Tribunners

Paskah: Sulitkah Mengubah Mindset?

Paskah (Easter) adalah salah satu perayaan religi Kristen yang penting, yang merupakan puncak iman orang Kristen

Editor: suhendri
ISTIMEWA
Pastor Laurensius Dihe, S.Ag.,M.Th.,M.Hum. - Rohaniwan Keuskupan Pangkalpinang 

PERAYAAN Paskah tahun 2022 masih berlangsung di tengah era pandemi. Meski demikian, suasananya tidak 'segarang' seperti dua tahun sebelumnya. Untuk tahun ini sudah banyak kelonggaran dari pihak pemerintah yang kita terima. Dan lebih menarik lagi adalah kita saat ini (cenderung lebih cocok) disebut sedang berada dan bergerak dari masa pandemi menuju endemi. Agar masa transisi ini disambut dengan suatu kepercayaan, maka kita dituntut untuk mengubah mindset .

Sudah banyak tokoh psikologi yang mendefinisikan mindset. Menurut Dweck, terdapat dua macam mindset. Pertama, mindset berkembang (growth mindset) yaitu mindset yang mendasarkan pada kepercayaan bahwa kualitas dasar seseorang dapat diolah, berubah, dan berkembang melalui perlakuan, pengalaman, dan upaya-upaya tertentu. Seseorang yang menganut mazhab ini tentunya beranggapan bahwa mindset itu seperti otot yang bisa dibentuk sesuai keinginan seseorang.

Kedua, mindset tetap (fixed mindset), didasarkan pada kepercayaan bahwa kualitas-kualitas seseorang sudah ditetapkan. Pada dasarnya penganut mazhab ini berada dalam zona kepasrahan.

Di masa pandemi ini, untuk menghadapi Covid-19, kita tidak hanya menjaga kesehatan fisik, tetapi juga pola pikir. Karena pola pikir memengaruhi pola tingkah laku kita. Bahkan menurut teori growth mindset, pola pikir kita bisa diubah. Oleh sebab itu, kita perlu melihat bagaimana kekuatan mindset di masa pandemi ini.

Satu, kekuatan mindset dalam merespons kebijakan. Mindset yang terbentuk di tengah masyarakat masih terbagi dalam beberapa bagian. Ada yang berpikiran bahwa Covid-19 itu tidak ada, Covid-19 itu ada tetapi biasa saja, Covid-19 itu ada dan sangat berbahaya, Covid-19 itu ada karena saudara, teman, atau keluarganya pernah positif. Tentu saja perbedaan mindset tentang Covid-19 memengaruhi perilaku dan tanggapan atas seluruh kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah.

Dua, kekuatan mindset menangkal informasi hoaks. Jika mindset bisa memengaruhi perilaku seseorang, seharusnya mindset juga bisa membuat seseorang kebal terhadap isu hoaks pandemi. Isu hoaks pandemi ini sangat berbahaya karena bisa menimbulkan kecemasan (anxiety). Kecemasan yang berlebihan bisa meningkatkan mekanisme pertahanan ego, hingga pada akhirnya menolak sebagian besar atau keseluruhan hal yang berbeda dengan pandangannya. Di masa transisi ini tentu banyak sekali berita atau informasi hoaks yang menyebar di kalangan masyarakat. Jika mindset seseorang tidak kuat, bisa saja berita tersebut dengan mudahnya meruntuhkan penerimaan kebijakan transisi.

Tiga, mindset memberi motivasi yang kuat untuk bangkit. Mindset memiliki kekuatan besar yang tersembunyi. Hal ini harus disosialisasikan kepada masyarakat luas untuk meningkatkan kepercayaan diri dan terus melaksanakan anjuran untuk bangkit dalam menyukseskan masa transisi pandemi menuju endemi. Kekuatan mindset sangat membantu seseorang untuk tetap optimis di masa transisi ini.

Paskah: Harus Mengubah Mindset

Perayaan Paskah menjadi begitu penting dalam teologi orang Kristen. Paskah (Easter) adalah salah satu perayaan religi Kristen yang penting, yang merupakan puncak iman orang Kristen. Mengapa demikian? Alasan yang biasa dikemukakan adalah bahwa lahir itu hal yang biasa.

Hidup - sakit dan mati adalah hal yang biasa, tetapi BANGKIT adalah hal yang LUAR BIASA. Injil Yohanes yang menyatakan bahwa kematian Kristus terjadi pada saat penyembelihan domba Paskah (Yoh13:1; 18:28,39; 19:140) menjadi salah satu alasan teologis untuk menghubungkan Passover dan Easter.

Bukan Rutinitas

Perayaan Paskah yang dilaksanakan setiap tahun pada dasarnya bukanlah sekadar rutinitas gerejawi. Perayaan itu justru memiliki arti yang sangat penting. Beberapa hal yang dapat dicatat sebagai makna dari kebangkitan Yesus.

Pertama, kebangkitan Yesus membuktikan bahwa Ia adalah Allah yang berkuasa atas maut. Alkitab memberikan bukti bahwa pagi-pagi benar ketika fajar menyingsing pada hari pertama minggu itu para wanita yang menengok kubur Yesus mengalami (Matius 28:1-2), gempa bumi yang hebat dan malaikat Tuhan datang menggulingkan batu yang ada di kubur Yesus. Sejak peristiwa itu dari mulut ke mulut terdengar berita bahwa Yesus hidup dan bagkit. Dari peristiwa ini kita bisa menarik makna yang sangat penting bahwa Yesus adalah Allah yang tidak dapat dikekang oleh maut. Ia adalah Allah yang berkuasa atas kuasa maut.

Kedua, kebangkitan Yesus membuktikan bahwa janji-Nya tidak pernah gagal atau diingkari. Sebelum Yesus mati di kayu salib dan dikuburkan, Dia telah memberitahukan kepada para murid- Nya bahwa Ia akan diserahkan ke tangan orang berdosa dan akan mati, namun pada hari yang ketiga akan dibangkitkan (Lukas 24:7). Peristiwa Paskah adalah pembuktian janji Tuhan bagi semua umat manusia. Di samping itu, kebangkitan-Nya merupakan peneguhan dari janji-Nya. Kristus bangkit dari kematian untuk menggenapi firman Tuhan, sejalan dengan itu Alkitab dalam (1 Kor. 15:13-17) menjelaskan bahwa kebangkitan Yesus adalah penggenapan janji kehidupan yang kekal.

Ketiga, Paskah menunjukkan adanya pengharapan bagi orang percaya. Dengan kebangkitan Yesus dari kematian, maka sesuai dengan (1 Kor. 15:13-19) kita dianugerahi hidup kekal. Kita bisa berpikir secara logis dalam hal ini, jika Sang Pemberi Hidup tetap dalam kubur, bagaimana mungkin kita akan mendapatkan hidup kekal? Namun, syukur kepada Yesus Kristus yang mengalahkan kuasa dosa dan maut sehingga kita menerima hidup kekal. Paulus menekankan pentingnya peristiwa kebangkitan Yesus dalam iman Kristen. Orang-orang yang percaya kepada Tuhan selalu bertumpu pada iman dan pengharapan. Jadi dengan peristiwa Paskah, iman dan harapan kita makin diteguhkan.

Sumber: bangkapos
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved