Rabu, 13 Mei 2026

Berita Pangkalpinang

Sejarah Minum Kopi Dari Pekerja Tambang Timah, Pan Chok dalam Dialek Hakka

Kebiasaan minum kopi di Bangka Belitung dulunya kerap kali dilakukan oleh para pekerja tambang (parit) Timah orang Tionghoa di Pulau Bangka.

Tayang:
Penulis: Andini Dwi Hasanah |
Bangkapos.com/Andini Dwi Hasanah
Ilustrasi tempat ngopi di Pangkalpinang. 

BANGKAPOS.COM, BANGKA - Ngopi, duduk ria bersama teman seperti yang kita lihat sekarang ini sudah bukan lagi sekedar minum kopi tapi sudah menjadi suatu rutinitas bagi anak-anak milenials.

Rupanya kebiasaan minum kopi di Bangka Belitung dulunya kerap kali dilakukan oleh para pekerja tambang (parit) Timah orang Tionghoa di Pulau Bangka.

Dikenal istilah Kopi Pan chok yaitu minum Kopi yang dilakukan saat istirahat setelah bekerja setengah hari di lokasi tambang (parit Timah) atau telah bekerja setengah kung atau kong.

Karena waktu minum kopi yang terbatas oleh lamanya waktu istirahat sebab pekerja harus kembali mengerjakan satu hari atau satu kung atau kong, maka kopi biasanya dibagi secangkir untuk diminum berdua.

Istilah kopi Pan Chok, lama kelamaan sering disebut kopi pancung dan bahkan di Kalimantan Barat dikenal istilah kopi pangku yang sekarang berkonotasi negatif, mungkin juga berasal dari istilah kopi.

Demikian hal tersebut disebutkan oleh Sejarawan dan Budayawan Bangka Belitung, Akhmad Elvian.

Kata Elvian, masyarakat Bangka dengan budayanya yang berbasis darat (land base culture) dan berbasis bahari (sea base culture) "sangat terbuka" terhadap pengaruh luar bahkan, asal tidak mengganggu dan merusak tatanan budayanya.

"Simbol keramahan tersebut tampak pada komponen komponen rumah vernakuler orang Bangka dan lingkungan serta budayanya dengan nama dan makna yang luar biasa mulai dari rimbak, rebak, bebak, kubak, kelekak, tumbak, marung, panggung, bubung, gelegar, tibek, pasak, palas, pepare, pintu penebus malu dan lain sebagainya," kata Akhmad Elvian kepada Bangkapos.com, Selasa (22/2/2022).

Elvian mengatakan, Pintu Penebus malu merupakan pintu yang dibuat orang Bangka pada samping rumah bagian belakang.

Fungsi pintu ini digunakan apabila ada tamu berkunjung ke rumah dan kopi dan gula di rumah habis, dan untuk menyiapkan hidangan kopi untuk luhur.

Kata Elvian, berdasarkan laporan residen Belanda Algemeen Verslag der Resident Banka 1851 telah dilakukan penelitian terhadap tanaman Kopi di pulau Bangka dan hasil penelitian menyatakan, bahwa Kopi tumbuh subur di pulau Bangka dan produktif menghasilkan berbuah, akan tetapi kualitas Kopi yang dihasilkan masih kalah dengan kualitas kopi dari daerah lainnya dan pemerintah Hindia Belanda menyarankan silakan Kopi ditanam di pulau Bangka khusus untuk dikonsumsi lokal saja.

"Istilah kopi Pan Chok, lama kelamaan sering disebut kopi pancung, kalau yang di warkop masih sering ada kopi pancung atau kopi setengah ini kalau di kopi milenial ga ada. Biasanya kita itu sering menyebutkan namun tidak tau artinya," jelasnya.

(Bangkapos.com/Andini Dwi Hasanah)

Sumber: bangkapos
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved