Bangka Pos Hari Ini
Cuaca Ekstrem di Bangka Belitung, BMKG Keluarkan Peringatan Dini untuk Tiga Hari
BMKG mengeluarkan peringatan dini terkait cuaca ekstrem untuk wilayah Bangka Belitung pada 11-13 Juli 2021.
BANGKAPOS.COM, BANGKA - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini terkait cuaca ekstrem untuk wilayah Bangka Belitung pada 11-13 Juli 2021.
Dalam peringatan dini tersebut disebutkan, hujan dengan intensitas sedang hingga lebat berpotensi terjadi di seluruh kabupaten/kota di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung pada Minggu (11/7) pagi, siang, sore hingga dini hari.
Kondisi yang sama juga berpotensi terjadi pada Senin (12/7).
Adapun pada Selasa (13/7), hujan dengan intensitas sedang hingga lebat di pagi, siang, sore, dan dini hari berpotensi terjadi di Kabupaten Bangka Selatan dan Belitung.
“Hasil analisis dari perkiraan cuaca, hujan akan turun dua hari ke depan. Hal tersebut disebabkan oleh potensi pembentukan awan-awan konvektif menjadi makin besar sehingga terjadilah hujan di wilayah Babel. Dalam beberapa hari terakhir dan juga hari ini (kemarin), Babel masuk ke dalam zona belokan angin dan konvergensi yang menyebabkan awan konvektif,” kata Kepala Seksi Data dan Informasi Stasiun Meteorologi Kelas I Depati Amir Pangkalpinang Kurniaji kepada Bangka Pos, Minggu (11/7).
Untuk hari ini, Senin (12/7), hujan dengan intensitas sedang hingga lebat diperkirakan masih akan terjadi di seluruh wilayah Babel.
Hujan akan turun pada pagi hingga siang hari dan sebagian berlanjut pada dini hari.
Adapun wilayah-wilayah yang berpotensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang dapat disertai angin kencang, kilat, dan petir adalah Kecamatan Muntok, Leparpongok, Tukaksadai, Toboali, Airgegas, Payung, dan Pulau Besar.
Kindisi tersebut bisa meluas ke Kecamatan Lubuk Besar, Koba, Namang, Simpangkatis, Pangkalanbaru, Mendo Barat, Sungaiselan, Simpangrimba, Pudingbesar, Bakam, Tempilang, Kelapa, Simpangteritip, Kepulauan Pongok, Selat Nasik, Gantung, Manggar, Damar, Simpangrenggiang, Dendang, Simpangpesak, Membalong, dan sekitarnya.
Kondisi ini diperkirakan masih dapat berlangsung dan dapat berubah sewaktu-waktu.
Empat penyebab
Melansir Kompas.com, 24 Juni 2021, mulai bulan Mei hingga September umumnya wilayah Indonesia memasuki periode musim kemarau, tetapi hingga menjelang akhir Juni, banyak wilayah yang masih diguyur hujan.
Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika menyampaikan bahwa perkembangan musim kemarau saat ini, 56 persen wilayah Indonesia seharusnya sudah memasuki musim kemarau.
Di antaranya di wilayah Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Bali, sebagian wilayah Jawa, Sumatera bagian Selatan, Aceh, Kalimantan Selatan, Sulawesi Barat dan Papua.
Namun, terkait hujan di sebagian wilayah di awal musim kemarau ini, Prakirawan BMKG Gumilang Derandyan mengatakan, perlu diketahui bahwa di Indonesia sendiri terdapat tiga tipe pola hujan.
Ketiga tipe pola hujan tersebut adalah Monsoon, Equatorial dan Lokal. Pola hujan tipe Moonson bulan Juni berada pada periode musim kemarau.
Adapun pada tipe ekuatorial dan lokal, pada bulan Juni ini berada pada periode musim hujan.
“Sehingga wilayah Indonesia yang (berada) dekat ekuator dan (wilayah) timur Indonesia masih terjadi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat,” kata Gumilang seperti dikutip Kompas.com melalui kanal YouTube resmi BMKG.
Gumilang menyebutkan ada beberapa faktor penyebab hujan di musim kemarau di sebagian wilayah di Indonesia pada tahun 2021 ini, antara lain suplai air basah dan dominasi angin timuran.
Berdasarkan pengamatan nilai Indeks Indian Dipole menunjukkan bahwa dua minggu terakhir yaitu pada awal bulan Juni 2021, indeks tersebut bernilai negatif sedang.
Hal ini mengindikasikan suplai uap air basah dari Samudra Hindia memengaruhi pembentukan awan konvektif, khususnya di pesisir barat Sumatera dan Jawa bagian barat untuk beberapa minggu ke depan.
Penyebab hujan di musim kemarau ini juga terjadi akibat anomali suhu muka laut pada bulan Juni 2021, yang diprediksi pada kondisi netral dan mulai bernilai positif pada bulan Juli 2021.
Meski demikian, anomali suhu muka laut yang bernilai positif pada Juli 2021 masih berada di sekitar wilayah Sulawesi, Maluku dan Papua.
“Sehingga probabilitas pertumbuhan awan hujan masih cenderung besar di wilayah tersebut,” kata Gumilang.
Musim Kemarau Berpotensi Basah
Meski 56 persen wilayah Indonesia memasuki musim kemarau, tetapi justru masih sering terjadi hujan dan cuaca cenderung relatif dingin.
Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) menegaskan bahwa kondisi musim kemarau tahun 2021 ini cenderung berpotensi kembali basah.
Hal tersebut disampaikan oleh peneliti di Pusat Sains dan Teknologi Atmosfer (PSTA) Lapan, Erma Yulihastin dalam akun resmi Instagram @lapan_ri.
Berdasarkan pantauan PSTA-Lapan, menjelang penghujung bulan Juni 2021, hujan memang masih sering terjadi.
Padahal, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) telah menyampaikan bahwa wilayah Indonesia secara bertahap sudah mulai musim kemarau pada akhir Mei 2021.
Erma mengatakan, hujan yang masih sering terjadi di wilayah barat Indonesia (Jawa dan Sumatra) sejak awal bulan Juni terjadi karena pengaruh dinamika laut-atmosfer yang terjadi di Samudra Hindia.
Dinamika ini ditunjukkan dari pembentukan pusat tekanan rendah berupa pusaran angin yang dinamakan dengan vorteks di selatan ekuator dekat pesisir barat Sumatera dan Jawa.
Pembentukan vorteks di Samudra Hindia yang sangat intensif sejak awal Juni diprediksi bertahan sepanjang periode musim kemarau.
Akibatnya, berpotensi menimbulkan anomali musim kemarau yang cenderung basah sepanjang bulan Juli-Oktober pada tahun ini, yang ditandai dengan masih akan sering terjadi hujan.
Selain pengaruh dinamika atmosfer dan pembentukan vorteks, curah hujan yang masih sering terjadi di musim kemarau kali ini juga diperkuat dengan prediksi pembentukan Dipole Mode negatif di Samudra Hindia yang berpotensi menimbulkan fase basah di barat Indonesia.
Dipole Mode sendiri ditandai dengan penghangatan suhu permukaan laut di Samudra Hindia dekat Sumatra, sedangkan sebaliknya di wilayah dekat Afrika mengalami pendinginan suhu permukaan laut.
Ketiga pengaruh di atas, kata Erma, mengakibatkan pemusatan aktivitas awan dan hujan terjadi di Samudra Hindia barat Sumatra sehingga berdampak pada pembentukan hujan yang berkepanjangan selama musim kemarau di sebagian besar wilayah Indonesia.
Faktor pengaruh musim kemarau basah berikutnya adalah penghangatan suhu muka laut.
Penghangatan suhu permukaan laut di Samudra Hindia barat Sumatra ini juga merupakan bagian dari feedback response terhadap kondisi di Samudra Pasifik yang mengalami La Nina namun makin melemah dan cenderung menuju kondisi netral.
Meski demikian, Diple Mode negatif diprediksi hanya berlangsung secara singkat, yaitu dua bulan (Juli-Agustus) sehingga belum memenuhi kriteria Dipole Mode yang secara ilmiah harus terjadi minimal tiga bulan berturut-turut.
“Meskipun demikian, eksistensi vorteks dan penghangatan suhu permukaan laut di perairan lokal Indonesia diprediksi akan terus berlangsung hingga Oktober,” ujar Erma.
Gabungan vorteks dan anomali suhu permukaan laut lokal ini merupakan faktor pembangkit yang menyebabkan anomali musim kemarau cenderung basah pada tahun ini, terutama di wilayah Indonesia bagian selatan dan timur laut, seperti wilayah Jawa hingga Nusa Tenggara Timur, Maluku, Sulawesi, dan Halmahera. (Bangka Pos/ynr/Kompas.com)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/kurniaji123.jpg)