Breaking News:

Berita Sungailiat

Racun Narkoba Baru Mulai Keluar di Bulan ke-14 Masa Terapi

Ronal mengatakan rehabilitasi itu merupakan metode atau cara mengembalikan kesehatan mental para korban penyalahgunaan narkoba.

Penulis: edwardi | Editor: nurhayati
Bangkapos.com/Edwardi
Direktur Program Pusat Rehabilitasi Mental Moeliya Sungailiat, Ronal didampingi Ketua Yayasan Rehabilitasi Mental Moeliya, Magrizan. 

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Direktur Program Pusat Rehabilitasi Mental Moeliya Sungailiat, Ronal mengatakan rehabilitasi itu merupakan metode atau cara mengembalikan kesehatan mental para korban penyalahgunaan narkoba.

"Untuk korban penyalahangunaan narkoba atau nafza itu menggunakan terapi khusus tidak boleh menggunakan kembali zat nafza, sedangkan untuk disabilitas digunakan terapi community seperti morning meeting, wearpack, function dan lainnya untuk mengembalikan fungsi sosial mereka," kata Ronal kepada Bangkapos.com, Jumat (24/9/2021).

Menurutnya, untuk pasien yang mengalami dualdiagnosis yakni efek nafza dan gangguan kejiwaan, kalau gangguan kejiwaannya tinggi maka tidak bisa masuk dalam terapi nafza, karena dia pasti berlaku lebih keras.

"Namun kita di sini tidak  membolehkan dalam terapi menggunakanbody touch atau pemukulan terhadap klien merupakan hal utama yang sangat dilarang. Yang kita lakukan bagaimana bisa menyentuh hati mereka supaya timbul kesadaran untuk bisa pulih kembali," jelas Ronal.

Baca juga: 4 Tahun Jadi Pecandu Narkoba, Kini Mahasiswi Ini Semangat Kerjakan Skripsi Meski Jalani Rehabilitasi

Baca juga: Pusat Rehabilitasi Mental Moeliya Rawat 24 Korban Penyalahgunaan Narkoba

Diungkapkannya dalam terapi nafza ini hal utama yang harus dilakukan yakni tidak boleh menggunakan nafza kembali, hal ini harus total diterapkan  untuk seluruh klien.

"Karena kalau klien yang masuk kesini namun masih terdetoksifikasi nafza percuma saja, kita mau bicara apapun soal keagamaan dan lainnya percuma saja karena racun nafza itu masih mempengaruhi mereka," ungkap Ronal.

Dilanjutkannya terapi nafza baru bisa dilakukan apabila sudah muncul rasa penerimaan pada dirinya, lalu pihak konselor sanggup untuk melakukan terapi karena sudah mempelajari teknik-teknik terapi dan berbagai pelatihan Am I, conseling dan lainnya.

"Hal ini juga bisa dilakukan para pekerja sosial masyarakat (PSM) yang memang sudah menjalani pelatihan untuk melakukan hal ini," ujar Ronal.

Ditambahkannya, selain itu juga dilakukan pembinaan kerohanian, untuk yang beragama Islam ada disiapkan mushola dan yang Nasrani dibawa ke gereja untuk beribadah di Hari Minggu.

"Untuk memulihkan para korban penyalahangunaan narkoba ini tergantung dari masa pakai si klien, memang kebanyakan klien berharap bisa pulang lagi ke rumahnya setelah 3-6 bulan masa rehabilitasi, sedangkan ia memakainya sudah 11 tahun, bagaimana kita bisa memulihkannya dalam waktu yang singkat," ungkap Ronal.

Baca juga: Heboh Video Gisel Lagi, Kali Ini Durasinya Sama 19 Detik, Rela Bergoyang Demi Wijin

Baca juga: Tukul Arwana Dioperasi untuk Obati Stroke, Segini Daftar Harga Biaya Operasi Bedah Syaraf di RS

Diakuinya, memang ada standar yang diberikan WHO dalam melakukan rehabilitasi korban penyalahangunaan narkoba ini.

"Racun narkoba baru mulai keluar di bulan ke-14 dan baru benar bersih di bulan ke-36, dan itupun meninggalkan kerusakan otak permanen pada si korban tersebut, nah karena ada kerusakan otak permanen inilah yang sering memanggil korban untuk memakai kembali," jelas Ronal.

Dilanjutkannya, karena itu orang yang sudah kecanduan narkoba itu termasuk terkena penyakit kronis pada otaknya.

"Karena itu para konselor disini harus mampu mengambil sisi-sisi positif si klien agar dia bisa cepat pulih kembali dari kecanduan narkoba ini," pesan Ronal.

(Bangkapos.com/Edwardi)

Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved