Marhaban Ya Ramadan, Raih Takwa di Bulan Penuh Berkah
Setelah Ramadan, amaliah orang yang bertakwa bukannya berkurang apalagi hilang tanpa bekas. Akan tetapi justru makin meningkat
TIDAK terasa, sebentar lagi kita akan memasuki zona di mana segala perbuatan positif akan terhitung pahala, di dalamnya terdapat rahmat, maghfirah (ampunan), dan 'itqun minan naar (pembebasan dari api neraka). Inilah namanya bulan suci Ramadan yang sudah lama dinanti oleh umat Islam/muslim di seluruh dunia.
Dari berbagai sumber yang ada, hasil metode hisab untuk tanggal 1 Ramadan 1443 H diperkirakan jatuh pada tanggal 3 April 2022. Bahkan di momen Ramadan ini banyak komunitas, organisasi kemasyarakatan (ormas) menjadikannya sebagai ajang pembelajaran, ajang silaturahmi dan ajang kegiatan produktif.
Meskipun tidak hanya pada momen Ramadan, namun terasa berbeda jika dilaksanakan pada bulan Ramadan. Misalnya safari Ramadan (perjalanan Ramadan), sanlat (pesantren kilat), mabit (malam bina iman dan takwa, salah satu sarana untuk membersihkan jiwa, melembutkan hati dan membiasakan fisik untuk beribadah khususnya Salat Tahajud, zikir, tafakur, dan tadabur), ifthar jama'i (buka puasa bareng), galang dana, ngabuburit (menunggu saat berbuka puasa dan kegiatan produktif lainnya). Nah, keseruan bulan Ramadan ini juga terasa ketika kita melakukan pesantren kilat misalnya.
Dalam surah Al-Baqarah 183 dijelaskan tujuan puasa Ramadan adalah untuk meraih derajat takwa. Sebuah tingkatan tertinggi dan kemuliaan yang membahagiakan yang hanya dapat direbut oleh orang pilihan. Sungguh, kemuliaan seseorang tidak dipandang dari harta yang melimpah, jabatan yang menjulang, dan wajah yang rupawan, namun sangat ditentukan oleh nilai takwa di dalam dada.
Itu sebabnya agar kita selamat mengarungi samudra dunia, kita harus memiliki bekal yang sempurna. Sebaik-baiknya bekal adalah bekal takwa, begitulah Allah mengingatkan kita semua. Makanya dalam bulan Ramadan ini terbuka lebar kesempatan untuk meraih derajat takwa tersebut. Lalu bagaimana makna dari takwa dan implikasinya dalam kehidupan nyata?
Secara bahasa, takwa dapat diartikan dengan hati-hati. Ya, hati-hati dalam segala gerak kehidupan. Dirinya berhati-hati dalam berkeyakinan, berkata, bersikap, dan berbuat. Dengan sikap ini dirinya terpelihara dari perbuatan maksiat yang menghinakan dan bersemangat untuk berfastabiqul khairat. Mereka takut melakukan kemungkaran karena berakibat langsung pada dirinya baik di dunia ini maupun di akhirat sana.
Oleh sebab itu hari-harinya diisi dengan kebaikan demi kebaikan. Mereka selalu bermuhasabah dan mohon ampun kepada Allah dalam mempercantik diri. Orang yang bertakwa memiliki akidah yang lurus, ibadah yang teratur, akhlak yang mulia, dan kerja yang memesona. Mereka ibarat lebah yang hanya hinggap di tempat yang baik dan memproduksi sesuatu yang baik juga. Orang yang demikian itulah berhak memasuki surga nan indah dan memesona sebagaimana yang telah dijanjikan Allah dalam Kalam-Nya.
Untuk menggapai derajat takwa, tidaklah mudah-tidak bisa hanya mengandalkan puasa yang tak bermakna atau datang ke masjid untuk sekadar menyemarakkan malam Ramadan sebagaimana pemahaman kebanyakan orang. Namun kita dituntut untuk memiliki keyakinan yang kuat, niat yang ikhlas, ibadah yang terencana dan usaha yang maksimal. Ibadah puasa yang dilakukan adalah ibadah yang sempurna, terhindar dari cacat yang merusak pahala puasa. Sepanjang hari dirinya mampu mengelola waktu untuk membersihkan kalbu dengan tilawah Qur'an yang menyentuh. Dia berusaha menghatamkan Al-Qur'an dan berusaha memahami maknanya sebagai pedoman dalam kehidupan nyata.
Kualitas salatnya diperbaiki, salat dijadikan sebagai sarana untuk menyatakan cinta pada Yang Kuasa. Maka mereka tidak hanya mengandalkan salat fardu semata, berbagai salat sunah lainnya seperti Salat Duha, Tarawih, Witir, Tahajud, Rawatib, dan Salat Tasbih menjadi pilihan hati dalam menambah koleksi pahala. Selama Ramadan, mereka berusaha menambah kepahamannya terhadap agama ini dengan menghadiri majelis taklim, pengajian malam, diskusi, membaca buku-buku Islam dan mengikuti siaran Islami.
Luar biasa orang yang mendambakan takwa berusaha mendapatkan malam lailatul qadar dengan iktikaf sepuluh malam terakhir. Mereka menunaikan zakat fitrah dan menyantuni yang papa. Pokoknya sebulan penuh selama Ramadan dimanfaatkan dengan maksimal dalam merajut benang-benang takwa.
Setelah Ramadan, amaliah orang yang bertakwa bukannya berkurang apalagi hilang tanpa bekas. Akan tetapi justru makin meningkat sebagai makna Syawal yang dipahaminya. Orang yang bertakwa berjuang dengan susah payah untuk membuktikan ketakwaannya bakda Ramadan.
Kebiasaan ibadah selama Ramadan dilanjutkan di bulan Syawal sebagai bentuk kesuksesannya meraih derajat takwa. Puasa Syawal, tilawah Qur'an, memakmurkan masjid, dan ibadah lainnya yang dibina selama Ramadan tetap berlanjut. Demikianlah hakikat takwa yang menerangi kehidupan seseorang untuk meraih kemuliaan. Ayo kita gapai derajat takwa untuk menjadikan hidup bahagia dan indah. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20220220_heriyanto-guru-pai-smp-negeri-4-gantung.jpg)