Horizzon
Susah Nyari Orang 'Susah' di Babel
BPS mengeluarkan data per Maret 2021 dan menyebutkan bahwa garis kemiskinan di Bangka Belitung menempati urutan teratas
JUDUL di atas barangkali tidak tepat untuk melabeli tulisan ini. Bisa jadi, pemilihan judul di atas juga berpotensi munculnya anggapan bahwa tulisan ini sebagai bentuk ketidakpedulian terhadap frasa susah (baca:kemiskinan) di Bangka Belitung.
Pemilihan judul di atas semata-mata untuk mengejawantahkan dan memudahkan pemaknaan atas 'prestasi' Babel dalam mengatasi kemiskinan. Apalagi jika pemahaman akan arti kemiskinan juga dikaitkan dengan membandingkan standar kemiskinan di Bangka Belitung dengan provinsi lain di Indonesia.
Bagi orang yang sudah terbiasa dengan situasi di Jawa, kita sering melihat potret kemiskinan dengan gambaran rumah papan dari kardus, yang barangkali berpindah setiap hari karena digusur Satpol PP. Atau potret kemiskinan yang digambarkan dengan orang-orang yang hidup di bantaran sungai dengan standar yang jauh dari kata layak.
Jika frasa kemiskinan dipahami pada situasi-situasi di Jawa, atau barangkali di tempat lain, maka judul di atas adalah pilihan paling pas. Susah mencari orang 'Susah' di Bangka Belitung.
Pernah suatu ketika, jauh sebelum Covid-19 melanda, kita akan menyalurkan donasi dari seorang petinggi sebuah partai politik di Bangka Belitung. Kala itu waktunya berbarengan dengan momentum menjelang Idulfitri. Agar lebih berkesan, donasi tersebut disalurkan dengan sedikit gimik, di mana bantuan akan diberikan kepada orang yang yang paling miskin di Pangkalpinang.
Dan gimik tersebut dimulai dengan membuat sayembara kepada sejumlah kolega, yang berisi mencari orang paling miskin di Kota Pangkalpinang. Sebagai catatan, Kota Pangkalpinang dipilih untuk melokalisasi covered area agar tidak terlalu luas dan fokus sehingga gimik yang diinginkan bisa segera dijalankan.
Kala itu kita juga ingat betul, tantangan mencari orang paling miskin di Pangkalpinang dilakukan dengan mengabaikan penarik gerobak sampah yang tiba-tiba marak menjelang Lebaran, sebagai sasaran.
Kala itu, kita meyakini menarik gerobak sampah bukanlah potret riil kemiskinan di Babel dalam perspektif ekonomi. Menarik gerobak sampah menjelang Lebaran kita simpulkan sebagai modus dari pelakunya untuk tampil seolah-olah miskin dengan maksud memperoleh berkah menjelang Lebaran.
Artinya, jika pun dianggap sebagai potret kemiskinan, maka kemiskinan dari fenomena penarik gerobak sampah ini adalah sikap merasa miskin, tetapi bukan miskin secara ekonomi.
Fixed, dengan menghindari penarik gerobak sampah sebagai sasaran, akhirnya ditemukanlah orang yang konon kita yakini sebagai orang paling miskin di Pangkalpinang. Seorang janda tua, tinggal di rumah papan dan memiliki pekerjaan serabutan.
Dari beberapa diskusi, kawan-kawan yang terlibat di dalam gimik ini memastikan bahwa janda tersebut adalah orang paling miskin di Pangkalpinang. Dalam diskusi lebih keras, diambil kesimpulan, setidaknya kita sudah berhasil menemukan potret nyata tentang standar kemiskinan di Bangka Belitung dengan sampling di Kota Pangkalpinang.
Bisa jadi, janda yang akhirnya diberikan donasi ini memang orang paling miskin di Bangka Belitung. Namun, tentu jika situasi ini dilihat dari perspektif orang yang sering melihat kemiskinan di daerah lain, maka status miskin dari janda tersebut patut untuk digugat.
Dia sama sekali tidak mencirikan orang miskin. Dia sangat berdaya secara ekonomi, mampu mencukupi kehidupannya. Sederhananya, janda tersebut makan tiga kali sehari dengan menu yang layak.
Memang betul rumahnya papan dan dia nebeng di lahan milik orang lain. Namun, potret kemiskinan ini jauh jika dibandingkan dengan kemiskinan yang ada di luar Babel.
Di sinilah poin yang ingin disampaikan, terkait dengan rilis yang dikeluarkan oleh BPS bertajuk Indikator Sosial Ekonomi di Bangka Belitung, 29 Oktober 2021 lalu.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/ibnu-taufik-jr.jpg)