Rabu, 29 April 2026

Berita Pangkalpinang

Mantan Teroris Nasir Abbas Ingatkan Intoleran Berpotensi Jadi Pelaku Radikalisme dan Teroris

Mantan Koordinator Jamaah Islamiah Wilayah Asia Tenggara, Nasir Abbas mengakui dirinya bergabung menjadi teroris

Editor: nurhayati
Bangkapos.com/Jhoni Kurniawan
Nasir Abbas (tengah) saat pelaksanaan FGD Upaya Mereduksi Sikap Intoleran dan Paham Radikalisme Guna Mencegah Tindakan Kekerasan dan Terorisme di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung pada Kamis (17/3/2022) 

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Mantan Koordinator Jamaah Islamiah Wilayah Asia Tenggara, Nasir Abbas mengakui dirinya bergabung menjadi teroris lantaran minimnya informasi mengenai pemahaman radikalisme dari seluruh pihak apalagi pemerintah.

Nasir juga menyebutkan jika tidak ada satu orangpun yang tidak berpotensi menjadi teroris dan pelaku radikalisme. Setiap orang juga berpotensi direkrut oleh pelaku terorisme.

"Saya tahu bagaimana merekrut teroris, karena saya merupakan perekrut dulunya dan sudah berjibaku di Afganistan dan wilayah lainnya," ungkap Nasir Abbas dalam Forum Group Discussion (FGD) yang mengangkat tema "Upaya Mereduksi Sikap Intoleran dan Paham Radikalisme Guna Mencegah Tindakan Kekerasan dan Terorisme di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung" pada Kamis (17/3/2022).

Baca juga: Nelayan Lepar Pongok Temukan Mayat Bayi Mengapung di Laut, Dibalut Kain dan Dimasukkan Plastik Merah

Baca juga: Operasi KRYD di Pangkalpinang, Masih Ditemukan Pengendara Motor dan Mobil Tidak Memakai Masker

Nasir Abbas secara gamblang menyatakan dirinya dan kebanyakan orang terpapar radikalisme disebabkan karena tidak adanya akses informasi atau pengetahuan mengenai radikalisme dari pemerintah.

Tidak hanya itu, gagal paham atau pemahaman yang salah atas suatu pengetahuan sehingga menjadikan seseorang sebagai pelaku intoleransi hingga akhirnya berujung menjadi pelaku radikalisme dan melakukan terorisme.

Radikalisme maupun terorisme lanjut mantan Ketua Jamaah Islamiyah Mantiqi ke-III Wilayah Asia Tenggara ini tidak hanya berlaku di satu agama saja, namun juga ada di setiap suku dan bangsa serta berlaku di seluruh dunia.

"Pertanyaannya adalah mengapa seseorang bisa terpapar paham radikalisme? Itu karena mereka tidak mau saling menghargai dan menjadi intoleran. Jika sudah menjadi intoleran maka sangat berpotensi sekali menjadi pelaku radikalisme hingga teroris," ungkap Nasir.

Baca juga: Tiga Kebijakan Terbaru Jokowi soal Minyak Goreng, Mulai Pencabutan HET Hingga Perintah Pantau Stok

Selain sikap intoleransi dan tidak menghargai, Nasir menambahkan jika caci maki, hina-menghina dan ujaran kebencian merupakan indikasi adanya sikap radikalisme.

"Saya ingatkan kepada adik-adik yang mengikuti FGD ini untuk jangan sekali-kali berurusan dengan radikalisme ini. Kalian dan kita semua harus pandai memilih apa yang perlu kita konsumsi dan harus kritis pula dengan bertanya kepada pihak-pihak yang paham sehingga apa yang kita ketahui ini benar-benar valid dan tak mengarah ke arah yang salah," pesan Nasir.

(Bangkapos.com/Jhoni Kurniawan)

Sumber: bangkapos.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved