Jumat, 10 April 2026

Berita Pangkalpinang

Begini Upaya Tekan Inflasi di Bangka Belitung

Badan Pusat Statistik (BPS) Bangka Belitung (Babel) mencatat ekonomi Babel pada Triwulan IV 2021 tumbuh sebesar 6,32 persen dibanding Triwulan IV-2020

Penulis: Cici Nasya Nita |

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Badan Pusat Statistik (BPS) Bangka Belitung (Babel) mencatat ekonomi Babel pada Triwulan IV 2021 tumbuh sebesar 6,32 persen dibanding Triwulan IV-2020 (y-on-y) . Sedangkan pada Triwulan I 2022 sampai Triwulan IV 2021 (y-on-y) tumbuh sebesar 5,05 persen.

Namun, inflasi juga terjadi kenaikan seiring dengan pertumbuhan ekonomi yang kian membaik.

Berdasarkan data terbaru, Bangka Belitung pada Januari 2022 mengalami inflasi 0,97 persen (mtm) atau 3,60 persen (yoy).

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Bangka Belitung (Babel), Budi Widihartanto mengatakan inflasi pada Januari 2022 didorong oleh meningkatnya beberapa komoditas bahan makanan.

"Saya kira wajar, kalau perekonomian tinggi itu pasti menyeret ke inflasi. Namun Alhamdulilah di Babel, inflasi masih level aman, saya kira masih baik, apalagi pertumbuhan ekonomi menyentuh angka 5 persen dan daya beli masyarakat Babel masih baik," ujar Budi, Minggu (20/2/2022).

Dalam menekan angka inflasi, pihak BI mengaku bekerjasama dengan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) dan Satgas Pangan untuk harga penyumbang inflasi dapat dikendalikan.

"Kami melakukan upaya secara struktural, komoditi yang penyumbang inflasi itu terus ditekan, ada juga yang bersifat jangka pendek dan jangka panjang. Selain itu kita akan melihat komoditas mana yang harus ditingkatkan supply, karena demand yang tinggi disebabkan oleh pertumbuhan ekonomi yang tinggi," katanya.

*TIPD Mesti Terus Pantau Harga*

Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Bangka Belitung, Devi Valeriani ikut menyoroti inflasi naik seiring pertumbuhan ekonomi membaik.

"Pertumbuhan ekonomi di Babel ini  menggambarkan kondisi perekonomian di telah menunjukkan kearah pertumbuhan ditengah kondisi Covid 19. Pendongkrak utama adalah meningkatnya harga-harga komoditas unggulan pertambangan dan perkebunan," ujar Devi.

Dia menjelaskan dengan tingginya harga komoditas-komoditas unggulan tersebut berdampak terhadap meningkatnya pendapatan rumah tangga, yang memberi kekuatan dalam aktivitas ekonomi yaitu tingginya daya beli masyarakat.

"Banyak tenaga kerja yang terserap dalam lapangan pekerjaan non formal tambang timah inkonvensional, sehingga memberikan masukan pendapatan dan bahkan terjadi peningkatan pendapatan," katanya.

Kondisi ekonomi Bangka Belitung juga di ikuti dengan tren inflasi yang mengalami kecenderungan meningkat namun masih dalam batas rentang yang terjaga, yaitu 3+1.

Penyumbang inflasi di Bangka Belitung yaitu ayam ras dan ikan selar dikarenakan memang masyarakat Bangka Belitung memiliki kebiasaan mengkonsumsi ikan yang tinggi.

"Saat ini banyak nelayan yang mulai mengalihkan profesi menjadi penambang, sehingga jumlah tangkapan menjadi semakin berkurang. Penyebab lainnya jika terjadi penambangan dilaut maka nelayan yang menagkap ikan harus melaut lebih jauh lagi agar mendapat tangkapan ikannya, dikarenakan ikan tidak dapat diperoleh pada daerah yang berdekatan dengan kegiatan penambangan laut," lanjutnya.

Sumber: bangkapos.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved