Selasa, 14 April 2026

VIDEO: Puskesmas Sungailiat Lakukan Fogging Cegah DBD

Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) hingga saat ini masih terus terjadi dan terbilang tinggi di Kecamatan Sungailiat Kabupaten Bangka

Penulis: edwardi | Editor: khamelia

BANGKAPOS.COM -- Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) hingga saat ini masih terus terjadi dan terbilang tinggi di Kecamatan Sungailiat Kabupaten Bangka, khususnya wilayah kerja Puskesmas Sungailiat.

Puskesmas Sungailiat mendata pada Januari 2022 tercatat ada 12 kasus DBD terjadi di wilayah kerjanya yang hanya 3 kelurahan saja, yakni Kelurahan Sungailiat, Kelurahan Kudai dan Kelurahan Srimenanti.

Untuk melakukan upaya pemberantasan nyamuk Aedes Aegypti yang menjadi media penularan DBD ini, Puskesmas Sungailiat melakukan penyemprotan atau fogging di RT 4 Lingkungan Parit Pekir Kelurahan Sungailiat, Selasa (08/02/2022) pagi.

Kepala Lingkungan Parit Pekir Sungailiat, M Rozi mengatakan ada satu pasien anak-anak terserang DBD di RT 4, saat ini sudah dirawat di rumah sakit.

"Sebelumnya juga ada 2 pasien anak-anak terkena DBD di RT 6 dan sudah dilakukan fogging," kata Rozi.

Diakuinya, masyarakat yang daerahnya terjangkit DBD melaporkan kepada ketua RT, selanjutnya melaporkan kepada kepala lingkungan. Kemudian melaporkan ke kelurahan untuk ditindaklanjuti dengan melapor ke Puskesmas Sungailiat.

"Alhamdulillah petugas dari Puskesmas Sungailiat sudah turun melakukan pengecekkan setelah itu baru dilakukan fogging di rumah pasien dan tetangga sekitar rumah pasien," ujar Rozi.

Ditambahkannya, selain melakukan fogging juga ada imbauan kepada masyarakat untuk melaksanakan kegiatan gotong-royong membersihkan lingkungan.

"Kita dari masyarakat diimbau melakukan pemberantasan sarang nyamuk atau PSN dengan melakukan gerakan 3M, yakni menguras, menimbun dan menutup tempat air yang menjadi tempat bersarang nyamuk," tukasnya.

Sementara itu Kepala Puskesmas Sungailiat, dr Aditya N melalui Pengelola Program DBD, Mea mengatakan kegiatan fogging ini dilakukan setelah memenuhi beberapa kriteria persyaratan.

"Jadi tidak semua kasus DBD harus dilakukan fogging," kata Mea.

Ditambahkannya, setelah Puskesmas Sungailiat mendapatkan laporan ada kasus DBD, selanjutnya melakukan penyelidikan epidemiologi dahulu.

'Kita melihat kondisi pasien, rumah pasien dan lingkungan sekitar apakah perlu dilakukan fogging atau tidak. Misalnya di wilayah itu ada 2 kasus DBD atau lebih , terutama anak-anak yang mengalami demam maka hal itu perlu dilakukan fogging," ujar Mea.

Dilanjutkannya selain rumah pasien, petugas juga melakukan fogging di rumah tetangga sekitar dalam radius 100-200 meter.

" Kegiatan fogging ini tidak dipungut biaya untuk memenuhi kriteria penyelidikan epidemiologi, namun ada juga fogging mandiri dimana puskesmas hanya menyediakan peralatan dan petugas fogging, sedangkan biaya operasional, seperti obat racun fogging, BBM disiapkan pihak yayasan atau sekolah yang mengajukan usul fogging mandiri ini," jelasnya.

Mea mengatakan untuk jumlah pasien DBD selama bulan Januari 2022 ada 12 orang yang terdata di Puskesmas Sungailiat yang melayani 3 kelurahan, yakni Sungailiat, Kudai dan Srimenanti.

"Untuk sebaran kasus DBD ini merata terjadi di tiga kelurahan wilayah kerja Puskesmas Sungailiat ini," imbuhnya.

(Bangkapos.com/Edwardi)

Sumber: bangkapos.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved