Rabu, 8 April 2026

Tribunners

Merancang Strategi Menyongsong PISA

Sekolah sebagai sampling PISA harus mempunyai strategi yang tepat, untuk mendukung peningkatan nilai PISA di mata dunia

Editor: suhendri
ISTIMEWA
Sri Mulyani, S.E., M.Pd. - Kepala SMAN 1 Kelapa Kampit 

PISA (Programme for International Student Assessment) adalah penilaian siswa skala besar (internasional). PISA disponsori OECD (Organisation for Economic Co-operation and Development ).

Indonesia adalah negara yang ikut tergabung dalam OECD, yang merupakan lembaga internasional yang bertujuan untuk mengevaluasi sistem pendidikan, di mana pelaksanaannya setiap 3 tahun sekali dengan sasaran peserta didik usia 15 Tahun. Peserta didik yang diikutkan yang menjadi sampling-nya dipilih secara acak oleh OECD.

Di tahun 2022, Indonesia kembali akan melaksanakan penilaian PISA yang dijadwalkan akan dilaksanakan pada rentang waktu 9 Mei-Juni 2022 (Sumber Puspendik ). Sampling siswa yang dipilih secara acak terpilih sebanyak 42 siswa di setiap sekolah.

Sekolah menengah atas yang terpilih menjadi sampling PISA di tahun 2022 ada sebanyak 95 sekolah tersebar di berbagai provinsi di Indonesia. Provinsi Bangka Belitung termasuk salah satu dalam sampling PISA tersebut.

Pelaksanaan PISA di tahun 2022, peserta didik hanya mengerjakan sesi tes yang terdiri dari 2 domain (kombinasi dari math, reading, science, dan creative thinking) dan sesi angket siswa. Sedangkan kepala sekolah mengerjakan angket sekolah online (langsung ke website PISA internasional).

Sekolah sebagai sampling PISA harus mempunyai strategi yang tepat, untuk mendukung peningkatan nilai PISA di mata dunia terutama negara-negara yang tergabung dalam OECD. Dari hasil ini bisa menjadi pijakan bagi pemerintah untuk membuat desain baru bagi perbaikan kualitas ataupun sistem pendidikan di Indonesia.

Sekolah sebagai bagian dari unsur peningkatan kualitas pendidikan harus melakukan inovasi dan strategi bagi peningkatan nilai PISA, dalam upaya menaikkan ranking negara Indonesia dari posisi tahun 2018. Ada beberapa strategi yang bisa diambil sekolah untuk mendukung nilai PISA:

* Sosialisasi kepada semua stakeholder sekolah
Pelaksanaan PISA bukan hanya menjadi tanggung jawab guru dan siswa, namun untuk terwujudnya pencapaian nilai yang baik, harus melibatkan berbagai elemen terkait, mulai dari orang tua siswa yang memberi dukungan kepada anaknya di rumah dengan cara dukungan morel maupun materi. Seperti motivasi kepada anaknya untuk semangat mendukung program sekolah, ataupun mendukung dengan menyiapkan bekal atau sekadar uang saku kepada anaknya. Kepala sekolah, guru , tenaga kependidikan di sekolah menyiapkan kompetensi dirinya sesuai dengan tupoksi masing masing.

* Pembiasaan membaca dan menulis
Melaksanakan pembiasaan literasi selama 15 menit bagi seluruh pegawai dan peserta didik, hal ini untuk membangun budaya literasi di sekolah. Diawali dengan cara dibuat terpaksa membaca untuk menjadi biasa membaca. Budaya literasi di sekolah harus dilakukan oleh semua pegawai sekolah untuk membangun suri teladan yang baik kepada peserta didik. Sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Ki Hajar Dewantara, ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani.

* Melakukan simulasi PISA atau pengenalan soal PISA untuk seluruh guru dan peserta didik untuk mengetahui tipe soal dan terbiasa mengerjakan soal PISA. Latihan soal ataupun try out soal bisa membuat siswa lebih tahu dan paham model model soal dan bagaimana solusi untuk menjawabnya.

* Pembinaan kepada peserta didik dan guru baik secara luring maupun secara daring. Melakukan pembinaan kepada peserta didik dan guru dilakukan dalam upaya memberikan stimulus yang baik untuk mendukung pelaksanaan program PISA di sekolah. Di antaranya dengan memberikan spirit bahwa menjadi kebanggaan tersendiri sekolah kita menjadi sampling PISA yang terpilih mewakili Indonesia dalam mengukur pencapaian pendidikan di Indonesia.

* Pembelajaran kontekstual
Pembelajaran kontekstual (contextual teaching and learning/CTL) merupakan suatu proses pendidikan yang bertujuan memotivasi siswa untuk memahami makna materi pelajaran yang dipelajarinya dengan mengaitkan materi tersebut dengan konteks kehidupan mereka sehari-hari (konteks pribadi, sosial, dan kultural).

* Ada program Literacy Day setiap bulan dengan durasi 2x45 menit, siswa diajak untuk membaca dan merefleksikan hasil bacaan. Membuat tugas kolaborasi antarmata pelajaran yang produk akhirnya adalah video pembelajaran. Setiap pagi ada renungan yang kemudian siswa merefleksikannya.

* 1 hari 1 soal HOTS, guru membuat dan kemudian mendistribusikan soal tersebut ke siswa untuk dikerjakan. Soal-soal yang disajikan untuk penilaian PISA adalah literasi, numerasi, dan sains yang membutuhkan analisis dan penalaran dari peserta didik. Dengan demikian, guru di satuan pendidikan juga harus bisa membuat soal untuk latihan peserta didiknya dengan cara latihan-latihan soal yang berbasis HOTS.

* Guru menulis di media sehingga hasil karyanya dapat dibaca oleh siswa atau warga sekolah dan pemerhati pendidikan, membiasakan menulis, baik bagi siswa maupun guru, menumbuhkan budaya membaca baik di kalangan guru maupun siswa, mengikutkan guru maupun siswa untuk mengikuti lomba-lomba yang berkaitan dengan literasi.

Sumber: bangkapos
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved