Sabtu, 2 Mei 2026

Berita Bangka Barat

Minimnya Pendataan Pendonor Darah, dr Hendra Sebut Berbeda Dengan Pasien Umum, DBD Harus Darah Baru

Ketua Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Bangka Barat, dr Hendra mengakui pihaknya kesulitan mendapatkan pendonor darah trombosit

Tayang:
Penulis: Rizki Irianda Pahlevy | Editor: nurhayati
Bangkapos.com/Rizki Irianda Pahlevy
PMI Kabupaten Bangka Barat, dr Hendra 

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Ketua Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Bangka Barat, dr Hendra mengakui pihaknya kesulitan mendapatkan pendonor darah trombosit yang digunakan untuk transfusi darah ke para pasien Demam Berdarah Dengue (DBD). 

Hal ini diungkapkan mengingat pasien DBD, berbeda dengan pasien umum terkait kebutuhan darah. 

Untuk pasien DBD dr Hendra mengatakan darah yang bisa dilakukan transfusi yakni darah segar, atau darah yang diambil di bawah delapan jam sebelum diberikan kepada pasien DBD

"Untuk donor darah trombosit itu kita memerlukan darah segar, jadi gak bisa menggunakan stok yang ada di PMI. Jadi begitu ada kasus memang harus dicari yang baru, karena trombosit itu waktunya tidak bisa lama bertahan. Jadi ini keunikan kasus DBD, gak bisa pakai darah yang kita simpan di bank darah,"  jelas dr Hendra, Selasa (18/01/2022) saat dikonfirmasi Bangkapos.com.

Baca juga: Saat Antar Pakaian Melati Dirudapaksa Kakak Ipar, Kepergok Istri Ketika Pelaku Masuk ke Kamar Korban

Baca juga: Takut Jarum Suntik, Pegawai Kejari Bangka Barat Ini Harus Dipegang Dua Orang Hingga Dirayu Kajari

Dengan kondisi tersebut saat ini PMI Kabupaten Bangka Barat mengalami kesulitan, untuk mendapatkan pendonor darah yang bersedia melakukan donor darahnya. 

dr Hendra mengungkapkan saat ini pihaknya berencana untuk meminta data golongan darah para PNS dan PHL di Kabupaten Bangka Barat, guna memudahkan pendataan sekaligus mempercepat penanganan jika ada pasien DBD yang membutuhkan donor darah trombosit. 

"Memang yang kita butuhkan sekarang adalah pendataan, rencana saya pengen ketemu Bupati. Nanti kalau ada kebutuhan masyarakat terkait trombosit, mereka yang akan kami hubungi. Mudah-mudahan pendataan ini mereka juga tergerak untuk membantu masyarakat yang butuh trombosit, serta mau donor darah sehingga mencukupi darah trombosit untuk DBD. Untuk masyarakat nanti juga mungkin dari Rt/Rw, ada data warga golongan darah juga bagus," jelasnya. 

Perbedaan donor darah antara pasien umum dengan DBD tersebut, juga diungkapkan dr Hendra menampik adanya informasi PMI Kabupaten Bangka Barat yang selalu kekurangan darah. 

"Memang kesannya setiap kali ada kasus, kok gak ada stok. Nah ini yang perlu diketahui masyarakat, karena darah yang digunakan untuk DBD itu harus donor darah baru," ungkapnya. 

Dua Warga Meninggal

Belum genap satu bulan di awal tahun 2022 kasus Demam Berdarah Dengue (DBD), di Kabupaten Bangka Barat mengalami kenaikan signifikan hingga kini telah mencapai 44 kasus. 

Bahkan dari data RSUD Sejiran Setason dari 44 kasus DBD tersebut, dua warga diantaranya pun meninggal dunia. 

Plt Direktur RSUD Sejiran Setason dr. Rudi Faizul mengungkapkan 44 kasus tersebut, merupakan hasil rujukan dari enam kecamatan di Kabupaten Bangka Barat

"Kalau sepanjang januari ini ada 44 kasus DBD dari semua rujukan, dengan dua kasus kematian dari Kampung Air Samak Dan Desa Air Limau Kecamatan Muntok,"  ungkap dr Rudi Faizul, Selasa (18/01/2021). 

Tingginya kasus DBD pun didominasi berasal dari Kecamatan Muntok, dengan menyasar anak-anak yang kerap terjangkit DBD

Sumber: bangkapos.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved