Breaking News:

Bangka Pos Hari Ini

Baru 1.141 Tenaga Kesehatan Dapat Booster di Pangkalpinang

Dinas Kesehatan Kota Pangkalpinang memastikan sudah ada sebanyak 1.141 orang dari total 2.500 Nakes yang mendapat penyuntikan vaksinasi ketiga.

Penulis: Ajie Gusti Prabowo (CC) | Editor: fitriadi
Joseph Prezioso / AFP | Freepik
ILUSTRASI Vaksin Moderna. 

PANGKALPINANG, BANGKA POS - Dinas Kesehatan Kota Pangkalpinang memastikan sudah ada sebanyak 1.141 orang dari total 2.500 tenaga kesehatan (Nakes) yang mendapat penyuntikan vaksinasi ketiga atau booster. Namun, jumlah ini dinilai masih terbilang rendah.

Kepala Dinkes Pangkalpinang, dr Masagus M Hakim mengatakan penyuntikan booster untuk Nakes memang tidak bisa diberikan secara sekaligus. Sebab diakuinya, booster yang menggunakan jenis Moderna menimbulkan gejala.

"Kalau sampai saat ini booster untuk Nakes kita memang masih rendah, tapi sudah cukup lumayan sudah 50 persen dari target jumlah Nakes yang ada. Karena booster ini bergejala kita tidak bisa sekaligus penyuntikan, ada yang masih menjadi kader Covid-19, jadi bertahap," jelas Hakim, Jumat (1/10).

Selain itu diakui Hakim, masih ada Nakes yang menunggu tiga bulan setelah terpapar Covid-19. "Ada juga beberapa Nakes yang ikut booster di rumah sakit Bhayangkara sehingga terhitung capaian vaksinasi untuk Bangka Tengah," ujarnya.

Menurutnya, stok vaksin Moderna bagi Nakes masih tersedia dan tidak ada permasalahan stok.

Hanya saja diakuinya, memang vaksinasi tidak dapat dilaksanakan sekaligus. "Pemberian booster ini didasarkan atas tingginya risiko yang dihadapi para Nakes saat gelombang infeksi virus corona apalagi varian delta. Efektivitas vaksin Moderna memang lebih tinggi dari pada vaksin Sinovac yakni 94,1 persen," tambahnya.

Namun memang menurut Hakim, kejadian ikutan pascaimunisasi (KIPI), paling banyak dirasakan oleh penerima vaksin Moderna.

"Misalnya sakit kepala, mual, muntah, mialgia, artralgia dan kekakuan. Nyeri pada tempat suntikan, kelelahan, kedinginan, dan demam umumnya seperti sakit. Kalau berdasarkan penelitian memang berpotensi 10 persen ada KIPI, tapi ringan tidak berat, umumnya lebih tinggi pada penyuntikan dosis kedua," jelasnya.

Hakim menambahkan hingga kini Lansia masih menjadi sasaran utama vaksinasi.

"Rata-rata kasus meninggal kita kemarin memang Lansia dan memiliki penyakit bawaan terus memang kebanyakan belum ikut vaksin. Makanya sasaran utama kita tetap Lansia," tuturnya.

Halaman
123
Sumber: bangkapos
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved