Breaking News:

BPBD Pantau Kawasan Culong, Antisipasi Bencana Banjir di Babar

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bangka Barat terus memantau titik rawan terjadinya banjir di wilayahnya, saat musim penghujan.

Penulis: Ajie Gusti Prabowo (CC) | Editor: M Ismunadi
Bangkapos.com/Dokumentasi
Simulasi penanganan bencana banjir dan kebakaran di masa pandemi Covid-19 di Lapangan Gelora Muntok, Kabupaten Bangka Barat, Kamis (25/11/2021). 

BANGKAPOS.COM, BANGKA - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bangka Barat terus memantau titik rawan terjadinya banjir di wilayahnya, saat musim penghujan. Satu di antaranya, kawasan Culong, Kampung Ulu, Muntok, yang diketahui sempat terendam banjir setinggi lutut kaki orang dewasa, setelah diguyur hujan dengan intensitas tinggi pada Mei lalu.

Kepala BPBD Babar, Achmad Nursandi mengatakan wilayahnya memang memiliki tingkat kerawanan bencana yang cukup tinggi, khususnya terhadap bencana banjir. "Alhamdulillah sekarang sudah kita atasi, dengan adanya pembangunan kolong retensi dan cek dam (dam pengendali, red). Kemudian di beberapa titik di Kecamatan Jebus juga sekarang bisa teratasi dan tahun ini, relatif tidak ada kejadian cuma kita harus tetap antisipasi dan siaga," ujar Sandi, Kamis (25/11).

Diakuinya, BPBD Babar memiliki 20 personel TRC (Tim Reaksi Cepat) yang selalu siaga, untuk memantau daerah rawan bencana. Pihaknya juga memiliki sarana prasarana yang memadai mulai dari kendaraan hingga peralatan lainnya.

"Dari BPBD, Basarnas kita siap selalu, tim reaksi cepat kita ada kurang lebih 20 anggota yang kita siagakan 24 jam. Mereka akan selalu memantau situasi terkini, kemudian dari kawan-kawan Basarnas ada enam anggota ditambah personel yang lain, kita selalu siap siaga 24 jam," katanya.

Pihaknya pun menghimbau masyarakat, untuk selalu siaga dan mengantisipasi cuaca terutama kepada para nelayan. "Khususnya kepada nelayan hati-hati ketika gelombang laut tinggi, sebaiknya ditunda dulu untuk pergi melaut. Hal ini karena sudah ada beberapa kejadian kecelakaan laut korban meninggal. Untuk masyarakat juga kami mengimbau hujan yang tidak berhenti selama satu jam, untuk tetap beraktivitas di dalam rumah dan selalu melihat situasi terkini," ungkapnya.

Simulasi penanganan bencana banjir dan kebakaran di masa pandemi Covid-19 di Lapangan Gelora Muntok, Kabupaten Bangka Barat, Kamis (25/11/2021).
Simulasi penanganan bencana banjir dan kebakaran di masa pandemi Covid-19 di Lapangan Gelora Muntok, Kabupaten Bangka Barat, Kamis (25/11/2021). (Bangkapos.com/dokumentasi)

4 titik rawan

Kepala BPBD Bangka Tengah, Yudhi Sabara juga mengakui fenomena La Nina diperkirakan akan berlangsung hingga Februari 2022. "Berdasarkan data BKMG, prakiraan dampak La Nina terjadi pada akhir tahun 2021 hingga awal 2022 di bulan Februari, guna mengantisipasi akan dampak ini kita menerjunkan sebanyak 300 personel gabungan dengan berbagai peralatan dari beberapa stakeholder terkait," ungkap Yudhi, Selasa (23/11).

Diakuinya, berdasarkan hasil analisa di lapangan, ada empat titik rawan bencana yang terjadi di wilayahnya. Yakni Pangkalanbaru, Lubukbesar, Sungaiselan, dan Koba. "Kerawanan bencana yang terjadi di empat titik ini, yakni banjir, sementara untuk bencana lain seperti tanah longsor, dan puting beliung belum bisa kita presidksi," ujarnya.

Pihaknya pun telah bekerja sama dengan pihak terkait, khususnya di tingkat kecamatan hingga desa untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi bencana ini. "Jadi sebanyak 300 personel gabungan ini, kita turunkan di masing-masing desa yang ada di Bateng, dengan harapan semoga bencana ini bisa diantisipasi, khususnya banjir yang memang sering terjadi," tutur Yudhi. 

Selalu Siaga

Pemerintah Kabupaten Bangka Barat melakukan simulasi penanganan bencana banjir dan kebakaran saat pandemi Covid-19 di Lapangan Gelora Muntok, Kamis (25/11). Sejumlah personel gabungan dari Kodim 0431, Polres, Satpol PP, Damkar, Basarnas, BPBD hingga Puskesmas sebagai tim kesehatan turut andil dalam simulasi ini.

Untuk simulasi banjir, tim dari Basarnas dan BPBD memperagakan cara menolong korban banjir dengan menggunakan tandu dan diangkut dengan seutas tali ke tempat yang lebih aman. Selain itu juga dalam simulasi banjir juga diperlihatkan bagaimana cara tim, saat melakukan evakuasi terhadap korban yang terkonfirmasi positif Covid-19.

Usai melakukan simulasi banjir, kegiatan pun dilanjutkan dengan simulasi penanganan kebakaran. Terlihat satu pondok dibakar, kemudian dua unit mobil Damkar dikerahkan untuk memadamkan api.

Bupati Babar, Sukirman berharap wilayahnya menjadi daerah yang tanggap dan memberikan respon cepat dalam penanggulangan bencana. "Kabupaten Bangka Barat merupakan salah satu kabupaten di Babel yang memiliki skor indeks risiko bencana sebesar 180 dengan klasifikasi risiko ancaman bencana tinggi," ujar Sukirman.

Kepala BPBD Babar, Achmad Nursandi menambahkan simulasi ini berguna untuk memberikan penanganan serta ketenangan bagi para korban bencana. "Ini bentuk kesiagaan kita agar bisa mengurangi risiko akibat bencana itu, lalu kita meminimalisir jumlah korban dan kerugian materi. Sehingga nanti masyarakat merasa nyaman dan tenang, karena ini juga merupakan bagian penting dalam upaya penanganan bencana," kata Sandi. (riz/t3)

Sumber: bangkapos
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved