Breaking News:

Berita Pangkalpinang

Kuota Tersisa 189 Orang, Kadindik Pangkalpinang Jamin Tak Ada Kecurangan dalam Seleksi PPPK Guru

Kuota 307 guru dengan status Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) di Kota Pangkalpinang

Penulis: Cepi Marlianto | Editor: nurhayati
Bangkapos.com/Cepi Marlianto
Seorang guru di SMP Negeri 2 Pangkalpinang, saat menerangkan materi pembelajaran kepada peserta didiknya, Kamis (25/11/2021). 

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Kuota 307 guru dengan status Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) di Kota Pangkalpinang, Kepulauan Bangka Belitung hingga kini belum juga terpenuhi.

Data dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Pangkalpinang, baru sebanyak 118 guru honorer yang dinyatakan lolos seleksi CPPK tahap pertama. 

"118 guru yang memenuhi passing grade untuk menjadi guru PPPK. Jadi masih sisa 189 kuota lagi," jelas Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Pangkalpinang, Eddy Supriadi di Pangkalpinang, Kamis (25/11/2021).

Eddy menegaskan, dalam proses seleksi pihaknya tidak ikut campur.

Semua prosedur seleksi dilakukan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi Republik Indonesia.

Untuk itu Eddy menjamin tidak ada kecurangan dalam proses seleksi CPPK guru kali ini.

Bahkan peserta yang dinyatakan gugur saat seleksi tahap pertama tetap dapat mengikuti seleksi tahap dua dan tiga pada awal Desember 2021 nanti.

"Tes itu by sistem jadi kita hanya menerima informasi saja. Jadi yang melaksanakan panitia seleksi nasional sama dengan CPNS," jelas Eddy.

Kendati demikian, Eddy berpesan kepada para guru honorer yang ingin mendaftarkan diri sebagai PPPK guru untuk tidak terjebak dalam rutinitas.

Pasalnya dalam tes CPPPK diutamakan kompetensi, profesional dan andragogik sehingga para guru harus mengembangkan diri mereka sesuai perkembangan zaman.

Di samping itu, guru honor diharapkan tidak cepat berpuas diri, mereka juga harus banyak belajar apalagi tantangan pada saat ini semakin tinggi, baik dari sesama guru maupun mahasiswa jurusan kependidikan yang baru lulus dari perguruan tinggi.

"Jadi secara positif mengembang potensi diri sendiri karena tidak rugi, karena itu menguntungkan kinerja, bukan hanya terjebak pada status honorer maupun ASN. Kalau kecintaan kita terhadap guru itu baik maka akan menciptakan generasi penerus yang baik pula. Jadi tidak terpengaruh dengan status kepegawaian. Itu hanya peningkatan kesehatan kesejahteraan," jelas Eddy.

(Bangkapos.com/Cepi Marlianto)

Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved