Mengurangi Kecanduan Gadget dengan Konseling SFBC

Kebutuhan teknologi merupakan sebuah kebutuhan penting dan mendesak saat ini. Hal itu terjadi, karena teknologi sangat dibutuhkan untuk banyk hal.

Penulis: iklan bangkapos | Editor: Novita
ist
Mahasiswi PPG BK PRAJABATAN UAD Annisa Dwi Rahmadesti, S.Pd 

BANGKA - Pendidikan adalah usaha sadar dan direncanakan untuk menciptakan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mampu mengembangkan potensi dirinya, untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara.

Mendapatkan pendidikan pun hak setiap orang. Di zaman sekarang, banyaknya kemajuan dalam segala bidang semakin memudahkan proses pendidikan tersampaikan. Kemajuan perkembangan teknologi tentu sebaiknya dimanfaatkan dengan baik agar perkembangan sistem pendidikan  di Indonesia pun dapat lebih maksimal.

Satu di antaranya perkembangan teknologi dan informasi. Perkembangan media teknologi informasi dan komunikasi pada era sekarang ini, menunjukkan betapa banyak media komunikasi yang beredar dalam masyarakat.

Banyaknya kemajuan teknologi di zaman global ini, tentu akan menjadi dampak negatif dan positif bagaimana cara pemanfaatannya dan intensitas penggunaan. Kegiatan yang dilakukan oleh manusia sehari-hari tidak terlepas dari pengaruh teknologi yang ada di sekitarnya. Hal ini membuktikan bahwa daya pikir manusia serta pola perilaku manusia semakin maju dan berkembang dengan pesat.

Sejalan dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) di masa kini, terdapat  sebuah perangkat teknologi yang paling dibutuhkan dan sangat sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Yakni sebuah alat utama dalam berkomunikasi serta dapat mengakses  informasi-informasi penting di dalamnya yang melebihi kecanggihan pada masa sebelumnya, yaitu teknologi smartphone.

Dunia pendidikan memerlukan teknologi dalam menerapkan ilmu pengetahuannya pada siswa di sekolah, dengan tujuan agar perkembangan proses pembelajarannya akan lebih baik. Yaitu dengan menggunakan media teknologi smartphone.

Kebutuhan teknologi merupakan sebuah kebutuhan penting dan mendesak saat ini. Hal itu terjadi, karena teknologi sangat dibutuhkan untuk keperluan banyak hal.

Selain itu, hasil teknologi itu sangat mudah didapatkan, karena harganya ada yang murah dan ada juga yang mahal, dan diburu sesuai kantong ekonomi penggunanya (Pebriana, 2017).

Gadget sangat berdampak pada pola kehidupan manusia baik dari segi pola pikir, pola rasa maupun pola perilaku. Penggunaan gadget dalam kehidupan sehari-hari tidak hanya berdampak pada pikiran, rasa dan perilaku orang dewasa, tetapi anak-anak pun tidak luput dari dampaknya. Memang dengan bantuan teknologi seperti gadget, dapat mempercepat kegiatan manusia, sehingga tidak memakan waktu yang lama.

Gadget juga dapat berdampak positif bagi penggunanya. Yaitu berkembangnya imajinasi, melatih kecerdasan, meningkatkan rasa percaya diri, dan mengembangkan kemampuan memecahkan masalah.

Sebaliknya, gadget juga bisa berdampak negatif sangat kuat sekali, antara lain dapat memutuskan hubungan atau interaksi sosial, dapat berakibat pada menurunnya prestasi belajar, bahkan dapat merusak kesehatan fisik (misalnya mata) dan mental penggunanya (Rozalia, 2017).

Anak-anak menggunakan gadget untuk berbagai keperluan seperti bermain game, menonton video, mendengarkan lagu, mengobrol dengan teman-teman mereka, menjelajahi berbagai situs web.

Mereka menghabiskan sebagian besar waktu mereka dalam kegiatan ini dan tidak memperhatikan postur tubuh mereka, kecerahan layar, dan jarak layar dari mata mereka yang pada akhirnya berdampak pada penglihatan dan kesehatan mereka.

Usia anak merupakan masa emas, masa ketika anak mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang pesat. Pada usia ini, anak paling peka dan potensial untuk mempelajari sesuatu, rasa ingin tahu anak sangat besar. Hal ini dapat kita lihat dari anak sering bertanya tentang apa yang mereka lihat.

Kecanggihan gadget tidak dapat menjadi satu-satunya jaminan untuk membangun dan memelihara kesehatan mental anak. Sebab gadget dapat berpengaruh positif atau negatif terhadap penggunanya (Pebriana, 2017).

Di zaman sekarang tentu banyak membantu segala pekerjaan apalagi dalam hal pendidikan. Penggunaan gadget juga tentu akan sangat membantu keperluan. Di usia anak-anak sekarang yang seharusnya tanggung jawab mereka belajar namun sering tidak terlaksana sebagaimana mestinya. Karena mereka akan lebih memilih bermain gadget dengan intensitas penggunaan yang tinggi.

Hal ini  yang dapat memberikan dampak buruk baik secara pribadi maupun sosial, karena mereka tidak menjalankan tanggung jawab yang semestinya dilakukan anak-anak seusia mereka.

Dalam hal inilah, peran guru BK sangat di perlukan untuk membantu permasalahan siswa menghadapi kecanduan penggunaan gadget. Dalam dunia pendidikan, layanan bimbingan dan konseling sangat diperlukan mengingat banyaknya permasalahan yang dihadapi anak-anak usia sekolah.

Setiap permasalahan pun penggunaan teknik untuk mengatasi nya berbeda. Pada masalah kecanduan gadget dapat menggunakan konseling kelompok pendekatan Solution Focus Brief Counseling (SFBC), dengan teknik scalling question, miracle question dan exception question.

Konseling kelompok itu sendiri bertujuan untuk pengembangan diri, pembahasan dan pemecahan masalah pribadi yang dialami oleh masing-masing anggota kelompok, agar terhindar dari masalah, dan masalah terselesaikan dengan cepat melalui bantuan anggota kelompok yang lain (Wibowo, 2005).

Layanan konseling kelompok merupakan proses pemberian bantuan pada sekelompok orang. Layanan yang diberikan dalam suasana kelompok. Selain itu, juga bisa dijadikan media penyampaian informasi, sekaligus  bisa membantu siswa menyusun rencana dalam membuat keputusan yang tepat sehingga diharapkan akan berdampak positif bagi siswa yang nantinya akan membentuk kepribadian yang lebih positif.

Dalam pelaksanaan konseling kelompok, guru BK harus menerapkan beberapa asas. Di antaranya, Asas Kerahasiaan, Asas Kesukarelaan, Asas Keterbukaan, Asas Kekinian dan yang lainnya.

Dalam kegiatannya pelaksanaan konseling SFBC, diawali dengan menyusun rancangan perencanaan, rancangan tindakan, rancangan pengamatan dan refleksi hasil. Konseling kelompok dengan pendekatan SFBC ini menerapkan 3 pertanyaan pada saat pelaksanaannya. Scalling Question yang merupakan pertanyaan berskala rentang 1-10 untuk mengetahui sejauh mana tingkat ketergantungan siswa pada gadget.

Miracle Question pertanyaan keajaiban di mana konseli diminta untuk membayangkan jika permasalahannya selesai dalam waktu satu malam langkah apa yang akan diambil. Exception Question pertanyaan pengecualian siswa menjawab saat-saat yang bagaimana  dia merasa tidak ada ketergantungan dengan gadget.

Setelah kegiatan konseling, peserta didik ditanyakan kembali menggunakan scalling question untuk mengetahui apakah ada penurunan rentang angka.

Dari jawaban ketiga pertanyaan itu sebenarnya siswa sudah dapat menemukan solusi. Namun perlu dijelaskan dan dikuatkan kembali agar lebih yakin. Karena sejatinya pelaksanaan kegiatan konseling,  yang akan dicapai ialah kemandirian siswa dan solusi yang ada juga akan dijalankan oleh siswa itu sendiri, serta sesuai dengan tujuan-tujuan yang akan dicapai.

Di zaman sekarang dengan segala kemajuan yang ada serta adanya dampak yang akan dirasakan tentu peran guru BK sangat penting untuk membantu tugas-tugas perkembangan peserta didik agar lebih optimal dan mandiri. (*)

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved