Wawancara Khusus Covid di Babel
Dokter Anestesi 1,5 Tahun Kontak Langsung dengan Pasien Covid, InsyaAllah Belum Pernah Tertular
Berbagai upaya telah gencar dilakukan pemerintah untuk menekan sebaran dan angka terkonfirmasi positif Covid-19.
Penulis: Cici Nasya Nita | Editor: khamelia
BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Bangka Belitung masih berjuang melawan virus corona yang telah merebak sejak tahun 2020 lalu.
Berbagai upaya telah gencar dilakukan pemerintah untuk menekan sebaran dan angka terkonfirmasi positif Covid-19.
Ini petikan wawancara khusus dengan Dokter anestesi dan intervensi nyeri di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dr. (H.C.) Ir. Soekarno Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, dr Farham Ali Rahman bersama Jurnalis Bangka Pos Cici Nasya Nita dalam Dialog Ruang Tengah, Jumat (13/8/2021).
T : Berapa lama anda ikut serta menangani pasien Covid-19?
J : Sejak awal pandemi mulai memasuki Bangka Belitung, sesuai bidang yakni anestesi, saya kontak langsung dengan para pasien Covid-19 yang kritis hingga saat ini, Alhamdulillah hampir 1,5 tahun menangani, belum pernah terpapar Covid-19.
InsyaAllah kalau kita taat protokol kesehatan, itu akan melindungi dari paparan Covid-19, terpenting di tengah pandemi Covid-19 ini harus bahagia, jangan stres, agar imunitas terjaga.
T : Bagaimana kondisi kasus Covid-19 saat ini di Bangka Belitung?
J : Jadi perlu kita sampaikan bahwa saat ini Bangka Belitung terjadi peningkatan kasus, sesuai data terakhir kita memang tidak mendapat rapot merah dari lima provinsi itu.
T : Bagaimana perkembangan kasus kematian karena terpapar Covid-19?
J : Ada 6.518 orang yang dirawat atau terpapar saat ini, angka kematian per hari kemarin 25 orang, kita sekarang sudah di angka 900 an orang yang meninggal karena Covid-19.
Jangan berpikir dicovidkan oleh nakes, karena itu berdasarkan hasil PCR. Kendala kita juga memang karena isolasi mandiri dan menentukan kapan ke rumah sakit, itu tidak mudah.
Bahkan ada yang takut hingga kondisi terlambat jadi menyebabkan kematian.
T : Kondisi seperti apa yang dihadapi saat ini dalam penanganan Covid-19?
J : Pernah dalam suatu kasus, BOR (bed occupancy rate) atau kerisian tempat tidur cukup besar, hampir 86 persen, terbesar se-Indonesia namun ini tentu dapat dipahami, persentase awal 10 jadi 20 orang, maka itu dipersentasekan 100 persentase, dari peningkatan signifikan.
Misalnya, di tempat saya, RSUP Provinsi, ada 100 tempat tidur, 75 khusus gejala sedang dan 25 untuk orang bergejala berat. Dari 25 yang bergejala berat, bed itu dulu ada celah kosong, tetapi sekarang penuh terus. Dulu yang bed 75 hanya terisi 20 atau 30 bed sekarang malah 60 bed terisi, bahkan ini terjadi di rumah sakit lain juga. Maka ada penambangan bed saat ini untuk mengantisipasi hal ini.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20210814-dokter-anestesi-dan-intervensi-nyeri-di-rumah-sakit-umum-daerah.jpg)