Selasa, 5 Mei 2026

AS Marah Besar Gegara Rusia dan China Memperkuat Hubungan

Beijing tidak mendukung sanksi Barat, Gedung Putih menekan raksasa ekonomi itu setidaknya untuk menahan diri dari menyelamatkan Rusia dari potensi...

Tayang:
telegraph.co.uk
Amerika Serikat 

BANGKAPOS.COM, BEIJING -- Amerika Serikat marah besar mengetahui Rusia dab China terus memperkuat hubungan.

Dilaporkan, Pemerintah Rusia dan China terus memperkuat hubungan di tengah-tengah konflik Moskow dengan Amerika Serikat (AS) dan Barat.

"Situasi saat ini, hanya akan memperkuat hubungan Rusia dan China," kata Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov pada Sabtu (19/3/2022).

“Kerjasama ini akan semakin kuat, karena Barat secara terang-terangan meruntuhkan semua fondasi yang menjadi dasar sistem internasional," ujarnya.

"Tentu saja kami, sebagai dua kekuatan besar, perlu berpikir bagaimana melanjutkan dunia ini,” ujar Lavrov seperti dikutip Interfax.

Baca juga: Inilah Makam Istri Nabi Adam, Siti Hawa yang Panjangnya Capai 80 Meter di Jeddah, Arab Saudi

Baca juga: Armand Hartono, Si Anak Bos BCA dan Djarum, Bandingin Gayanya Sama Indra Kenz & Doni Salmanan

Baca juga: Pakai Dress Bolong-bolong, Tante Ernie Bikin Fansnya Kelimpungan, Speechless Bro!

Baca juga: Kebohongan Indra Kenz Terungkap saat Dipenjara, Mobil Mewah Sekelas Lamborghini ternyata Cuma Tipuan

Sedangkan Amerika Serikat (AS) sangat marah melihat sikap China yang terus menuduh Rusia, bahkan terus memperlihatkan sikap bermusuhan

AS menyatakan keprihatinannya tentang hubungan Rusia dan China, setelah pejabat tinggi AS dan China bertemu selama tujuh jam mengenai perang Ukraina dan masalah keamanan lainnya.

"Kami memiliki keprihatinan mendalam tentang hubungan China dengan Rusia," kata seorang pejabat senior AS kepada wartawan.

"Itu adalah percakapan yang sangat jujur," tambahnya.

Penasihat Keamanan Nasional AS Jake Sullivan dan Yang Jiechi, Kepala Diplomat Partai Komunis China, bertemu di sebuah hotel Roma yang digambarkan Gedung Putih sebagai sesi "substansial".

Gedung Putih mengatakan kedua pejabat itu juga menggarisbawahi pentingnya menjaga jalur komunikasi terbuka antara Amerika Serikat dan China.”

Moskow dan Beijing semakin dekat dalam apa yang dilihat Washington sebagai aliansi kekuatan nuklir otoriter yang semakin bermusuhan.

Pertemuan Sullivan dengan diplomat tinggi China direncanakan beberapa minggu lalu, kata para pejabat AS.

Baca juga: Dibaca Sebelum Beraktivitas, Ini Doa Pagi Hari Agar dapat Keberkahan dan Amalan Pembuka Pintu Rezeki

Baca juga: Ketika Amanda Manopo Lantunkan Sholawat, Suaranya Merdu dan Totalitas Perankan Andin Tuai Pujian

Baca juga: Harga Terbaru Minyak Goreng di Alfamart dan Indomaret, Ini Daftarnya

Baca juga: Nia Ramadhani Gugat Cerai Ardi Bakrie? Pengadilan Agama Jelaskan Ini, Pengakuan sang Artis Disorot

Tetapi pertemuan itu menjadi penting dengan latar belakang serangan gencar Presiden Vladimir Putin terhadap kota-kota Ukraina.

Para pejabat itu juga bertemu setelah media AS melaporkan Rusia telah meminta bantuan militer dan ekonomi kepada China.

Pasukan Rusia sedang berjuang untuk mencapai wilayah Ukraina dan ekonominya menghadapi kehancuran akibat sanksi Barat.

The New York Times, mengutip pejabat AS yang tidak disebutkan namanya, mengatakan tidak ada indikasi China memberi tanggapan atas Rusia.

Dikatakan, China telah mengirimkan sinyal yang beragam tentang invasi berdarah Rusia.

Pejabat AS itu mengatakan masih belum mengetahui bagaimana Beijing akan bertindak.

Washington berharap Beijing dapat menggunakan pengaruhnya terhadap Putin..

Sementara Beijing tidak mendukung sanksi Barat, Gedung Putih menekan raksasa ekonomi itu setidaknya untuk menahan diri dari menyelamatkan Rusia dari potensi gagal bayar atau mengirim persenjataan.

Baca juga: Luna Maya Melongo Tahu Umur Tante Lala, Terucap Kata Luar Biasa saat Tahu Jumlah Pengikut TikTok-nya

Baca juga: Inilah Amalan yang Dibaca untuk Mengusir Setan dan Jin, Berikut Penjelasannya dari UAH

Baca juga: Pembalap MotoGP Nekat Bonceng 3 di Lombok, Malah Syok Lihat Kerbau Nyebrang Jalan: Mau ke Sirkuit?

Baca juga: Pohon Zaqqum, Makanan untuk Penghuni Neraka, Begini Penampakannya di Tengah Gurun Pasir, Arab Saudi

"Kami telah berkomunikasi dengan sangat jelas ke Beijing, kami tidak akan berdiam diri," kata juru bicara Departemen Luar Negeri Ned Price.

“Kami tidak akan mengizinkan negara mana pun untuk memberikan kompensasi kepada Rusia atas kerugiannya," tambahnya.

"Kami mengamati dengan cermat sejauh mana China atau negara lain dalam hal memberikan dukungan bentuk apapun, apakah itu materi atau ekonomi ke Rusia," katanya.

Price juga menekankan pengaruh luar biasa China atas Rusia.

Dia mengatakan dapat melakukan lebih dari yang mungkin dilakukan banyak negara lain untuk mengakhiri kekerasan yang tidak masuk akal ini, kebrutalan ini, pada perang yang direncanakan Putin," ujarnya.

Beijing menolak untuk secara langsung menanggapi laporan tersebut, sebaliknya menuduh Washington menyebarkan disinformasi" dengan jahat atas peran China dalam perang Ukraina.

Juru bicara kementerian luar negeri China Zhao Lijian mengatakan kepada wartawan, China telah memainkan peran konstruktif dalam mendesak perdamaian dan menyerukan negosiasi.

(*/ BangkaPos.com)

Artikel ini telah tayang di SerambiNews.com

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved