Kamis, 21 Mei 2026

Inilah Efek Samping Usai Disuntik Vaksin Moderna, Begini Cara Mudah Mengatasinya

Vaksin Moderna yang sebelumnya digunakan untuk booster tenaga kesehatan, kini mulai didistribusikan ke masyarakat umum

Tayang:
Editor: Iwan Satriawan
TRIBUNNEWS/Jeprima
ilustrasi vaksinasi moderna 

BANGKAPOS.COM-Selain Sinovac dan AstraZeneca, pemerintah juga menggunakan Moderna untuk vaksin Covid-19.

Kementerian Kesehatan telah mengalokasikan 5.102.300 dosis vaksin Moderna untuk vaksinasi Covid-19 di 34 provinsi.

Vaksin Moderna yang sebelumnya digunakan untuk booster tenaga kesehatan, kini mulai didistribusikan ke masyarakat umum.

Lantas siapa saja yang boleh mendapatkan vaksin Moderna?

Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 dari Kementerian Kesehatan Siti Nadia Tarmizi menjelaskan bahwa vaksin Moderna dosis satu dan dua dapat digunakan untuk masyarakat umum.

Namun, penggunaannya hanya untuk mereka yang berusia di atas 18 tahun.

Baca juga: Video Bocah Mencuci Kaki Ibunya Sebelum Meninggal, Sang Ibu Menangis saat Dinasihati Hindari Dosa

“Moderna untuk masyarakat umum untuk dosis satu dan dosis dua untuk usia di atas 18 tahun,” ujar Nadia, Kamis (19/8/2021) seperti dikutip dari kompas.com.

Meskipun juga diberikan kepada masyarakat umum, namun suntikan ketiga (booster) Moderna bagi para tenaga kesehatan juga terus dilanjutkan.

Nadia mengatakan, vaksin buatan perusahaan AS itu merupakan vaksin Covid-19 dengan platform mRNA dengan nukleosida dimodifikasi yang dapat membentuk kekebalan tubuh terhadap virus SARS-CoV-2 sehingga dapat mencegah penyakit Covid-19.

Kemenkes mengarahkan agar vaksin Moderna disimpan dalam mesin pendingin pada suhu minus 25 derajat celsius sampai dengan minus 15 derajat celsius di fasilitas dinas kesehatan.

Baca juga: Cara Hemat Penggunaan Gas 3 kg Sampai Berminggu-minggu, Tak Banyak yang Tahu, Anda Harus Segera Coba

Hal itu tertuang dalam Surat Edaran Nomor SR.02.06II/2025 /2021 yang ditandatangani Plt Sekjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes, Maxi Rein Rondonuwu 4 Agustus 2021.

Sedangkan pada fasilitas pelayanan kesehatan, kata Nadia, vaksin Moderna dapat disimpan pada "vaccine refrigerator" suhu 2 hingga 8 derajat celsius.

Belum diberikan untuk anak-anak

Sebelumnya, Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Penny Lukito juga menjelaskan bahwa vaksin Moderna belum dapat diberikan untuk anak-anak.

Dia menjelaskan, penggunaan vaksin Moderna adalah untuk imunisasi pencegahan Covid-19 bagi kelompok usia 18 tahun ke atas.

Baca juga: Pembunuhan Ibu dan Anak di Subang, Terbongkar Ternyata Sosok Ini yang Hapus Foto-foto Amalia

"Vaksin Moderna belum bisa untuk anak di bawah 18 tahun. Ini untuk 18 tahun ke atas," ujarnya sebagaimana diberitakan Kompas.com, Jumat (2/7/2021).

Adapun vaksin Moderna penggunaannya diberikan secara injeksi (suntikan) sebanyak dua kali dalam rentang waktu satu bulan.

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) diketahui telah mengeluarkan izin penggunaan darurat atau emergency use authorization (EUA) untuk vaksin Covid-19 Moderna pada 2 Juni 2021.

Diberitakan Kompas.com, 2 Juni 2021, penerbitan EUA ini berdasarkan hasil uji klinis fase ketiga dan pengkajian Komite Nasional Penilai Vaksin Covid-19, ITAGI, dan BPOM.

"Penerbitan EUA ini untuk merespons kebutuhan vaksin yang sangat tinggi dan upaya pemerintah dalam memperluas cakupan akses vaksin dengan intensitas program vaksinasi nasional," tambah Penny.

Efek samping Moderna

Tak jauh berbeda dengan vaksin Covid-19 lainnya, vaksin Moderna juga memiliki efek samping untuk penerimanya.

Munculnya efek samping atau Kejadian Ikutan Pasca-Imunisasi (KIPI) cenderung dapat ditoleransi dengan status tingkat keparahan satu dan dua.

Kejadian efek samping yang paling sering dirasakan, antara lain:

-Nyeri

-Kelelahan

-Nyeri di tempat suntikan

-Nyeri otot

-Nyeri sendi

-Pusing

Adapun keluhan-keluhan ini biasanya dirasakan setelah seseorang menerima dosis kedua vaksin.

