Fenomena Shalat Tarawih Super Cepat, Gus Baha Ungkap Dirinya Tidak Cocok Tapi Jangan Dikritik
Namun, ada satu yang menjadi sorotan soal tarawih adalah gerakan dan bacaan shalat super cepat.
BANGKAPOS.COM -- Puasa Ramadhan tak lepas dari shalat tarawih.
Setelah shalat Isya, masjid-masjid menggelar shalat sunnah tarawih dan dilanjutkan witir.
Suasana tarawih di desa dan perkampungan, biasanya kental suasana yang unik dan membuat rindu ingin pulang.
Namun, ada satu yang menjadi sorotan soal tarawih adalah gerakan dan bacaan shalat super cepat.
Bahkan ada yang menyelesaikan tarawih cuma 7 menit.
Sebagaimana diketahui bahwa dalam shalat tarawih terdapat 20 rakaat dan dilanjutkan dengan witir 3 rakaat.
Meski tak sedikit pula yang melakukan tarawih 11 rakaat.
Di video kanal YouTube Ngaji Online diunggah pada 7 Februari 2020 lalu, Gus Baha memberikan pendapatnya.
Baca juga: Pilih Mana Kerja Saat Malam Hari atau Tarawih di Bulan Puasa Ramadhan, Ini Kata Gus Baha
Gus Baha justru berkata mending ia menjadi makmum dalam shalat tarawih secepat 7 menit.
Sebab dia mengkhawatirkan nanti Allah akan bertanya kenapa sujudnya cepat sekali.
"Saya kalau tarawih itu milih jadi makmum.
Masalahnya, nanti kalau ada salahnya dan ditanya Allah:
Ha, sujud kok cepet begitu?" kata Gus Baha.
"Kan imamnya cepat, Tuhan.
Katanya makmum harus ikut imam?" tutur Gus Baha.
Baca juga: Gus Baha Ungkap Solusi Suami Istri yang Cekcok Terus, Pakai Cara Ini Dijamin Keluarga Jadi Harmonis
Sebab, yang akan dimintai pertanggungjawaban adalah imam shalat, karena dia yang diikuti oleh makmum.
"Giliran si imam ditanyai Allah, "Imam, kenapa kok shalatmu cepet?
"Permintaan pasar jawab imam tersebut," kata Gus Baha sambil tertawa.
Jadi imam melakukan hal tersebut karena tahu selera pasar alias yang diinginkan oleh makmum minta seperti itu.
Kata Gus Baha, karena kalau shalat tarawih lama, nanti mushola sunyi.
"Anak muda kalau tarawih tanya, yang cepat mana? Bukan, yang baik mana?" ujar Gus Baha.
Gus Baha pernah shalat di Lasem, di daerah kabupaten Rembang, lalu ia melihat ada imam yang sudah tua renta berjalan ke mihrab masjid.
Kemudian di belakangnya, seseorang bicara, "Waduh, kok Mbah itu, lama ini. Jangan Gus pindah, pindah.
Dalam pendapat Gus Baha, dirinya lebih ingin menjadi makmum saja ketimbang
imam terkait takut dengan tanggung jawab sebagai imam.
Ia pun memberikan logika berpikir nabi, bahwa dunia ini cuma mampir minum semata.
Semua bakal meninggal, karena usia rata-rata adalah 60 sampai 70 tahun.
"Ketika kita meninggal, yang kita kenang hanyalah sujud melaksanakan perintah Allah.
Bukan disuruh jadi kaya raya, berjabatan tinggi, namun disuruh sujud," sebut Gus Baha.
Meskipun tidak apa-apa punya uang dan jabatan, tapi perintah Allah cukup bersujud saja.
"Soal urusan kaya atau miskin itu urusan biasalah," sebutnya.
"Tapi identitas sejati kita ketika hidup adalah untuk bersujud," sambungnya.
Apalabila sudah sujud maka punya nikmat untuk membeli surga.
"Kamu malah mengeluh karena tidak punya motor, berarti sujudmu belum bisa," ungkapnya.
Gus Baha pun membeberkan tarawih di Blitar yang hanya 7 menit.
Model kilat, itu tidak cocok dengan Gus Baha.
"Tapi jangan kamu kritik, siapa tahu sekarang sudah tidak lagi," bebernya.
Gus Baha menanyakan bila dihitung 1 menit itu berapa rakaat kalau hanya 7 menit dalam 20 rakaat shalat tarawih.
(Bangkapos.com/Widodo)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20220312_gus-baha-bahas-rajin-sholat-di-masjid-tetapi-tetap-masuk-neraka-apa-penyebabnya.jpg)