Breaking News:

Horizzon

SE No.16/2022 Tak Sensitif

SE No.16/2022 mengatur tentang pelaku perjalanan dalam negeri (PPDN) yang di dalam SE tersebut kembali dipersulit (baca: diperketat)

Editor: suhendri
SE No.16/2022 Tak Sensitif
Bangka Pos
IBNU TAUFIK Jr/Pemred BANGKA POS GROUP

SATU hari menjelang masuknya bulan Ramadan atau tepatnya 2 April 2022, Satgas Covid-19 mengeluarkan Surat Edaran No.16/2022. Melihat waktu dan juga konten yang ada di dalam SE tersebut, tidaklah berlebihan apabila publik menyebut bahwa pemerintah dalam hal ini Satgas Covid-19 benar-benar tidak sensitif.

Tidak bermaksud untuk membenarkan apalagi menguatkan praduga liar yang muncul dari publik tentang sikap pemerintah yang dinilai kurang kooperatif. Namun, munculnya SE No.16/2022 yang nyaris bersamaan dengan datangnya bulan Ramadan ini seolah-olah membenarkan praduga liar yang ada selama ini.

SE No.16/2022 mengatur tentang pelaku perjalanan dalam negeri (PPDN) yang di dalam SE tersebut kembali dipersulit (baca: diperketat). Di mana poin penting dari SE terbaru dari Satgas Covid-19 ini adalah mewajibkan PPDN menjalani vaksinasi booster.

Surat edaran tersebut mengatur dengan jelas di bagian protokol, huruf F, angka 3 huruf c mengamanatkan, PPDN dengan moda transportasi udara, laut, darat yang menggunakan kendaraan pribadi atau umum termasuk kapal penyeberangan dan kereta api di seluruh Indonesia wajib mematuhi lima ketentuan.

Kelima ketentuan tersebut adalah: 1) PPDN yang telah mendapatkan vaksinasi dosis ketiga (booster) tidak wajib menunjukkan hasil negatif tes RT-PCR atau rapid test antigen. 2) PPDN yang telah mendapatkan vaksinasi dosis kedua wajib menunjukkan hasil negatif rapid antigen yang sampelnya diambil dalam kurun waktu 1x24 jam atau hasil negatif tes RT-PCR yang sampelnya diambil dalam kurun waktu 3x24 jam sebelum keberangkatan sebagai syarat perjalanan.

Tiga poin lainnya isinya sama dengan SE satgas sebelumnya, termasuk dengan SE Satgas Nomor 11/2022 yang turun sebelum pelaksanaan MotoGP Mandalika sebulan lalu.

Dari dua poin yang ada di dalam SE Satgas No.16/2022 ini intinya satgas mewajibkan pelaku perjalanan untuk mendapatkan booster atau vaksinasi tahap tiga. Bagi PPDN yang belum menjalani vaksinasi booster, maka wajib hukumnya untuk melampirkan hasil negatif tes antigen atau RT-PCR sebelum keberangkatan.

Dilihat dari isinya, SE Satgas Covid-19 No.16/2022 ini adalah upaya pengetatan dari satgas untuk pelaku perjalanan sebagaimana yang diatur sebelumnya di SE Satgas Covid-19 No.11/2022 sebelumnya.

Di SE No.11/2022, satgas hanya mewajibkan pelaku perjalanan menerima vaksin dosis kedua untuk bisa melakukan perjalanan tanpa harus melampirkan dokumen negatif tes antigen maupun RT-PCR.

Lantaran SE No.16/2022 ini muncul bersamaan dengan datangnya bulan Ramadan, tak salah jika publik kembali mengekspresikan kekecewaannya dan menuding pemerintah dalam hal ini Satgas Covid-19 tidak sensitif terhadap budaya mudik yang menyertai hari raya Idulfitri di akhir Ramadan.

Memori publik akan kembali ke Lebaran dua tahun sebelumnya, di mana pemerintah meng- grounded seluruh maskapai penerbangan sipil di momen Lebaran berikut wacana mudik dan pulang kampung yang jadi polemik.

Sementara di Lebaran satu tahun lalu, pemerintah juga membatalkan cuti bersama Lebaran dan digantikan dengan cuti akhir tahun. Memori tersebut masih lekat dengan munculnya kembali pengetatan tentang perjalanan dalam negeri menjelang Ramadan tahun ini.

Publik juga akan bertanya apakah pelonggaran yang dilakukan di SE No.11/2022 dilakukan untuk menyukseskan pergelaran MotoGP di Mandalika?

Kita tahu, SE No.11/2022 intinya membebaskan pelaku perjalanan tidak melakukan tes antigen atau PCR. Poin tersebut adalah hal yang sangat elementer di proses penanganan Covid-19.

Tidak adanya kewajiban tes antigen bagi calon penumpang kereta api, kapal laut, atau pesawat yang diatur di SE No.11/2022 bisa dimaknai kita telah membiarkan orang yang tengah positif Covid-19 berinteraksi dengan orang lain di dalam pesawat, kapal laut, atau kereta api.

Bahkan pembiaran tersebut terbukti efektif menurunkan angka Covid-19. Ini karena tidak adanya skrining PPDN dan kemudian juga berkurangnya tracing. Fase ini telah mampu menciptakan 'kekebalan alamiah' bagi kita, di mana kita mulai terbiasa berhadapan dengan orang yang tengah demam, batuk, dan gejala flu lainnya ada di sekitar kita.

Saat kita sudah mulai terbiasa dengan situasi tersebut, yang konon disebut dengan era perpindahan dari masa pandemi ke endemi, tiba-tiba muncul SE No.16/2022 yang justru melakukan pengetatan lagi terhadap pelaku perjalanan. Lebih tidak bisa diterima lagi adalah, SE tersebut muncul bertepatan dengan datangnya bulan Ramadan sehingga kita patut mengatakan bahwa SE No.16/2022 adalah bentuk di mana pemerintah justru tidak sensitif. (*)

Sumber: bangkapos
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved