Rabu, 20 Mei 2026

Berita Sungailiat

Pupuk Pabrikan Mahal, Petani Sawit Gunakan Kohe

Tingginya harga pupuk pabrikan nonsubsidi saat ini yang mencapai rata-rata 185 persen dari harga normal membuat para petani kelapa sawit memutar otak

Tayang:
Penulis: edwardi | Editor: khamelia
BANGKAPOS/Edwardi
Petani menggunakan pupuk kandang atau kotoran hewan (kohe) ayam sebagai alternatif pengganti pupuk pabrikan untuk penanaman bibit kelapa sawit tumpang sari dengan semangka. 

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Tingginya harga pupuk pabrikan nonsubsidi saat ini yang mencapai rata-rata 185 persen dari harga normal membuat para petani kelapa sawit memutar otak mencari pupuk alternatif lain yang lebih terjangkau dan murah.

Harga pupuk nonsubsidi yang mahal ini sangat memukul dan menggerus pendapatan petani,  Khususnya para petani pemula atau baru mulai menanam kelapa sawit rakyat sangat terasa berat untuk memulai usahanya.

Ketua Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Kabupaten Bangka, Jamaludin mengatakan salah satu upaya untuk menekan biaya usaha mulai menanam bibit kelapa sawit baru adalah dengan menggunakan pupuk kandang atau kotoran hewan (Kohe), seperti kotoran ayam, sapi, kambing dan lainnya.

"Seperti pupuk kandang kohe ayam sangat baik untuk pertumbuhan bibit kelapa sawit. Pupuk kandang yang sudah kering ditaburkan dalam lobang penanaman bibit dicampur kapur dolomit dan sedikit pupuk kimia, mudah-mudahan pertumbuhan tanaman kelapa sawit cepat besar," kata Jamaludin, Minggu (13/02/2022)  di peternakan ayam petelur Dusun Bokor Desa Air Duren Kecamatan Pemali Kabupaten Bangka.

Diungkapkannya, saat ini juga sedang menanam bibit kelapa sawit baru di kebunnya sekitar 125 batang. Dan di sela-sela bibir sawit ini juga ditanami atau tumpang sari dengan tanaman semangka.

"Untuk menekan biaya pembelian pupuk nonsubsidi, kami gunakan pupuk kohe ayam ini untuk memacu pertumbuhan tanaman kelapa sawit dan semangka ini, mudah-mudahan pertumbuhannya cepat," ujar Jamaludin.

Diungkapkannya, harga pupuk kandang atau kohe ini sekitar Rp30.000 per karung, sehingga jauh lebih murah dibandingkan menggunakan pupuk nonsubsidi.

"Dari pengalaman saya selama ini, kalau untuk bibit kelapa sawit atau tanaman sawit yang masih kecil memang masih bisa menggunakan pupuk kandang, tetapi kalau kelapa sawit yang sudah besar memang harus menggunakan pupuk kimia buatan pabrik agar tanaman tetap subur dan berbuah lebat," jelasnya.

Sementara itu Wiwid, peternak ayam petelur Dusun Bokor Desa Air Duren Kecamatan Pemali mengatakan saat ini memelihara sekitar 3.000 and ekor ayam petelur.

"Setiap satu minggu sekali kotoran ayam ini harus dibersihkan atau dipanen, sebab gas amoniak kotoran ayam bisa meracuni ayam sehingga nafsu makan ayam berkurang," kata Wiwid.

Dijelaskannya, kotoran ayam di bawah kandang dikumpulkan lalu diangkut untuk dijemur di panas matahari, setelah kering dimasukkan dalam karung untuk pupuk kandang.

"Cukup banyak petani yang mencari dan membeli pupuk kandang ini untuk kebutuhan pupuk di kebunnya. Saya sendiri menggunakan pupuk kandang ini untuk pengolahan lahan menanam semangka," ujarnya.

Ditambahkannya, untuk harga jual pupuk kandang saat ini Rp30.000 per karung.

"Pupuk kandang ini cukup banyak petani yang membelinya, kadang-kadang kita kekurangan stoknya," imbuhnya.

(Bangkapos.com/Edwardi)

Sumber: bangkapos.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved