaan tugas dan fungsinya seharusnya mempunyai tujuan bersama, yaitu memberikan layanan pendidikan yang berkualitas bagi siswa.
2. Penguatan kapasitas kepala sekolah dan guru - tentang kepemimpinan kepala sekolah (sebagai pemimpin instruksional), tata kelola sekolah (perencanaan, pembiayaan, pengembangan guru), pengembangan kualitas kurikulum, pembelajaran, dan asesmen.
3. Budaya organisasi sekolah yang demokratis - menghilangkan budaya birokratis (ABS), kepala sekolah sebagai pemilik otoritas tunggal (mesti dihilangkan).
Merdeka belajar ditandai murid banyak bertanya dalam kelas, pembelajaran berpusat kepada murid, bukan membiarkan murid berselancar sendiri untuk mengarungi tumpahan informasi, tetapi guru menemani dan mendiskusikan data-data yang diperoleh peserta didik. Guru menemani belajar.
Dalam pengalaman pengembangan pembelajaran yang pernah berlangsung banyak hal kemudian diselewengkan sehingga menjadi kurang produktif. Cara belajar siswa aktif (CBSA) dipelesetkan menjadi catat buku sampai abis. Sebuah penyimpangan yang melecehkan sifat produktif menjadi pasif.
Juga tidak berarti bahwa merdeka belajar siswa tidak lagi membutuhkan guru, karena di dunia informasi telah tersedia limpahan informasi. Peserta didik butuh bimbingan dan arahan melalui dialog dan diskusi terhadap informasi yang didapat sehingga bisa memberikan telaah dengan benar.
Pendidikan bukan hanya mencetak manusia pintar, tetapi diharapkan mampu membentuk manusia yang memahami terhadap kemanusiaannya serta menyikapi persoalan yang dihadapi. Maka, dalam merdeka belajar juga perlu dikembangkan belajar yang mampu mengembangkan literasi dan numerasi, karakter pelajar Pancasila. Sebuah tujuan belajar yang kompleks dan tidak bisa terbentuk secara mandiri tanpa berhubungan dengan orang lain dan dunia luar.
Sekolah perlu meningkatkan kualitas proses belajar siswa, berfokus pada penalaran kritis, hal ini adalah tugas utama sekolah, memberi kesempatan seluas-luasnya kepada guru untuk mengembangkan diri dengan berbagai pelatihan yang meningkatkan kecakapannya secara profesional. Guru mampu mengembangkan pembelajaran yang mengembangkan nalar berpikir kritis.
Pengembangan pembelajaran pengembangan nalar berpikir kritis bukan hal yang mudah sebab dibutuhkan kualitas guru yang mampu mempersiapkan strategi pembelajaran yang bisa menghubungkan antar hal.
Setidaknya guru mampu meningkatkan kemampuan literasi dan numerasi sehingga bisa meningkatkan kemampuan peserta didik dalam menghubungkan antar hal atau konsep. Strategi yang dilakukan berdasarkan terhadap kondisi siswa dan fasilitas yang ada sehingga apa yang diberikan nyata dan bermanfaat bagi kehidupan siswa. Strategi yang melibatkan pengalaman belajar siswa sehingga selalu terhubung dengan pengalaman sebelumnya.
Aspek peningkatan budaya sekolah yang demokratis merupakan salah satu aspek penting sehingga terbangun kesetaraan, saling menghargai. Sekolah memastikan diri bahwa di dalamnya tidak ada kekerasan fisik, tidak ada perundungan (bullying) sehingga peserta didik merasa nyaman dan aman dalam belajar. Juga guru dalam melakukan tugasnya bisa nyaman dan tenang tanpa merasa terganggu.
Menurut Ki Hadjar Dewantara, pengaruh pengajaran itu umumnya memerdekakan hidupnya lahir, sedangkan merdekanya hidup batin didapat dari pendidikan. Betapa penting pendidikan bagi manusia sebagai proses memerdekakan batin, kemampuan berpikir kritis yang memberdayakan potensi manusia.
Senada dengan merdeka belajar yang mengisyaratkan meningkatnya layanan pendidikan sehingga mampu memberikan layanan pendidikan yang menyenangkan bagi peserta didik. Untuk mencapainya bukan hal yang mudah karena membutuhkan kepedulian berbagai pihak secara serentak atau simultan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/johan-guru-bahasa-arab.jpg)