Virus Corona di Bangka Belitung
Luar Biasa ! Begini Kisah Sukses Ninik Lawan Covid-19 Tanpa Obat
Memiliki pengalaman mengurus Pasien Covid-19, menerapkan protokol kesehatan serta memperoleh dukungan dari keluarga hingga tetangga sekitar menjadi ku
Penulis: Cepi Marlianto |
BANGKAPOS.COM, BANGKA – Memiliki pengalaman mengurus Pasien Covid-19, menerapkan protokol kesehatan serta memperoleh dukungan dari keluarga hingga tetangga sekitar menjadi kunci Retno Handayani Wening dan keluarganya untuk melalui masa isolasi mandiri sampai terbebas pada Corona tanpa obat.
Ninik sapaan akrab Retno Handayani membagikan kisahnya tersebut saat live streaming kisah sukses para penyintas melawan Covid-19 yang dipandu Pemimpin Redaksi Bangka Pos, Ibnu Taufik Juwariyanto, Rabu (18/8/2021) malam.
Ninik bercerita, awal mula dirinya mengetahui terpapar Corona setelah mengalami anosmia atau kehilangan indera penciuman pada Tanggal 1 Juli 2021.
Saat itu ia sedang memasak di dapur, dan sang anak laki-lakinya bernama Surya (12) telah selesai keramas dan meminta Ninik mencium rambutnya. Hasilnya dia tak dapat mencium wangi shampo yang digunakan anaknya.
Beranjak dari situ kemudian Ninik mencoba mencium aroma masakannya, dan ternyata hasilnya sama ia tak dapat mencium harumnya masakannya kala itu.
Karena merasa curiga, akhirnya ia sekeluarga memutuskan untuk melakukan tes swab polymerase chain reaction (PCR) di sebuah fasilitas kesehatan di Yogyakarta, Jawa Tengah. Hasilnya dia dan anak ketiganya bernama Surya dipastikan terpapar Corona.
“Saya bingung terkena dari mana karena aktivitas saya banyak. Gejala yang lain itu saya anggap biasa. Karena penasaran coba mengiris jeruk nipis dan tidak bau juga. Saya berpikir ada sesuatu yang sedang mampir di dalam tubuh saya,” kata dia.
Usai dinyatakan positif, Ninik langsung melakukan isolasi mandiri di rumah bersama anaknya. Akan tetapi dia tetap berada satu rumah bersama dua orang anaknya yang lain yakni Bulan (19) dan Lintang (16).
Selama 15 hari menjalani isolasi keluarga ini tetap menjalankan protokol kesehatan dengan memakai masker. Karena hal itu sudah menjadi kebiasaan keluarganya jauh hari sebelum pandemi Covid-19 ada, sebab tinggal di lereng gunung banyak sekali abu yang datang secara tiba-tiba.
Dalam menjalani masa-masa isolasi, Nunik mengaku sering melakukan interaksi dengan kedua anaknya yang tak terkonfirmasi positif. Mulai dari berjemur bersama di pelataran rumah hingga berinteraksi di dapur saat mengambil makanan.
“Tetapi memang alat makan yang anak dan saya pakai itu berbeda. Saya mencuci alat makan saya sendiri,” terang Ninik.
Nunik tak menampik pada saat isolasi mandiri, ia merasa tertekan meskipun tak ada gejala. Sempat terbesit dalam pikirannya ia akan meninggal dunia karena memiliki penyakit asma.
Namun karena sebelumnya telah memiliki pengalaman mendampingi bahkan merawat keluarga hingga kerabat yang terpapar Covid-19 dan berinteraksi secara langsung, membuat Ninik berpikir positif bahwa dirinya baik-baik saja.
Terlebih lagi saat ia belajar dari anaknya Surya, yang kala itu juga sedang terpapar Covid-19 bagaimana cara menyikapi sesuatu. Meskipun sakit harus tetap semangat untuk sembuh.
“Saya malah belajar dari anak kecil bagaimana cara menyikapi sesuatu. Kebetulan di rumah saya disuplai kelapa muda dari kampung. Saya sempat bertanya kepada anak saya mau diberi jeruk nipis atau sirup. Tetapi dijawab mau di campur apa saja rasanya sama saja, yang penting masuk. Makan pun begitu, walaupun nggak ada rasanya yang penting makan,” papar ibu tiga orang anak ini.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20210819-retno-handayani-wening-alias-ninik-kanan-saat-live-streaming.jpg)