Keluhan efek samping ini sama untuk usia dewasa di bawah 65 tahun dan di atas 65 tahun.

Meski demikian, ada perbedaan dari sisi titer antibodi.

"Data imunogenitas yang merupakan tingkatan titer antibodi dan netralisasi menunjukkan bahwa memang untuk kelompok usia lansia lebih rendah dibandingkan usia dewasa," ujar Penny.

Cara mengatasi

Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 Kementerian Kesehatan Siti Nadia Tarmizi mengatakan, efek samping semacam itu masih tergolong wajar.

"Itu efek samping yang mungkin timbul dan itu wajar," kata Nadia saat dihubungi Kompas.com, Rabu (4/8/2021).

Menurut Nadia, masyarakat yang mengalami efek samping tertentu pasca-disuntik vaksin, diperbolehkan mengonsumsi obat-obatan yang sesuai dengan keluhan yang dirasakan.

"Bisa minum obat penurun panas atau antimual," kata Nadia.

Namun, apabila seiring berjalannya waktu efek samping yang dialami justru dirasakan semakin berat, maka Nadia menyarankan masyarakat untuk segera menghubungi fasilitas layanan kesehatan terdekat.

"Kalau (efek samping) bertambah berat, segera ke Puskesmas atau ke Rumah Sakit," kata Nadia.

Penyebab timbulnya efek samping

Diberitakan Kompas.com, 25 Februari 2021, David J. Cennimo, dokter penyakit menular dan asisten profesor di Sekolah Kedokteran Rutgers New Jersey, Amerika Serikat, menjelaskan alasan bisa muncul efek samping setelah disuntik vaksin Covid-19.

Cennimo mengatakan, efek samping yang dirasakan oleh penerima vaksin adalah tanda-tanda pengenalan yang tepat dan reaksi kekebalan terhadap vaksin.

Efek samping itu menunjukkan bahwa vaksin yang diuntikkan sedang bekerja.

Vaksin tersebut mengajarkan sistem kekebalan tubuh tentang cara mengenali dan menyerang virus corona SARS-CoV-2 penyebab Covid-19, jika virus itu masuk ke dalam tubuh.

Meskipun beberapa efek samping vaksin mirip dengan gejala infeksi Covid-19, namun dipastikan vaksin tersebut tidak akan menginfeksi hingga membuat kita terular.

Efikasi atau kemanjurannya 94,1 persen

Menurut Penny, berdasarkan data hasil uji klinis fase ketiga menunjukkan, efikasi vaksin Covid-19 Moderna mencapai 94,1 persen pada kelompok usia 18-65 tahun.

Sementara, untuk kelompok usia di atas 65 tahun, efikasinya menurun mencapai 86,4 persen.

Selain itu, hasil uji klinis fase ketiga juga menunjukkan vaksin Moderna aman untuk kelompok populasi masyarakat dengan komorbid atau penyakit penyerta.

Adapun komorbid yang dimaksud yakni penyakit paru kronis, jantung, obesitas berat, diabetes, penyakit lever hati, dan HIV.

Masyarakat yang bisa dapat vaksin Moderna di Jakarta

Diberitakan Kompas.com, Selasa (17/8/2021), Pemprov DKI Jakarta saat ini telah mengeluarkan aturan khusus terkait siapa saja yang bisa mendapat vaksin dari Moderna.

Adapun rincian syarat siapa saja yang bisa mendapatkan vaksin ini yakni:

-Belum pernah mendapatkan vaksinasi Covid-19 dosis 1 dan 2;

-Tidak dapat menggunakan vaksin AstraZeneca dan Sinovac berdasarkan surat keterangan dokter;

-Ber-KTP DKI Jakarta atau berdomisili di DKI Jakarta dengan surat resmi minimal dari RT setempat.

Selain itu, pemprov DKI Jakarta juga akan memberikan vaksin Moderna untuk para pengidap autoimun.

Pemberian vaksin Moderna oleh Pemprov DKI Jakarta kepada para pengidap autoimun ini rencananya dilakukan besok, Jumat (20/8/2021).

Adapun ketentuan vaksinasi Moderna bagi pengidap autoimun adalah sebagai berikut:

-Hanya untuk warga KTP DKI Jakarta atau berdomisili di DKI Jakarta

-Pemeriksaan ke dokter dan mendapatkan surat persetujuan vaksinasi dengan Moderna

-Mengisi pendaftaran di bit.ly/daftarvaksinautoimun

-Menunggu konfirmasi lokasi dan jam melalui pesan WhatsApp atau surat elektronik

Nantinya, akan ada 35 fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes) di Jakarta yang melayani vaksinasi Covid-19 Moderna bagi pengidap autoimun.(kompas.com)

Sumber: Kompas.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved