Senin, 13 April 2026

Tribunners

RA Kartini dan Pendidikan Wanita Indonesia

Perempuan sekarang telah menjadi Kartini jaman now, faktanya menunjukkan bahwa perempuan memiliki peran-peran dalam berbagai sektor kehidupan

Editor: suhendri
ISTIMEWA
Muhammad Arifin Saddoen, M.Pd. - Kepala Sekolah Alam Pangkalpinang (SAPKA) 

KARTINI yang memiliki nama lengkap Raden Adjeng Kartini Djojo Adhiningrat atau dikenal dengan sebutan Raden Ajeng Kartini merupakan tokoh perempuan pertama yang mencetus perkumpulan dan memajukan pendidikan perempuan pribumi atau Nusantara. RA Kartini tergugah jiwa dan raganya untuk dapat bermanfaat dan menolong kaum sesamanya yang tertindas dan tertinggal di masa itu. Beliau tidak mau lagi melihat perempuan-perempuan Indonesia terkekang untuk belajar, berkarya, dan bersosial dalam bermasyarakat, berbangsa maupun bernegara.

Kartini yang lahir pada 21 April 1879. Ia dibesarkan dan dididik dalam keluarga bangsawan Jawa. Hal ini membuat Kartini harus patuh terhadap aturan-aturan Jawa yang kala itu perempuan memiliki tata krama dalam segala hal. Cara duduk yang diatur dalam adat Jawa. Bahkan, perempuan bangsawan pun harus keluar dari sekolah ketika mereka datang bulan pertama kali.

Setelah mengalami menstruasi, perempuan-perempuan di zaman dahulu harus dipingit dan hanya tinggal di rumah, menunggu bangsawan lain datang dan melamarnya, apakah itu sebagai istri pertama, kedua, ketiga, atau keempat. Kartini pun tak luput dari praktik nyata untuk perempuan pada masanya. Di usia 12 tahun, ia dipingit, dikurung di dalam rumah.

Kondisi perempuan pada abad ke-20 saat itu tergambar melalui surat yang ditulis oleh salah satu pejuang wanita, RA Kartini pada 25 Mei 1889 untuk Stella Zeehandelaar, seorang gadis Belanda. Dalam surat itu Kartini mengatakan bahwa gadis-gadis Indonesia saat itu masih terikat oleh adat istiadat lama dan hanya sedikit memperoleh kebahagiaan dari kemajuan pengajaran.

Memang, tak bisa kita mungkiri, maju mundurnya sebuah masyarakat dan bangsa negara ikut ditentukan oleh kaum perempuan. Sebuah hadis menyebutkan bahwa perempuan itu tiangnya negara. Kita pun mengenal ungkapan bahwa ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya. Pepatah bangsa Afrika menyatakan bahwa jika kita mendidik seorang laki-laki, kita cuma mendidik individu. Tetapi, jika kita mendidik seorang perempuan, maka kita sesungguhnya mendidik segenap masyarakat, mendidik segenap bangsa.

RA Kartini begitu memahami pentingnya membangun pendidikan wanita Indonesia untuk Indonesia lebih baik. Dengan demikian, sepantasnya kita bahagia dalam memperingati Hari Kartini setiap tanggal 21 April dengan melanjutkan perjuangan pendidikan perempuan di negeri pertiwi.

Istri Bupati Rembang, Raden Adipati Djojodiningrat ini tidak menyerah dengan kondisi yang menghambat dirinya dalam memperjuangkan hak-hak kaum wanita Indonesia. Beliau merasakan pemikirannya terus berkembang. Bersyukurnya, ia memiliki sahabat pena, Nyonya Abendanon.

Kartini dan Abendanon sering kali membahas tentang hak-hak perempuan. Dalam kutipan buku biografinya, Kartini pernah berkata, "Nyonya yang sudah lama di Jawa ini tentu sudah mengetahui bagaimana keadaan perkawinan dalam masyarakat kami. Maka kami gembira sekali bahwa suami Nyonya akan memberikan pendidikan kepada gadis-gadis kami. Namun di samping itu perlu juga diberikan pendidikan kejuruan, barulah karunia yang suami Nyonya berikan itu menjadi karunia penuh."

Jelas sekali, dalam percakapan tersebut Kartini mengungkapkan perlunya pendidikan kejuruan. Di zaman itu, Kartini sudah berpikir untuk membangun sebuah pendidikan yang lebih spesifik yakni kejuruan (vocational education). Kalau sekarang bisa kita lihat banyak sekolah kejuruan seperti SMK/MAK atau lembaga kursus suatu bidang tertentu, antara lain, menjahit, bahasa Inggris, atau bahkan kursus bidang otomotif.

Dengan semua inilah, Raden Ajeng Kartini dalam membantu pendidikan wanita Indonesia, harus membuka sekolah kecil yang mengajarkan tentang baca tulis, kerajinan tangan, dan memasak bagi kaumnya. Kartini memiliki keinginan untuk melakukan pengajaran kepada para gadis, wanita Indonesia agar mereka bisa mandiri dan berdikari untuk bekal berkehidupan dan bertujuan untuk mencetak individu yang punya kecerdasan akal dan budi pekerti.

Usaha dan ikhtiar pertama yang ia lakukan ialah dengan mendirikan sebuah kelas kecil bagi para gadis yang diselenggarakan empat kali seminggu. Para wanita Indonesia itu mendapatkan pelajaran tentang membaca, menulis, kerajinan tangan, masak, dan menjahit sesuai dengan isi suratnya pada Nyonya Abendanon.

Saat ini, generasi setelah Kartini lahir, kondisi perempuan Indonesia memang sudah jauh lebih baik. Perempuan Indonesia telah bergerak membebaskan diri dari batasan yang menyekat diri dan potensi yang dimilikinya.

Perempuan Indonesia dapat memiliki pendidikan yang baik dan bahkan tinggi, mereka dapat bekerja sesuai dengan keahlian. Mereka dapat melakukan kegiatan yang memberi arti pada lingkungan mereka, mereka memiliki peran dalam berbagai aspek kehidupan. Walaupun tetap diakui, kesempatan ini masih memiliki batas tertentu dan belum menjangkau seluruh perempuan Indonesia.

Perempuan telah memiliki makna atas perannya sebagai manusia dalam kehidupan. Membatasinya dalam ruang gerak yang sempit, berdasarkan fakta sejarah, tak menciutkan keberaniannya untuk berjuang memperoleh kesempatan hidup secara benar dan layak. Pembatasan akan membuat atas diri mereka terus bergerak mencari pembebasan.

Perempuan sekarang telah menjadi Kartini jaman now, faktanya menunjukkan bahwa perempuan memiliki peran-peran dalam berbagai sektor kehidupan. Di dalam bidang kewirausahaan, contohnya, perempuan telah membuktikan kepiawaiannya untuk mendorong perekonomian negara dan menguatkan perekonomian rumah tangga, walau masih banyak berskala mikro, kecil dan menengah.

Sumber: bangkapos
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved