Selasa, 5 Mei 2026

Berita Bangka Barat

Harga Daging Ayam Tembus Rp45 Ribu per Kg, Pedagang Minta Peran Aktif Satgas Pangan  

Awal Tahun 2022 kini sejumlah kebutuhan dapur merangkak naik satu di antara yakni daging ayam yang tak hanya dikeluhkan pembeli, namun saat ini para p

Tayang:
bangkapos.com/Dok
ILUSTRASI: Harga Ayam di Pangkalpinang Tembus Rp45 Ribu 

BANGKAPOS.COM, BANGKA - Awal Tahun 2022 kini sejumlah kebutuhan dapur merangkak naik satu di antara yakni daging ayam yang tak hanya dikeluhkan pembeli, namun saat ini para pedagang pun juga ikut mengeluhkan harga daging ayam yang saat ini dijual Rp45 ribu per Kg. 

Satu di antara pedagang yang berjualan daging ayam di Pasar Kelapa, Hendra menyatakan harga saat ini jauh di luar prediksi yang semula diperkirakan puncak tertingginya akan terjadi saat Natal dan Tahun Baru (Nataru). 

"Kami kira di Nataru itulah puncak tertinggi harga ayam, rupanya selepas itu tambah gila harganya. Harganya sudah diluar nalar, kita beli biasanya itu harga tertinggi sewaktu masih ada satgas pangan waktu operasi itu Rp 25 ribu. Jadi kami harus bejual ayam itu di angka Rp30 ribu gak bisa di atas itu. Namun sekarang modal dari PT atau broker saja sudah Rp30 ribu, nah mau jual berapa dengan kondisi seperti ini," ujar Hendra saat dikonfirmasi Bangkapos.com melalui telepon, Rabu (5/1/2022). 

Bahkan saat ini untuk satu kilogram ayam timbang kotor dihargai Rp 35 ribu, sedangkan untuk ayam bersih bisa mencapai Rp45 ribu. "Untuk harga kita buka Rp45 ribu, harga termurah itu Rp42 ribu. Kondisi saat ini mahal, maksud kami biar ekonomi bisa berjalan terus daya beli juga gak turun karena ini berpengaruh," katanya. 

Mahalnya daging ayam yang sudah mulai naik saat nataru hingga kini, masih terus melonjak naik bahkan diakui Hendra membuat penjualan daging ayamanya turun jauh. "Satu hari normalnya biasanya 150 sampai 200 ekor, kalau sekrang paling 100an ekor jadi jauh turunnya," ucapnya. 

"Kami ngambil dari broker, ini juga kemungkinan harga ayam luar. Kalau gak ayam luar, mungkin lebih parah lagi harga ayam kita. Ayam ini biasanya dikirim dari Lampung atau Palembang suplainya, kalau gak dibantu ayam luar mahal lagi ayam lokal karena mungkin sedikit jumlahnya," tambahnya. 

Sementara itu agar tidak terus terjadi kenaikan harga daging ayam, Hendra berharap adanya peran aktif dari Satgas Pangan guna melakukan kontrol terhadap harga pasar. 

"Selama ini ketika harga bahan baku naik, mereka kan menempelkan baliho di pasar misal daging HET harus dijual berapa, ayam berapa tapi sekarang pertanyaan kemana mereka itu. Harapan satgas pangan yang dibentuk pemerintah pusat dan daerah digerakkan kembali, biar tau kondisi pasar sekarang," katanya. (Bangkapos.com/Rizky Irianda Pahlevy)

Sumber: bangkapos.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved