Horizzon
Catatan untuk Ali Syahbana
Peradaban ini perlu bukti bahwa Ali Syahbana yang memilih mendampingi istrinya yang meninggal saat terpapar Covid-19, ternyata tak ikut terpapar
KABAR duka yang dikirim di WAG tentu bukan hal yang aneh belakangan ini, baik itu grup alumni sekolah, teman main, teman kantor, atau komunitas lainnya.
Lantaran sudah terlalu sering, maka setiap ada kabar duka yang tersiar, kita seperti sudah punya template balasan untuk sekadar menunjukkan bahwa kita peduli. Bahkan tak jarang, stok stiker dan emoticon di aplikasi WA kita juga lebih dari cukup untuk membalas setiap kabar duka yang disiarkan.
Sadarkah kita juga sering kali lucu dan berlebihan untuk merespons setiap kabar duka. Di beberapa kasus, ingatkah kita bahwa kita sering memberikan ucapan atas sebuah kabar duka, sementara itu tidak ada satu pun keluarga orang yang berduka ada di dalam grup tersebut.
Tidaklah berlebihan, saking terlalu seringnya kita mendengar kabar duka belakangan ini, maka respons kita juga menjadi miskin makna. Kita hanya ingin dikesankan peduli, dan itu mudah. Cukup menarikan jempol kita di layar ponsel dan sah sudah kepedulian kita yang makin 'angkuh' ini.
Namun kabar duka yang terkirim di WAG Minggu pagi kemarin benar-benar membuat saya tersedak. Saya bahkan tak sempat untuk merunut siapa yang pertama kali mengirimkan pesan duka di WAG kantor pagi itu. Dari beberapa komen, saya tahu persis siapa yang berduka pagi itu.
Jujur, butuh waktu panjang bagi saya untuk memberikan komentar atas kabar duka tersebut. Saya tentu ingin menuliskan kalimat panjang dengan harapan bisa dianggap paling peduli, dianggap paling care atau semacamnya.
Saya juga berharap, komentar saya di WAG adalah komentar yang paling bisa menghibur kawan yang tengah berduka.
Berulang kali saya menulis, namun saya hapus kembali. Saya tulis lagi dan kemudian saya hapus kembali. Entah berapa kali tak terhitung saya harus menulis dan kemudian menghapusnya kembali.
Sejujurnya, saya tak punya satu pun kalimat yang tepat untuk menunjukkan empati, doa atau harapan untuk kawan saya, Ali Syahbana yang harus kehilangan istri sekaligus anak pertamanya yang sudah dinantikan sekitar tiga tahun perkawinan mereka.
Dari sekian lama mencari kata dan kalimat yang tepat, saya hanya mampu menuliskan tiga huruf dalam komentar di WAG pagi itu. Saya hanya menuliskan nama kawan kantor saya yang diikuti tanda koma, (ali,).
Saya benar-benar seperti tak kuasa untuk merangkai kata. Saya sadar, seheroik apa pun kalimat saya untuk menyemangati atau sekadar menghibur seorang Ali, dia jauh lebih kuat dan tegar dibanding saya.
Sebelas hari penuh, Ali terus menemani istrinya yang berjuang melawan Covid-19 dalam kondisi hamil 7 bulan. Ali mengabaikan risiko apa pun atas dirinya dan memilih mendampingi belahan jiwa sekaligus belahan raganya yang ada di kandungan istri tercinta. Ali tak peduli apa pun, kecuali kehadirannya di samping istri dan calon putrinya.
Belum cukup sampai di situ, seakan ingin terus menemani istri dan anaknya, Ali dengan wajah lelahnya berjalan beriringan dengan serombongan petugas berbaju hazmat yang membawa jenazah istri tercintanya.
Jujur, meski saya mendekat dan menyempatkan diri mengabadikan beberapa momen di pemakaman, saya tak sanggup untuk bertatap muka dengan Ali. Saya tahu persis air mata saya mudah meleleh dan saya takut, kecengengan saya justru akan mengoyak ketegaran seorang Ali.
Saya makin getir manakala melihat Ali turun ke liang pemakaman istrinya, kemudian melafazkan iqomah untuk jenazah putrinya yang disandingkan dengan jenazah ibu sang bayi. Asal tahu, jenazah putri Ali ini sebelumnya telah dimakamkan namun digali kembali untuk disatukan dengan makam ibunya atas permintaan Ali Syahbana.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/ibnu-taufik-jr.jpg)