Selasa, 14 April 2026

Berita Bangka

Kisah Gigih Mahasiswa Bertahan di Perantauan, Numpang Kos hingga Buka Pangkas Sendiri

Perantauan yang ia bayangkan sebagai jalan meraih mimpi, justru menghadirkannya pada fase penuh ketidakpastian

Bangkapos.com/Zaky Nur Hakim
Badrussalam, mahasiswa asal Desa Fajar Indah, Kecamatan Pulau Besar, Kabupaten Bangka Selatan, tengah melayani pelanggan di usaha pangkas rambut yang dikelolanya di kawasan Sungailiat, belum lama ini. Usaha tersebut menjadi sumber penghasilan untuk memenuhi kebutuhan hidup selama menempuh pendidikan di perantauan. 

BANGKAPOS.COM, BANGKA - Siang itu, suara gunting beradu pelan di sebuah pangkas rambut sederhana di kawasan Sri Pemandangan.

Di balik cermin yang memantulkan wajah pelanggan, berdiri sosok muda dengan tatapan fokus, Badrussalam (22), mahasiswa yang pernah berada di titik paling rapuh dalam hidupnya.

Tak banyak yang tahu, sebelum mampu berdiri mandiri seperti sekarang, mahasiswa semester enam Program Studi Ilmu Komunikasi Institut Pahlawan 12 Sungailiat ini sempat terpuruk.

Perantauan yang ia bayangkan sebagai jalan meraih mimpi, justru menghadirkannya pada fase penuh ketidakpastian.

Datang dari Desa Fajar Indah, Kecamatan Pulau Besar, Kabupaten Bangka Selatan, Badrussalam memulai hidup barunya pada September 2023. Namun langkah awal itu tak berjalan mulus.

Keputusan keluar dari pekerjaan karena ketidakcocokan dengan atasan membuatnya kehilangan pegangan.

Selama sekitar satu bulan, ia terjebak dalam masa menganggur. Tanpa penghasilan, tanpa kepastian dan dengan beasiswa Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP-K) yang belum cair, ia hanya bisa bertahan dengan bantuan orang tua dan kebaikan teman.

"Yang paling saya khawatirkan waktu itu, saya tidak mungkin terus-menerus meminta uang kepada orang tua, sementara uang beasiswa juga belum cair," ujarnya.

Hari-hari itu ia lalui dengan menumpang di kos milik temannya. Dalam ruang sempit yang bukan miliknya sendiri, ia menyusun ulang harapan yang sempat goyah.

Nama Saipul Anggara dan Ramadyan menjadi bagian penting dalam cerita hidupnya, dua sosok yang memberinya tempat ketika ia nyaris kehilangan arah.

Ironisnya, kedua temannya itu kini justru harus berhenti kuliah karena keterbatasan biaya. Namun bagi Badrussalam, kebaikan mereka tak pernah pudar dari ingatan.

Kesempatan akhirnya datang seperti secercah cahaya di ujung lorong gelap. November 2023 menjadi titik balik. Ia mendapat tawaran bekerja di sebuah pangkas rambut di kawasan Nelayan.

Berbekal keterampilan yang ia pelajari sejak mondok di pesantren saat SMA, Badrussalam mulai menata kembali hidupnya, helai demi helai, seperti rambut yang ia rapikan setiap hari.

Kerja kerasnya tak sia-sia. Dalam waktu sekitar enam bulan, ia dipercaya mengelola salah satu cabang usaha tersebut. Kepercayaan itu menjadi pijakan baru untuk melompat lebih jauh.

Tahun 2024 menjadi babak penting. Dengan dukungan modal sebesar Rp6,5 juta dari sang kakak, ia memberanikan diri membuka usaha pangkas rambut sendiri.

Sumber: bangkapos
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved